"Banyak laporan yang datang ke OJK Malang ada surat tahu-tahu minta agar pinjaman saya hanya membayar pokok saja atau dengan berbagai alasan tidak mau membayar bunga," keluhnya.
Ia menjelaskan bahwa proses restrukturisasi wajib melibatkan pertemuan langsung antara pihak bank dan nasabah untuk verifikasi kondisi usaha.
"Proses restrukturisasi harus ketemu dengan nasabah langsung. Harus dicek, harus dilihat usahanya. Kalau cuma surat saja ya sama lembaga keuangan tidak ada artinya banyak. Nanti bank akan ngecek dulu. Misalnya angsurannya Rp 500.000 menjadi Rp 200.000, atau jangka diperpanjang, itu bisa. Tapi setelah banknya melihat langsung kondisinya memang usahanya turun," ungkapnya.
Farid juga menjelaskan, tingginya penyaluran kredit dari total Rp 109,64 triliun ini didominasi oleh kredit modal kerja. Hal ini, menurutnya, menjadi sinyal positif bahwa banyak masyarakat mengakses perbankan untuk meningkatkan usaha mereka.
"Sebagian besar itu kredit modal kerja. Jadi akan membantu pertumbuhan ekonomi lah di wilayah kerja OJK Malang," tambahnya.
Mengenai tren pertumbuhan penyaluran kredit, Farid menilai angkanya relatif stabil.
"Kalau saya melihatnya itu relatif stabil ya. Kalaupun turun ya turun dikit gitu loh, nol koma sekian persen lah. Enggak sampai terlalu signifikan," jelasnya.
Baca juga: Soroti Perpres Ojol, Maxim Dorong Pengemudi Diakui sebagai Pelaku UMKM
"Intinya kalau pertumbuhan kreditnya masih bagus, berarti kan pengembangan ekonomi di masyarakat terus tumbuh," lanjutnya.
Sementara itu, saat disinggung mengenai kaitan pertumbuhan kredit dengan gelontoran dana Rp 200 miliar yang telah diupayakan Menteri Keuangan, Purbaya beberapa waktu lalu kepada Himpunan Bank Milik Negara (Himbara), Farid menyebut ada kemungkinan dampak positif.
"Secara tidak langsung iya ya, kemungkinan akan ada. Karena itu kan diberikan ke Himbara (pusat), nanti akan sebagian disalurkan ke kantor wilayah. Sebagian mungkin juga ada yang di wilayah kantor OJK Malang, cuman angkanya berapa kita tidak bisa ketahuan," katanya.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarangArtikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya