Editor
BOGOR, KOMPAS.com – IPB University memperkuat upaya hilirisasi hasil riset melalui program inkubasi bisnis PRIME Science Techno Park (STP) 2026.
Sebanyak 49 startup berbasis inovasi mengikuti program inkubasi yang dirancang untuk membantu hasil penelitian berkembang menjadi bisnis yang berdaya saing dan memberi dampak ekonomi.
Program yang dikelola Lembaga Pengembangan Agromaritim dan Akselerasi Innopreneurship (LPA2I) IPB tersebut diawali dengan penandatanganan Surat Perjanjian Kerja (SPK) bagi hasil sekaligus pembukaan Bootcamp Startup bertajuk Build Impactful Business, Senin (20/7).
Baca juga: Tak Takut Gelembung Pecah, Jeff Bezos Borong 5 Startup AI Sekaligus
Rektor IPB University Alim Setiawan Slamet mengatakan perguruan tinggi tidak cukup hanya menghasilkan riset, tetapi juga perlu memastikan inovasi yang lahir dapat dimanfaatkan oleh masyarakat dan dunia usaha.
Menurut dia, program inkubasi dirancang sebagai ekosistem pendampingan jangka panjang agar startup tidak berhenti setelah mengikuti pelatihan, tetapi mampu berkembang menjadi perusahaan yang berkelanjutan.
"Melalui PRIME STeP, kami ingin membangun ekosistem inkubasi bisnis yang berkelanjutan. Program ini tidak berhenti pada pelatihan atau pendampingan semata, tetapi mendorong hasil riset dan inovasi kampus agar dapat dihilirisasi, dikomersialisasi, serta memberikan dampak nyata bagi masyarakat dan dunia industri," ujar Alim akhir pekan lalu.
Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Fauzan Adziman mengatakan membangun startup merupakan proses jangka panjang yang membutuhkan kemampuan beradaptasi, kolaborasi, dan ketekunan.
Ia menilai keberhasilan perusahaan rintisan tidak hanya ditentukan oleh kualitas teknologi, tetapi juga kemampuan para pendirinya membangun model bisnis dan jejaring yang mampu menarik investasi.
"Impact tidak dapat dibangun dalam semalam. Startup harus bertumbuh selangkah demi selangkah, memperkuat ekosistem, membuka kolaborasi, dan menyiapkan diri agar mampu menarik investasi untuk menciptakan dampak yang lebih luas," kata Fauzan.
Senada, Project Manager PRIME STeP Asian Development Bank (ADB), Theresia Sembiring, mengatakan keberhasilan riset tidak berhenti pada publikasi ilmiah.
Menurut dia, hasil penelitian baru memberikan nilai ketika mampu menjawab kebutuhan masyarakat sekaligus menciptakan peluang ekonomi.
"Keberhasilan riset tidak berhenti pada publikasi. Keberhasilan yang sesungguhnya adalah ketika hasil riset mampu memberikan manfaat bagi masyarakat, menciptakan nilai tambah, dan membuka peluang ekonomi, salah satunya melalui pengembangan startup," ujarnya.
Selama dua hari pelaksanaan bootcamp, para peserta memperoleh pembekalan mengenai kepemimpinan, strategi bisnis, pemasaran, penyusunan pitch deck, transformasi organisasi, hingga tata kelola dan pelaporan keuangan.
Baca juga: IPB University Kucurkan Hibah untuk Akselerasi Startup dan Hilirisasi Riset
Program tersebut juga menjadi ruang bagi startup untuk membangun jejaring dengan mentor, praktisi industri, serta calon mitra dalam mengembangkan model bisnis yang lebih matang.
Setelah pembukaan bootcamp, Fauzan bersama Rektor IPB meninjau berbagai inovasi yang dipamerkan oleh startup peserta inkubasi.
Melalui PRIME STeP 2026, IPB berharap startup binaannya mampu mempercepat hilirisasi inovasi kampus sekaligus membangun perusahaan berbasis teknologi yang memiliki model bisnis berkelanjutan dan memberikan dampak bagi perekonomian nasional.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang