Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kisah Novi Gunarsanti, Rintis Bisnis Aroma Terapi dan Bisa Ikut Pameran Gratis di Jepang

Kompas.com, 2 Maret 2024, 08:00 WIB
Anagatha Kilan Sashikirana,
Wahyu Adityo Prodjo

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com – Aroma terapi adalah produk yang memiliki target pasar tersendiri. Selain membuat ruangan menjadi harum, beberapa orang menggunakan aroma terapi untuk membuat tubuh lebih rileks. Itulah mengapa peluang bisnis aroma terapi cukup menjanjikan.

Seperti yang dialami oleh Novi Gunarsanti (55), owner Viko Collection yang menjual aromatic therapy dan spa material sejak tahun 2001.

Pada tahun itu, Novi yang masih bekerja dengan perusahaan lain mendapatkan tamu jauh dari Austria. Tamu tersebut mengaku butuh aroma terapi dan kesulitan menemukannya, karena belum banyak yang menjual.

Akhirnya Novi resign dari pekerjaannya dan memutuskan untuk membuat bisnis aroma therapy sendiri dengan nama “Viko Collection” di Bantul, Yogyakarta. Terlebih lagi Novi memang menyukai seni, sehingga bisnis ini cocok untuknya.

“Memang dari orang tua saya berdarah seni. Jadi saya juga menyukai hasil karya yang berbau seni. Misalnya untuk bisnis aroma terapi ini seninya terletak pada tungku tempat menaruh aroma terapinya. Ini saya buat dan lukis sendiri dari tanah liat,” papar Novi saat diwawancarai oleh Kompas.com di acara INACRAFT 2024 pada Rabu, (28/02/2024).

Baca juga: Dorong Siswa Berwirausaha, SMK Ini Berhasil Produksi Sabun Aroma Terapi

Aroma terapi yang dijual di sini berkisar harga Rp 30.000 dan untuk alatnya seharga Rp 50.000 sampai Rp 100.000. Memiliki 24 varian mulai dari jasmin tea, lavender, orange, lemon, hingga pepermin.

“Manfaat aroma terapi itu untuk membuat tubuh lebih fresh. Misalnya ketika lelah pulang kerja, kita bisa menyalakan aroma terapi dengan wangi yang sesuai selera. Tapi pada dasarnya aroma terapi tidak menyembuhkan sesuatu seperti meredakan penyakit tertentu. Itu sebenarnya sugesti karena menghirup aroma yang kita suka sehingga tubuh terasa lebih nyaman,” jelas Novi.

Selama ini Novi mengembangkan bisnisnya secara manual, mulai dari pembuatan aroma terapi dan alat pelengkapnya. Ternyata hal ini mampu membawa bisnisnya ke kaca internasional.

Novi pernah mendapat kesempatan mengikuti pameran Tokyo Gift Show di Osaka dan Tokyo Jepang selama dua minggu pada tahun 2003. Novi lolos seleksi sebagai empat peserta terpilih dari 600 anggota.

Pasalnya, para juri terkesan tidak hanya dari kualitas produk melainkan karena keunikan Novi yang mengerjakan produknya manual tanpa mesin. Novi kemudian bisa memamerkan produknya di Tokyo Gift Show 2003 tanpa biaya administrasi pameran sepeser pun.

Baca juga: Belajar Manfaatkan Komoditas Daerah, Siswa SMK Ini Hasilkan Sabun Aroma Terapi

Modal awal Novi membangun bisnis aroma terapi sebesar Rp 30 juta. Modal ini kemudian digunakan untuk membeli bahan baku, merekrut karyawan, dan menambah kapasitas produksi.

Omzet tertinggi dari penjualan bisa mencapai Rp 300 juta dalam sebulan. Meskipun setelah pandemi omzet yang didapatkan tidak sebesar dulu, Novi tetap bersemangat untuk membangkitkan usahanya seperti dulu.

“Harapannya saya ingin bisa membuka lebih banyak lapangan pekerjaan dan terus bangkit. Intinya saya ingin bermanfaat bagi orang lain” kata Novi.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang


Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Terpopuler
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau