Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Jambu Kristal dari Kota Batu Sukses Tembus Pasar Ritel berkat Teknologi Pertanian

Kompas.com - 14/12/2022, 11:16 WIB
Nugraha Perdana,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

"Teknologi itu bukan bertujuan untuk mensubstitusi orang, tetapi memudahkan, meningkatkan produktivitas, daya saing, efisiensi," katanya.

Baginya, teknologi pertanian dapat membantu meningkatkan produktivitas dan efisiensi dalam menjalankan agribisnis. Dia memiliki cita-cita, untuk produk pertanian asal Kota Batu memiliki hasil yang berkualitas sehingga dapat dipasarkan di toko-toko ritel.

"Kita ngomong benefit, produktivitas meningkat, efisiensi meningkat, keberlanjutan berjalan. Sehingga produk yang dihasilkan harus berkualitas sesuai standar, nanti akan memiliki daya saing, pasti akan dicari, tinggal bagaimana memperluas jaringan pasarnya," katanya.

Dia berharap kolaborasi dengan Universitas Brawijaya terus berlanjut untuk kerjasama edukasi tentang agribisnis. Sebab, penerapan teknologi pertanian yang ada belum diterapkan secara menyeluruh dari hulu hingga hilir.

"Harapannya kolaborasi ini terus berlanjut bagaimana tadi soal penanganan hama dengan teknologi, terus dari mungkin sisi peningkatan ekonomi dibantu oleh FEB (Fakultas Ekonomi Bisnis), sehingga ini bisa menjadi program prototipe yang benar-benar dari hulu hingga hilir prosesnya berjalan dengan baik dan diterapkan di tempat-tempat lainnya," katanya.

IoT di Bidang Pertanian

Ketua Tim Doktor Mengabdi Universitas Brawijaya, Muhammad Aziz Muslim mengatakan, pihaknya sedang membuat suatu sistem percontohan implementasi teknologi di bidang pertanian atau berbasis IoT.

Sistem tersebut berupa perangkat yang dapat dikendalikan melalui smartphone untuk melakukan kegiatan pertanian secara otomatis. Diantaranya seperti penyiraman, pengaturan kelembaban, pengaturan pH pupuk, kadar CO (karbon monoksida) dan lainnya.

"Perangkat ini secara otomatis mengendalikan kondisi greenhouse sesuai dengan konfigurasi yang ditentukan oleh petani," kata Aziz saat ditemui pada Senin (12/12/2022).

Menurutnya, teknologi IoT sangat dekat dengan generasi muda karena mekanisasi pertanian dapat dikendalikan oleh perangkat smartphone.

"Kami juga memberikan pelatihan kepada petani, tentang penerapan IoT di bidang pertanian dengan workshop hands-on menggunakan modul ESP32 dengan sensor kelembaban tanah, sensor suhu serta relay untuk mengaktifkan pompa," katanya.

Aziz menyampaikan, pihaknya dalam kegiatannya juga memperkenalkan penerapan alat pengukur unsur hara tanah pada pohon jambu kristal.

Alat tersebut berbentuk tiang panjang dan ditengahnya terdapat modul elektronik dengan smartphone. Dengan alat itu dapat mengukur unsur nitrogen, fosfat dan kalium yang dibutuhkan tanah untuk tanaman ketika melakukan pemberian pupuk.

Cara itu bila diterapkan dapat menghindari kesalahan pemberian pupuk yang tidak sesuai dan dapat mengakibatkan menjadi racun. Bila pemberian pupuk sesuai juga akan mengurangi ongkos biaya produksi.

"Karena kebutuhan nutrisi tanaman itu berbeda-beda, sehingga dengan pemupukan yang sesuai, misal saat masa pertumbuhan biasanya membutuhkan pupuk dengan kandungan nitrogen yang tinggi, kemudian saat pembuahan itu dibutuhkan pupuk dengan fosfat dan kalium yang tinggi, ini yang kadang petani masih belum sesuai pemberian pupuknya," ungkapnya.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Halaman:

Terkini Lainnya

LPEI Salurkan Pembiayaan Rp 524 Miliar untuk Perkuat Ekspor Alat Kesehatan RI

LPEI Salurkan Pembiayaan Rp 524 Miliar untuk Perkuat Ekspor Alat Kesehatan RI

Program
25 Penyandang Disabilitas di Malang Raya Rajut Asa dengan Jalankan Bisnis

25 Penyandang Disabilitas di Malang Raya Rajut Asa dengan Jalankan Bisnis

Jagoan Lokal
Tinggalkan Gaji 40 Juta Per Bulan, Kini Doni Sukses Berbisnis Madu Berkat Pemasaran Daring

Tinggalkan Gaji 40 Juta Per Bulan, Kini Doni Sukses Berbisnis Madu Berkat Pemasaran Daring

Jagoan Lokal
Jatuh Bangun Bayu Rintis Bisnis, Hingga Tembus Pasar Ekspor Berkat Digitalisasi

Jatuh Bangun Bayu Rintis Bisnis, Hingga Tembus Pasar Ekspor Berkat Digitalisasi

Jagoan Lokal
Pesanan Pembuatan Parsel di Kota Malang Meningkat Selama Ramadhan

Pesanan Pembuatan Parsel di Kota Malang Meningkat Selama Ramadhan

Training
Kata Oma, Telur Gabus Olahan Ibu yang Kini Mendunia

Kata Oma, Telur Gabus Olahan Ibu yang Kini Mendunia

Jagoan Lokal
Kisah Dua Mantan Pengikut Kelompok Radikal yang Memilih Belajar Beternak Kambing

Kisah Dua Mantan Pengikut Kelompok Radikal yang Memilih Belajar Beternak Kambing

Jagoan Lokal
UKM Bisa Kelola Tambang, Kadin: Kalau Berhasil Manfaatnya Dirasakan Semua

UKM Bisa Kelola Tambang, Kadin: Kalau Berhasil Manfaatnya Dirasakan Semua

Program
Astra Dorong Perekonomian NTT Lewat Pemberdayaan UMKM Kopi dan Kakao

Astra Dorong Perekonomian NTT Lewat Pemberdayaan UMKM Kopi dan Kakao

Program
Si Emas Hijau dari Desa Loha, Kecamatan Macang Pacar, Kabupaten Manggarai Barat

Si Emas Hijau dari Desa Loha, Kecamatan Macang Pacar, Kabupaten Manggarai Barat

Jagoan Lokal
Menteri Ekraf Tinjau 300 Emak-Emak di Kota Malang Belajar E-Commerce

Menteri Ekraf Tinjau 300 Emak-Emak di Kota Malang Belajar E-Commerce

Program
Kembangkan Potensi Ekonomi NTT, YDBA Beri Pendampingan bagi Petani Vanili dan Mete

Kembangkan Potensi Ekonomi NTT, YDBA Beri Pendampingan bagi Petani Vanili dan Mete

Program
BNI Jejak Kopi Khatulistiwa Dukung Kopi Garut Swasembada Pangan dan Go Global

BNI Jejak Kopi Khatulistiwa Dukung Kopi Garut Swasembada Pangan dan Go Global

Program
TikTok Latih 600 UMKM Indonesia untuk Hasilkan Konten menarik

TikTok Latih 600 UMKM Indonesia untuk Hasilkan Konten menarik

Program
DPMA IPB Gali Potensi Ekonomi di Desa Sejahtera Astra Tegal dan Pemalang

DPMA IPB Gali Potensi Ekonomi di Desa Sejahtera Astra Tegal dan Pemalang

Program
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Terpopuler

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau