Paiman juga mampu memasok lebih banyak maggot ke kalangan peternak ikan dan ayam. Produksinya pun meningkat tajam—hingga 15 ton maggot per tahun.
Kini, dari penjualan maggot saja, Paiman mampu meraih omzet hingga Rp 4 juta per bulan. Sementara dari hasil panen lele yang diberi pakan maggot sekitar 2 ton dalam dua bulan (sekali panen) ia mengantongi omzet sekitar dari Rp 40 juta.
Baca juga: Mengatasi Sampah dan Meraup Cuan dari Bisnis Maggot
Pendamping program pemberdayaan maggotin Kota Lampung, Wawan Setiawan, menjelaskan bahwa awalnya program ini dirancang sebagai gerakan pengurangan sampah melalui budi daya maggot.
“Lampung ini terkenal dengan permasalahan sampahnya. Nah, kami ingin membantu pengelolaannya melalui maggot ini,” ujar Wawan pada Selasa (20/5/2025).
Menurutnya, budi daya maggot bisa menjadi solusi jangka panjang yang tidak hanya membantu pengelolaan sampah, tetapi juga berdampak ekonomi bagi masyarakat.
“Tadi kita hitung, dari 2 ton maggot bisa menjadi puluhan juta rupiah dan mengurangi sampah hingga satu ton. Program ini memberikan banyak manfaat bagi masyarakat dan lingkungan,” ujarnya.
Karena itu, Wawan menyebut pihaknya bersama Dompet Dhuafa akan terus mengembangkan program ini dan menyasar lebih banyak pelaku budi daya maggot di wilayah lain.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang