Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Jelang Perayaan Hari Kemerdekaan RI, Perajin Lampion di Kota Malang Kebanjiran Order

Kompas.com, 4 Agustus 2025, 14:46 WIB
Nugraha Perdana,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

MALANG, KOMPAS.com - Jelang perayaan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia (RI) pada 17 Agustus 2025 mendatang membawa berkah tersendiri bagi perajin lampion di Kota Malang, Jawa Timur.

Ahmad Syamsudin, pemilik usaha lampion di Jalan Binor, Kecamatan Blimbing, mengaku mengalami lonjakan pesanan untuk lampion bernuansa merah putih.

Menurut Ahmad Syamsudin, permintaan lampion edisi kemerdekaan tahun ini meningkat tajam sekitar 40 hingga 50 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Baca juga: Dorong UMKM Tembus Pasar Global, Kemendag Resmikan Export Center di Balikpapan dan Batam

"Alhamdulillah, tahun ini peningkatannya sangat terasa. Pesanan yang masuk sudah mendekati 1.500 buah dari target 3.000 buah bulan ini," ujar Ahmad Syamsudin saat ditemui di bengkel kerjanya, Rabu (30/7/2025).

Saat ini, ia dan 13 pekerjanya tengah fokus menyelesaikan pesanan besar, termasuk 500 lampion untuk seorang pelanggan di Surabaya. Pesanan tidak hanya datang dari wilayah Jawa Timur, tetapi juga menjangkau luar pulau hingga ke Medan.

Pelanggan mayoritas berasal dari instansi pemerintah, perkantoran, dan panitia perayaan di tingkat kampung.

"Ya, kayak kantor, pemkot, gitu. Kadang buat kampung-kampung, gitu. Yang merah putih," katanya.

Model lampion yang paling diminati untuk memeriahkan hari kemerdekaan adalah bentuk kapsul dan bola. Harga yang ditawarkan bervariasi, mulai dari Rp 35.000 untuk lampion bola berdiameter 30 sentimeter hingga Rp 80.000 untuk model kapsul.

"Yang ini harga Rp 80.000 yang kapsul. Kalau yang bulat itu Rp 35.000 diameter 30," katanya.

Selain model reguler, Ahmad Syamsudin juga tengah proses nego dari pemesan pesanan khusus, seperti lampion berbentuk Garuda setinggi 2 meter. Lampion raksasa ini rencananya menggunakan kerangka besi dan diperkirakan berharga hingga Rp 5 juta.

Meski begitu, di tengah tingginya permintaan, Ahmad Syamsudin menghadapi tantangan kelangkaan rotan sebagai bahan baku utama.

"Kalau sekarang rotannya agak sulit, tidak seperti dulu. Jika stok di Malang kosong, kami harus mencari sampai ke Gresik," ungkapnya.

Baca juga: Pelaku UMKM di Tangsel Diminta Ikut Pelatihan Pemasaran Digital

Meski bahan baku seperti rotan, kain, dan kawat mengalami kenaikan harga, Ahmad Syamsudin mengaku hanya menaikkan harga jual lampion secara minimalis, sekitar Rp 2.000 per buah.

"Harga sudah kami tetapkan dari awal, tidak bisa tiba-tiba naik tinggi," katanya.

Kapasitas Produksi Penuh

Usaha lampion yang dirintis keluarganya sejak tahun 2004 ini mampu memproduksi 20 hingga 50 lampion per hari.

Ahmad Syamsudin mengatakan, pihaknya akan berhenti menerima pesanan untuk edisi Hari Kemerdekaan RI pada awal Agustus mendatang, atau sekitar tanggal 10 hingga 13, untuk fokus menyelesaikan pesanan yang sudah masuk.

"Kalau kapasitas sudah tidak teratasi, kami langsung tutup pesanan. Kami tidak mau mengecewakan pelanggan," pungkasnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang


Terkini Lainnya
Dapat Bantuan Alat Modern, Perajin Patung dan Miniatur di Kota Malang Kebanjiran Pesanan
Dapat Bantuan Alat Modern, Perajin Patung dan Miniatur di Kota Malang Kebanjiran Pesanan
Program
LPDB Salurkan Pembiayaan ke KDKMP Sidomulyo Jember untuk Dukung Ekspor Kopi
LPDB Salurkan Pembiayaan ke KDKMP Sidomulyo Jember untuk Dukung Ekspor Kopi
Program
Kisah Para Penjual Makanan di Kawasan Industri Nikel Weda, Sehari Bisa Raup Omzet Rp 10 Juta
Kisah Para Penjual Makanan di Kawasan Industri Nikel Weda, Sehari Bisa Raup Omzet Rp 10 Juta
Jagoan Lokal
Penyaluran Kredit di 7 Wilayah Jatim Tumbuh 8,41 Persen, Malang Raya Didominasi Pelaku UMKM
Penyaluran Kredit di 7 Wilayah Jatim Tumbuh 8,41 Persen, Malang Raya Didominasi Pelaku UMKM
Training
Kementerian UMKM Fasilitasi Legalitas dan Pembiayaan kepada 1.000 Usaha Mikro di NTT
Kementerian UMKM Fasilitasi Legalitas dan Pembiayaan kepada 1.000 Usaha Mikro di NTT
Program
Pertamina Boyong 45 UMKM Binaan ke Trade Expo Indonesia 2025
Pertamina Boyong 45 UMKM Binaan ke Trade Expo Indonesia 2025
Program
Penjualan Stagnan, Puluhan UMKM di Kota Malang Dibekali Jurus Pemasaran Digital
Penjualan Stagnan, Puluhan UMKM di Kota Malang Dibekali Jurus Pemasaran Digital
Training
Tanpa Dirigen, Orkestra UMKM Hanya Riuh Tanpa Irama
Tanpa Dirigen, Orkestra UMKM Hanya Riuh Tanpa Irama
Program
Pedagang Mengeluh Soal QRIS, Diskopindag Kota Malang Akui Tak Bisa Paksa
Pedagang Mengeluh Soal QRIS, Diskopindag Kota Malang Akui Tak Bisa Paksa
Program
Indonesia Eximbank Luncurkan Buku Strategi Ekspor Jawa Tengah
Indonesia Eximbank Luncurkan Buku Strategi Ekspor Jawa Tengah
Program
Produk Sambel Uleg Hingga Pot Tanaman dari Jawa Timur Tembus Pasar Global
Produk Sambel Uleg Hingga Pot Tanaman dari Jawa Timur Tembus Pasar Global
Program
BRI Rampungkan Pelatihan bagi Pengelola 100 Desa BRILiaN
BRI Rampungkan Pelatihan bagi Pengelola 100 Desa BRILiaN
Program
BRI Peduli Bantu UMKM Raih Sertifikasi Halal
BRI Peduli Bantu UMKM Raih Sertifikasi Halal
Program
Jelang Perayaan Hari Kemerdekaan RI, Perajin Lampion di Kota Malang Kebanjiran Order
Jelang Perayaan Hari Kemerdekaan RI, Perajin Lampion di Kota Malang Kebanjiran Order
Jagoan Lokal
Indonesia Eximbank Salurkan Fasilitas Pembiayaan dan Penjaminan Ekspor ke Petro Oxo
Indonesia Eximbank Salurkan Fasilitas Pembiayaan dan Penjaminan Ekspor ke Petro Oxo
Program
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Terpopuler
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau