Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

UMKM Payakumbuh Ini Berhasil Ekspor 1 Ton Bumbu Rendang ke Jerman

Kompas.com - 28/07/2022, 14:24 WIB
Bambang P. Jatmiko

Editor

Sumber Antara

JAKARTA, KOMPAS.com - Salah satu UMKM di bidang kuliner asal Kota Payakumbuh, Sumatera Barat, Dapur Mutiara, mengekspor 1 ton bumbu rendang ke Hamburg, Jerman.

Gubernur Sumbar Mahyeldi saat melepas pengiriman bumbu rendang menuturkan, sebelumnya rendang sudah pernah dikirim ke Eropa, namun sebatas hubungan pribadi antara penjual dan pembeli.

"Ini adalah langkah maju yang mudah-mudahan membuka pintu ke negara-negara Eropa," kata Gubernur, sebagaimana dikutip dari Antara, Rabu (27/7/2022).

Baca juga: Agar Karya Ide Terlindungi, KemenkopUKM Dorong UMKM Daftarkan HAKI

Ia mengatakan Pemprov Sumbar memberikan dukungan penuh untuk produk-produk UMKM yang bisa menembus pasar luar negeri.

"Yang paling berat untuk ekspor produk ini bagi UMKM adalah biaya pengiriman yang kabarnya sampai Rp 50 juta. Kita akan bantu biaya pengiriman ini sebagai bentuk dukungan pemerintah terhadap kemajuan UMKM Sumbar," katanya.

Mahyeldi juga menyebut dukungan menjadi penting dilakukan karena ekspor produk itu meskipun saat ini nilainya masih relatif kecil. Namun ke depan, bila dilakukan dengan serius akan bisa menjadi pintu untuk tumbuhnya usaha skala industri di Sumbar.

"Bumbu rendang membutuhkan banyak rempah dan bumbu. Ini tentu akan memiliki efek domino terhadap produk lain. Lengkuas, serai, santan kelapa dan bumbu lain dibutuhkan untuk memastikan ketersediaan stok. Maka, akan terbuka peluang perkebunan skala besar pula," ujarnya.

Ke depan, Pemprov Sumbar akan terus mengupayakan agar produk UMKM terutama rendang benar-benar bisa mendunia. Modalnya adalah diaspora Minang yang tersebar hampir di seluruh pelosok dunia.

"Sekarang kita tengah menjajaki pasar Australia. Kita cari orang Minang yang punya peternakan sapi di sana. Kita kirimkan bumbu rendang dari Sumbar. Nanti, rendangnya dibuat oleh orang Minang. Maka, meski dibuat di luar negeri, maka keotentikannya tetap terjaga," ujarnya.

Diaspora Minang

Kepala Dinas Koperasi dan UKM Sumbar Nazwir mengatakan ekspor rendang Dapur Mutiara ke Jerman ini tidak lepas dari kepedulian diaspora Minang di perantauan.

"Para perantau inilah yang getol ingin memperkenalkan rendang pada masyarakat Eropa. Prosesnya cukup panjang karena banyak regulasi dan kecocokan rasa yang harus disesuaikan dengan lidah orang Eropa," katanya.

Baca juga: Sandiaga Cermati Dampak Citayam Fashion Week terhadap UMKM Kuliner

Dalam proses hingga produk bisa dikirimkan dalam skala cukup besar ke Jerman itu menelan cukup banyak biaya. Semua ditanggung oleh para perantau keluarga Minang di Hamburg.

"Kepedulian para perantau ini sungguh luar biasa. Mudah-mudahan ini akan menjadi awal untuk ekspor yang lebih besar," katanya.

Diaspora Minang di Hamburg, Jerman, Budi Indra menyebutkan awal mula ekspor bumbu rendang ke Jerman itu karena kerinduan warga Indonesia di Jerman, tidak hanya orang Minang, terhadap kuliner rendang.

"Jadi, dulu kami pernah membawa rendang ke Hamburg. Dibagi-bagikan pada masyarakat Indonesia di sana. Ternyata semua suka. Lalu, mereka ingin makan rendang lagi. Maka dari situ, muncul ide untuk membuka bisnis rendang di Jerman," ujarnya.

Namun, karena regulasi di Jerman tidak membolehkan produk daging dari luar untuk diperjualbelikan, maka dicarikan solusi hanya mengirimkan bumbunya saja. Sementara daging bisa dipilih sesuai selera di negara itu.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.


Terkini Lainnya

LPEI Salurkan Pembiayaan Rp 524 Miliar untuk Perkuat Ekspor Alat Kesehatan RI

LPEI Salurkan Pembiayaan Rp 524 Miliar untuk Perkuat Ekspor Alat Kesehatan RI

Program
25 Penyandang Disabilitas di Malang Raya Rajut Asa dengan Jalankan Bisnis

25 Penyandang Disabilitas di Malang Raya Rajut Asa dengan Jalankan Bisnis

Jagoan Lokal
Tinggalkan Gaji 40 Juta Per Bulan, Kini Doni Sukses Berbisnis Madu Berkat Pemasaran Daring

Tinggalkan Gaji 40 Juta Per Bulan, Kini Doni Sukses Berbisnis Madu Berkat Pemasaran Daring

Jagoan Lokal
Jatuh Bangun Bayu Rintis Bisnis, Hingga Tembus Pasar Ekspor Berkat Digitalisasi

Jatuh Bangun Bayu Rintis Bisnis, Hingga Tembus Pasar Ekspor Berkat Digitalisasi

Jagoan Lokal
Pesanan Pembuatan Parsel di Kota Malang Meningkat Selama Ramadhan

Pesanan Pembuatan Parsel di Kota Malang Meningkat Selama Ramadhan

Training
Kata Oma, Telur Gabus Olahan Ibu yang Kini Mendunia

Kata Oma, Telur Gabus Olahan Ibu yang Kini Mendunia

Jagoan Lokal
Kisah Dua Mantan Pengikut Kelompok Radikal yang Memilih Belajar Beternak Kambing

Kisah Dua Mantan Pengikut Kelompok Radikal yang Memilih Belajar Beternak Kambing

Jagoan Lokal
UKM Bisa Kelola Tambang, Kadin: Kalau Berhasil Manfaatnya Dirasakan Semua

UKM Bisa Kelola Tambang, Kadin: Kalau Berhasil Manfaatnya Dirasakan Semua

Program
Astra Dorong Perekonomian NTT Lewat Pemberdayaan UMKM Kopi dan Kakao

Astra Dorong Perekonomian NTT Lewat Pemberdayaan UMKM Kopi dan Kakao

Program
Si Emas Hijau dari Desa Loha, Kecamatan Macang Pacar, Kabupaten Manggarai Barat

Si Emas Hijau dari Desa Loha, Kecamatan Macang Pacar, Kabupaten Manggarai Barat

Jagoan Lokal
Menteri Ekraf Tinjau 300 Emak-Emak di Kota Malang Belajar E-Commerce

Menteri Ekraf Tinjau 300 Emak-Emak di Kota Malang Belajar E-Commerce

Program
Kembangkan Potensi Ekonomi NTT, YDBA Beri Pendampingan bagi Petani Vanili dan Mete

Kembangkan Potensi Ekonomi NTT, YDBA Beri Pendampingan bagi Petani Vanili dan Mete

Program
BNI Jejak Kopi Khatulistiwa Dukung Kopi Garut Swasembada Pangan dan Go Global

BNI Jejak Kopi Khatulistiwa Dukung Kopi Garut Swasembada Pangan dan Go Global

Program
TikTok Latih 600 UMKM Indonesia untuk Hasilkan Konten menarik

TikTok Latih 600 UMKM Indonesia untuk Hasilkan Konten menarik

Program
DPMA IPB Gali Potensi Ekonomi di Desa Sejahtera Astra Tegal dan Pemalang

DPMA IPB Gali Potensi Ekonomi di Desa Sejahtera Astra Tegal dan Pemalang

Program
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Terpopuler

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau