Hal yang sama juga terjadi antara konsinyator dan konsinyor. Saat barang sudah dititipkan kepada konsinyor, maka konsinyator kehilangan sebagian kontrol atas barang tersebut.
Hal ini menimbulkan risiko produk rusak akibat cara penyimpanan yang kurang tepat atau bahkan hilang dalam proses penjualan. Biasanya, perjanjian konsinyasi akan menentukan tanggung jawab atas kerusakan atau kehilangan, tetapi tetap saja risiko ini bisa menimbulkan kerugian bagi pelaku usaha.
Sistem konsinyasi membuat konsinyor hanya menerima pembayaran ketika produk terjual, sehingga arus kas bisnis menjadi tidak menentu. Jika produk tidak laku, konsinyor mungkin harus menunggu lama sebelum mendapatkan hasil penjualan.
Baca juga: Ketahui 4 Sebab Gagalnya Bisnis dengan Sistem Partnership
Tentunya ini juga akan berdampak bagi konsinyator, karena pembayaran dan penjualan melibatkan banyak pihak. Ini bisa menjadi tantangan bagi pelaku usaha yang mengandalkan pendapatan dari sistem konsinyasi untuk menutupi biaya operasional atau modal kerja lainnya.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.