Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Pelaku UMKM Diminta Coba Ekspor ke Belanda, Dubes: Kalau Ada 1.000 Tembakan, Masa Enggak Kena Satu

Kompas.com, 16 Oktober 2022, 07:00 WIB
Gabriela Angelica,
Wahyu Adityo Prodjo

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Duta Besar Indonesia untuk Kerajaan Belanda, Mayerfas meminta para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) lokal untuk berani melakukan ekspor produk ke pasar Eropa.

Khususnya di Belanda, Mayerfas menyampaikan, penduduk Indonesia begitu banyak di sana. Jumlah diaspora Indonesia di Belanda mencapai 1,7 juta orang. Orang-orang tersebut juga merupakan pasar untuk para pelaku UMKM.

"Orang yang punya keterkaitan khusus dengan Indonesia kan itu pasar. Tidak perlu dididik lagi karena memang mereka membutuhkan barang-barang di Indonesia," ujar Mayerfas saat siaran Ngobrol Bisnis (Bronis) UMKM yang ditayangkan di media sosial Kompas.com.

Oleh karena itu, pelakudiharapkan tidak takut untuk mencoba pasar Eropa, khususnya Belanda karena pasarnya sendiri tersedia di sana.

Banyak produk baru yang bisa diekspor ke Belanda, tetapi ada juga produk yang sebenarnya sudah ada di sana. Hanya saja selama ini mereka mengambil dari negara lain. Menurut Mayerfas, pemasaran produk yang sudah ada itu pun juga termasuk peluang.

Artinya, kita bisa mengambil pasar dari negara-negara lain. Untuk saat ini, pemanfaatan peluang tersebut dinilai masih kecil persentasenya jika dibandingkan nilai impor Belanda secara keseluruhan.

Mayerfas berharap, jika pelaku UMKM bisa memanfaatkan peluang itu, orang Belanda bisa lebih mengenal kelebihan produk asal Indonesia.

"Setelah mereka kenal, oh ternyata di Indonesia juga baik, misalnya gula kelapa dan batok kelapa. Nah itu meningkat sekali permintaannya, ternyata yang Indonesia punya lebih baik dibandingkan tempat lain," tutur Mayerfas.

Mayerfas juga mengatakan adanya barang atau produk baru, seperti produk herbal yang sedang populer di pasar Belanda dan Eropa. Ia beranggapan bahwa, pasar di sana perlu dididik terlebih dulu untuk lebih beradaptasi dan pada akhirnya berminat terhadap produk baru.

"Kadang-kadang kita harus mendidik pasar dulu ya. Masuk dulu, dikenal dulu, lama-lama mereka senang. Misalnya minyak gosok, itu pasarnya bagus sekarang. Minyak kutus-kutus. Nah semacam itu populer," papar Mayerfas.

Prinsip utama yang disampaikan oleh Mayerfas adalah untuk berani melakukan ekspor terlebih dahulu.

"Ya kalau ada seribu tembakan, masa gak kena satu gitu," pungkas Mayerfas.

Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT


Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Terpopuler
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau