Editor
KOMPAS.com - Sebanyak 25 petani di Desa Jayamekar, Kec. Pakenjeng, Kabupaten Garut, Jawa Barat, mendapat pelatihan pemanfaatan pupuk hayati dari tim Dosen Pulang Kampung (Dospulkam) IPB University 2026 pada 27-29 Agustus 2026.
Pelatihan tersebut berfokus pada pemanfaatan pupuk hayati untuk mendukung produktivitas dan kualitas tanaman serta buah. Kegiatan mencakup diskusi mengenai praktik pemupukan yang selama ini dilakukan petani hingga praktik pembuatan dan penggunaan pupuk organik cair di lahan.
Dua dosen IPB University, Adi Hadianto dan Endang Gunawan, menjadi narasumber dalam kegiatan yang mengangkat tema "Implementasi Pupuk Hayati Unggulan IPB untuk Peningkatan Produktivitas dan Kualitas Bibit Tanaman dan Buah" tersebut.
Baca juga: Petani Ngawi Panen 3 Kali Setahun, Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen
Adi mengatakan, keberhasilan budidaya tanaman tidak hanya ditentukan oleh kualitas bibit. Perawatan setelah penanaman, termasuk pemupukan, turut menentukan pertumbuhan dan produktivitas tanaman.
“Bibit yang berkualitas tetap membutuhkan perawatan yang tepat. Jika pemupukan dilakukan sesuai dengan kebutuhan tanaman, peluang keberhasilan pertumbuhan dan hasil panennya akan semakin tinggi,” kata Adi.
Menurut dia, petani perlu memahami jenis pupuk, waktu pemberian, serta cara pengaplikasiannya. Pemahaman terhadap ketiga aspek tersebut diperlukan agar pemupukan dapat dilakukan sesuai dengan kondisi tanaman.
Dalam pelatihan tersebut, petani juga diperkenalkan pada pemanfaatan pupuk yang didasarkan pada hasil riset dan perkembangan ilmu pengetahuan. Pengetahuan itu diharapkan dapat membantu petani menentukan praktik pemupukan secara lebih tepat.
Endang menambahkan, dosis pupuk perlu diperhatikan sejak tahap pencampuran hingga pengaplikasian di lahan. Kebutuhan nutrisi tidak selalu sama karena dipengaruhi jenis dan umur tanaman.
“Dosis saat pencampuran dan pengaplikasian pupuk tidak bisa disamaratakan. Tanaman yang masih muda memiliki kebutuhan berbeda dengan tanaman yang sudah memasuki fase produktif,” ujar Endang.
Ia mengatakan, penggunaan dosis yang sesuai dapat membantu tanaman menyerap unsur hara secara optimal. Sebaliknya, pemberian pupuk yang tidak sesuai dapat menghambat pertumbuhan tanaman dan mengurangi efektivitas pemupukan.
Karena itu, petani perlu mempertimbangkan kondisi tanaman sebelum menentukan dosis maupun metode pemberian pupuk.
Salah seorang peserta pelatihan, Asep, mengatakan materi yang diberikan dapat langsung diterapkan dalam kegiatan budidaya. Menurut dia, peserta tidak hanya mendapatkan penjelasan mengenai pembuatan pupuk, tetapi juga cara menentukan dosis dan mengaplikasikannya berdasarkan umur tanaman.
Baca juga: IPB Kembangkan Pupuk Bokashi dari Limbah Rumput Laut dan Jeroan Ikan
“Kegiatan ini sangat bermanfaat bagi kami. Sekarang kami lebih memahami cara membuat pupuk, menentukan dosis, dan mengaplikasikannya sesuai dengan umur tanaman,” kata Asep.
Ia berharap pengetahuan yang diperoleh dapat membantu petani memperbaiki pola perawatan tanaman dan mendukung peningkatan hasil panen.
Kegiatan Dospulkam di Desa Jayamekar juga menjadi bagian dari upaya mempertemukan pengetahuan dari perguruan tinggi dengan kebutuhan petani di lapangan. Melalui pelatihan tersebut, hasil riset dan pengetahuan terkait pemupukan diperkenalkan untuk mendukung praktik budidaya di tingkat petani.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.