Editor
JAKARTA, KOMPAS.com - Bagi sebagian besar pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Indonesia, menembus pasar internasional sering kali terasa seperti mimpi yang terlampau tinggi.
Langkah pelaku usaha tersebut kerap terbentur oleh rumitnya birokrasi, kendala bahasa, hingga terbatasnya pemahaman terhadap peta kompetisi global.
Di tengah tantangan tersebut, seorang alumnus Hubungan Internasional Universitas Gadjah Mada (UGM), Assed Lussak, coba hadir dengan membawa semangat baru bagi UMKM lokal dengan mendirikan perusahaan konsultan Next Step.
Baginya, ada ruang besar yang belum dimanfaatkan secara optimal oleh para pelaku usaha di dalam negeri untuk bisa menembus pasar ekspor, terutama ke Tiongkok. Karenanya, dia bermimpi bisa melakukan mobilisasi UMKM lokal melakukan “serangan balik” ke pasar negara tersebut.
Baca juga: DPR Ingatkan Ekspor Listrik ke Singapura Jangan Sampai Rugikan Indonesia
“Saya melihat ada potensi raksasa yang belum tergarap optimal oleh para pelaku usaha lokal karena kurangnya keberanian serta minimnya akses informasi untuk melangkah keluar dari zona nyaman pasar domestik,” ujarnya dalam siaran pers Tanoto Foundation, dikutip Rabu (8/7/2026).
Di sinilah Next Step coba menjalankan peran. Selain membantu para trader di Indonesia memperoleh barang dari Tiongkok, mantan penerima beasiswa Tanoto Foundation itu juga menjalankan peran sebagai fasilitator bagi UMKM Indonesia yang ingin mengeksplorasi pasar negara tersebut yang memang sangat potensial karena negara ini punya penduduk 1,4 miliar jiwa.
Untuk merealisasikannya, Next Step menempuh sejumlah strategi. Di tahap awal, perusahaan konsultan besutannya ini melakukan pendampingan, yang dilanjutkan dengan business matching lewat penyediaan informasi pasar yang bisa digarap oleh UMKM Indonesia.
Pada saat yang sama, Assed juga terlibat secara aktif melakukan kurasi atas produk-produk potensial khas Indonesia untuk bersaing di Tiongkok. Produk yang dimaksud di antaranya komoditas, furnitur, hingga industri kreatif lokal .
“Kami melakukan pendampingan ini mulai dari tahap pengenalan pasar, analisis potensi produk, hingga peninjauan dokumen kerja sama legal seperti Letter of Agreement (LOA) dan Letter of Intent (LOI),” lanjut Assed.
Meski jumlah UMKM lokal yang berhasil dimobilisasi belum masif, namun langkah kecil tersebut perlahan-lahan mampu membuka mata pelaku usaha lokal mau melirik market di Negeri Tirai Bambu.
Hingga saat ini, tak kurang dari 10 pelaku usaha skala menengah dari Indonesia yang telah berhasil difasilitasi dengan nilai transaksi masing-masing pelaku bisnis yang difasilitasi tersebut mencapai di atas Rp 1 miliar per bulan.
Baca juga: Digitalisasi Kawasan Berikat Jadi Fokus Industri Manufaktur Ekspor
Melalui langkah tersebut, Assed ingin membuktikan bahwa UMKM Indonesia pun bisa melakukan ekspor ke negara yang selama ini produk impornya membanjiri pasaran nasional.
Demi menyukseskan misi besar tersebut, Next Step bahkan mendirikan kantor perwakilan resmi di Shanghai. Langkah berani ini diambil untuk memastikan bahwa UMKM Indonesia memiliki jangkar dan representasi yang kuat di jantung perekonomian Tiongkok.
Bagi Assed, konektivitas Indonesia dan Tiongkok tidak hanya soal barang atau transaksi dagang. Dalam perjalanannya mendampingi pelaku usaha, ia juga melihat bahwa akses terhadap pengalaman global perlu dibuka lebih luas, terutama bagi generasi muda Indonesia. Dari sinilah Next Step kemudian mengembangkan layanan di bidang pendidikan.
Karena itulah, Next Step melebarkan sayapnya sebagai konsultan pendidikan end-to-end yang secara khusus memperkenalkan dan memfasilitasi mahasiswa Indonesia untuk melanjutkan studi di berbagai kampus terbaik di Tiongkok, baik untuk jenjang S1, S2, maupun S3, di antaranya Beijing Institute of Technology, Tianjin University, Beijing Language and Cultural University, dan lainnya.