Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Budi Daya Maggot, Paiman Berhasil Raup Omzet Puluhan Juta Per Bulan

Kompas.com, 21 Mei 2025, 12:34 WIB
Eriana Widya Astuti,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

LAMPUNG, KOMPAS.com — Paiman (42), seorang warga di Desa Desa Karang Anyar, Kecamatan Jati Agung, Kabupaten Lampung Selatan, Paiman (42) berhasil meningkatkan kesejahteraan keluarga dan warga sekitar seiring dengan keberhasilan budi daya maggot. 

Langkah Paiman menjalankan budi daya maggot tersebut berangkat dari keprihatinannya terhadap sampah organik yang banyak ditemui di sekitar rumahnya.

Di sisi lain, ada banyak peternak ayam dan lele yang membutuhkan pakan ternak bernutrisi, serta pehobi memancing untuk umpan.

Dari situ, dia mengawali usahanya budi daya maggot dari kotak kecil seukuran nampan di dapur rumah.

Baca juga: Di Lampung, Maggot Mampu Kurangi Sampah Organik hingga 1 Ton

Langkah ini ia lakukan sebagai sarana mengolah sampah organik rumah tangga, sekaligus menjadi solusi memperbaiki perekonomian keluarga.

Maggot hasil budi daya awalnya ia jual sebagai pakan burung, umpan mancing, serta digunakan sebagai pakan lele yang juga ia ternakkan.

“Ternak lele kecil yang diberi pakan maggot dapat dipanen satu hingga dua bulan lebih cepat dibandingkan dengan yang hanya diberi makan pur atau cacing,” jelas Paiman saat ditemui di kediamannya sekaligus tempat budi daya maggot dalam acara Jurnalis Press Touring: Kurban Se-Ngaruh Itu yang digelar Dompet Dhuafa, Selasa (21/5/2025).

Ia menjelaskan bahwa harga jual maggot cukup bervariasi tergantung jenis dan bentuknya.

Untuk telur maggot, yang biasa digunakan sebagai bibit budi daya rumahan, dijual sekitar Rp 2.500-Rp 4.000 per gram.

Sementara maggot basah—yang biasa dijadikan pakan burung atau umpan pancing—berkisar Rp 8.000 hingga Rp 10.000 per kg. Sedangkan maggot kering yang telah menjadi prepupa yang biasa digunakan untuk pakan ikan, bisa mencapai harga Rp 30.000 per kg.

Baca juga: Garudafood Luncurkan Program Biokonversi Maggot untuk Pengolahan Sampah Berkelanjutan di Depok

“Pembelian ini rutin dilakukan, karena kan setiap hari pasti ada yang mancing, burung-burung mereka juga setiap hari harus makan,” ujar Paiman.

Jika tidak ada pembeli, maggot tidak terbuang sia-sia. Paiman akan kembali menggunakannya untuk pakan lele.

Atasi Keterbatasan Modal

Meski menjanjikan, Paiman menghadapi keterbatasan modal untuk pengembangan bisnis. Namun, dia berhasil mengatasi persoalan itu ketika mendapat bantuan dari program pemberdayaan dan pendampingan maggotin dari Dompet Dhuafa pada tahun 2023.

Program tersebut memberikan dukungan permodalan kepada pelaku budi daya maggot, sehingga Paiman dapat memperluas dan meningkatkan kapasitas produksi.

Hasilnya, dari yang sebelumnya hanya membudidayakan maggot di dapur rumah, kini Paiman memiliki kandang maggot sendiri dengan kapasitas 24 biopon. Setiap biopon mampu menampung sekitar 15 kilogram maggot muda.

Halaman:

Terkini Lainnya
Dapat Bantuan Alat Modern, Perajin Patung dan Miniatur di Kota Malang Kebanjiran Pesanan
Dapat Bantuan Alat Modern, Perajin Patung dan Miniatur di Kota Malang Kebanjiran Pesanan
Program
LPDB Salurkan Pembiayaan ke KDKMP Sidomulyo Jember untuk Dukung Ekspor Kopi
LPDB Salurkan Pembiayaan ke KDKMP Sidomulyo Jember untuk Dukung Ekspor Kopi
Program
Kisah Para Penjual Makanan di Kawasan Industri Nikel Weda, Sehari Bisa Raup Omzet Rp 10 Juta
Kisah Para Penjual Makanan di Kawasan Industri Nikel Weda, Sehari Bisa Raup Omzet Rp 10 Juta
Jagoan Lokal
Penyaluran Kredit di 7 Wilayah Jatim Tumbuh 8,41 Persen, Malang Raya Didominasi Pelaku UMKM
Penyaluran Kredit di 7 Wilayah Jatim Tumbuh 8,41 Persen, Malang Raya Didominasi Pelaku UMKM
Training
Kementerian UMKM Fasilitasi Legalitas dan Pembiayaan kepada 1.000 Usaha Mikro di NTT
Kementerian UMKM Fasilitasi Legalitas dan Pembiayaan kepada 1.000 Usaha Mikro di NTT
Program
Pertamina Boyong 45 UMKM Binaan ke Trade Expo Indonesia 2025
Pertamina Boyong 45 UMKM Binaan ke Trade Expo Indonesia 2025
Program
Penjualan Stagnan, Puluhan UMKM di Kota Malang Dibekali Jurus Pemasaran Digital
Penjualan Stagnan, Puluhan UMKM di Kota Malang Dibekali Jurus Pemasaran Digital
Training
Tanpa Dirigen, Orkestra UMKM Hanya Riuh Tanpa Irama
Tanpa Dirigen, Orkestra UMKM Hanya Riuh Tanpa Irama
Program
Pedagang Mengeluh Soal QRIS, Diskopindag Kota Malang Akui Tak Bisa Paksa
Pedagang Mengeluh Soal QRIS, Diskopindag Kota Malang Akui Tak Bisa Paksa
Program
Indonesia Eximbank Luncurkan Buku Strategi Ekspor Jawa Tengah
Indonesia Eximbank Luncurkan Buku Strategi Ekspor Jawa Tengah
Program
Produk Sambel Uleg Hingga Pot Tanaman dari Jawa Timur Tembus Pasar Global
Produk Sambel Uleg Hingga Pot Tanaman dari Jawa Timur Tembus Pasar Global
Program
BRI Rampungkan Pelatihan bagi Pengelola 100 Desa BRILiaN
BRI Rampungkan Pelatihan bagi Pengelola 100 Desa BRILiaN
Program
BRI Peduli Bantu UMKM Raih Sertifikasi Halal
BRI Peduli Bantu UMKM Raih Sertifikasi Halal
Program
Jelang Perayaan Hari Kemerdekaan RI, Perajin Lampion di Kota Malang Kebanjiran Order
Jelang Perayaan Hari Kemerdekaan RI, Perajin Lampion di Kota Malang Kebanjiran Order
Jagoan Lokal
Indonesia Eximbank Salurkan Fasilitas Pembiayaan dan Penjaminan Ekspor ke Petro Oxo
Indonesia Eximbank Salurkan Fasilitas Pembiayaan dan Penjaminan Ekspor ke Petro Oxo
Program
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Terpopuler
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau