“Dikumpulkan dan dibangun merek. Dari sana, diseragamkan kualitasnya, kemasannya, pengurusan izin produk, sertifikasi halal, dan lain-lain yang biasanya berat dan cukup mahal untuk diurus oleh usaha kecil individu," ujar Cicik.
Selain itu, ia menyebutkan bahwa terdapat hal menarik lainnya dari program Communal Branding. Salah satunya, mendorong Kampung Produk Unggulan di 31 Kecamatan Surabaya agar turut peduli dengan kondisi masyarakat di sekitar.
Kepedulian itu ditunjukkan dengan cara menyisihkan sedikit keuntungan usaha untuk upaya perlindungan anak dan perempuan.
"Mereka menyisihkan sekitar 2,5 persen sampai 10 persen hasil penjualan dan diberikan pada Yayasan Kanker Indonesia yang menaungi anak-anak yang sedang menjalani pengobatan kanker. Langkah ini merupakan bentuk edukasi awal kepada komunitas untuk saling peduli, berbagi, dan hidup dalam harmoni,” tutur Cicik.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya