MALANG, KOMPAS.com - Jelang perayaan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia (RI) pada 17 Agustus 2025 mendatang membawa berkah tersendiri bagi perajin lampion di Kota Malang, Jawa Timur.
Ahmad Syamsudin, pemilik usaha lampion di Jalan Binor, Kecamatan Blimbing, mengaku mengalami lonjakan pesanan untuk lampion bernuansa merah putih.
Menurut Ahmad Syamsudin, permintaan lampion edisi kemerdekaan tahun ini meningkat tajam sekitar 40 hingga 50 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Baca juga: Dorong UMKM Tembus Pasar Global, Kemendag Resmikan Export Center di Balikpapan dan Batam
"Alhamdulillah, tahun ini peningkatannya sangat terasa. Pesanan yang masuk sudah mendekati 1.500 buah dari target 3.000 buah bulan ini," ujar Ahmad Syamsudin saat ditemui di bengkel kerjanya, Rabu (30/7/2025).
Saat ini, ia dan 13 pekerjanya tengah fokus menyelesaikan pesanan besar, termasuk 500 lampion untuk seorang pelanggan di Surabaya. Pesanan tidak hanya datang dari wilayah Jawa Timur, tetapi juga menjangkau luar pulau hingga ke Medan.
Pelanggan mayoritas berasal dari instansi pemerintah, perkantoran, dan panitia perayaan di tingkat kampung.
"Ya, kayak kantor, pemkot, gitu. Kadang buat kampung-kampung, gitu. Yang merah putih," katanya.
Model lampion yang paling diminati untuk memeriahkan hari kemerdekaan adalah bentuk kapsul dan bola. Harga yang ditawarkan bervariasi, mulai dari Rp 35.000 untuk lampion bola berdiameter 30 sentimeter hingga Rp 80.000 untuk model kapsul.
"Yang ini harga Rp 80.000 yang kapsul. Kalau yang bulat itu Rp 35.000 diameter 30," katanya.
Selain model reguler, Ahmad Syamsudin juga tengah proses nego dari pemesan pesanan khusus, seperti lampion berbentuk Garuda setinggi 2 meter. Lampion raksasa ini rencananya menggunakan kerangka besi dan diperkirakan berharga hingga Rp 5 juta.
Meski begitu, di tengah tingginya permintaan, Ahmad Syamsudin menghadapi tantangan kelangkaan rotan sebagai bahan baku utama.
"Kalau sekarang rotannya agak sulit, tidak seperti dulu. Jika stok di Malang kosong, kami harus mencari sampai ke Gresik," ungkapnya.
Baca juga: Pelaku UMKM di Tangsel Diminta Ikut Pelatihan Pemasaran Digital
Meski bahan baku seperti rotan, kain, dan kawat mengalami kenaikan harga, Ahmad Syamsudin mengaku hanya menaikkan harga jual lampion secara minimalis, sekitar Rp 2.000 per buah.
"Harga sudah kami tetapkan dari awal, tidak bisa tiba-tiba naik tinggi," katanya.
Usaha lampion yang dirintis keluarganya sejak tahun 2004 ini mampu memproduksi 20 hingga 50 lampion per hari.
Ahmad Syamsudin mengatakan, pihaknya akan berhenti menerima pesanan untuk edisi Hari Kemerdekaan RI pada awal Agustus mendatang, atau sekitar tanggal 10 hingga 13, untuk fokus menyelesaikan pesanan yang sudah masuk.
"Kalau kapasitas sudah tidak teratasi, kami langsung tutup pesanan. Kami tidak mau mengecewakan pelanggan," pungkasnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang