Editor
JAKARTA, KOMPAS.com - Cyberport, komunitas rintisan di bawah manajemen Pemerintah Hong Kong, memperkuat kerja sama dengan berbagai institusi di Indonesia untuk mendorong memperkuat peran startups terhadap perekonomian.
Head of Industry Partnership Hong Kong Cyberport, Henry Li menyatakan kolaborasi yang dilakukan meliputi lembaga pendidikan tinggi, swasta, serta pemerintah daerah.
"Kami undang juga perusahaan-perusahaan rintisan dari Indonesia untuk datang ke Hong Kong termasuk untuk menjajaki pasar China. Kami di Cyberport siap support perusahaan-perusahaan dari Indonesia untuk masuk ke China," jelas dia pekan lalu.
Baca juga: Startup China Bikin Model AI yang Beda dari OpenAI dan Google Gemini
Salah satu kerja sama yang dilakukan oleh Cyberport adalah dengan Telkom University. Dalam kolaborasi ini, Cyberport mencoba mempertemukan ekosistem inovasi dari Indonesia dan Hong Kong melalui interaksi antara perusahaan teknologi global, akademisi, serta pusat riset unggulan yang berada di lingkungan Tel-U.
Kerja sama tersebut ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara Cyberport dengan Telkom University.
Sementara itu Direktur Promosi Wilayah Asia Timur, Asia Selatan, Timur Tengah dan Afrika Kementerian Investasi/BKPM Cahyo Purnomo menyatakan hadirnya Cyberport ini diharapkan bisa memperkuat digital talent Indonesia.
"Ada banyak perusahaan digital di China, dan kerja sama ini diharapkan bisa mewadahi kolaborasi digital talent kita untuk bisa berkolaborasi dengan perusahaan-perusahaan besar yang berbasis di China," jelas dia.
Di sisi lain, pemerintah juga menyiapkan insentif khusus untuk investasi di sektor digital. Salah satunya adalah cloud computing.
"Salah satunya tax holiday yang tentu ada nilai investasi minimalnya. Ini kebijakan pemerintah untuk dorong investasi di teknologi dan diharapkan Indonesia bisa menjadi tujuan investasi terutama untuk data center," lanjut dia.
Dennis Tedja, Hong Kong Cyberport Ambassador for Indonesia sekaligus CEO Opus Solutions Limited Hong Kong, mengatakan hubungan Hong Kong dan Indonesia kini memasuki fase baru dari sekadar kemitraan perdagangan menjadi kolaborasi inovasi.
“Hong Kong dan Indonesia telah menjadi mitra dagang selama puluhan tahun. Minggu ini, kami melangkah lebih jauh dengan menjadi mitra inovasi,” ujar Dennis.
Ia menyebut pertemuan yang berlangsung selama empat hari itu melibatkan 128 peserta dari 80 organisasi serta menghasilkan enam kesepakatan kerja sama.
“Sebanyak 128 orang dari 80 organisasi, dengan enam kesepakatan yang ditandatangani dalam empat hari. Inilah yang saya sebut diplomasi teknologi yang benar-benar berjalan,” katanya.
Baca juga: Startup Ekonomi Sirkular Ciptakan Peluang di Pasar yang Sulit Ditembus
Dennis menegaskan bahwa kolaborasi tersebut tidak semata-mata bertujuan untuk membawa teknologi dari Hong Kong ke Indonesia, melainkan membangun ekosistem teknologi secara bersama.
“Kami tidak datang ke Indonesia untuk menjual teknologi. Kami datang untuk membangunnya bersama,” ujarnya.
Menurut dia, masa depan ekonomi digital Asia akan terbentuk melalui kolaborasi antar kota, bukan hanya oleh satu pusat teknologi.
“Masa depan ekonomi digital Asia tidak akan dibangun oleh satu kota saja, tetapi oleh kerja sama antar kota. Hong Kong dan Jakarta baru saja mengambil langkah nyata pertama ke arah itu,” tutur Dennis.
Ia juga mengungkapkan bahwa kolaborasi ini merupakan hasil dari upaya yang telah ia bangun selama beberapa tahun terakhir untuk menjembatani ekosistem teknologi Hong Kong dan Indonesia.
“Saya telah menghabiskan bertahun-tahun membangun jembatan ini. Minggu lalu, konvoi pertama akhirnya melintasinya,” kata Dennis.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang