Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Libur Lebaran 2024, Tanaman Sayuran di Kota Batu Diburu Wisatawan

Kompas.com, 14 April 2024, 09:20 WIB
Nugraha Perdana,
Wahyu Adityo Prodjo

Tim Redaksi


BATU, KOMPAS.com - Kawasan sentra tanaman hias di Desa Sidomulyo, Kota Batu, Jawa Timur saat momen libur Lebaran 2024 ramai pembeli pribadi atau keluarga. Ratusan orang wisatawan yang datang ini meningkat sekitar 10 persen dibandingkan saat hari-hari akhir pekan.

Hal ini juga terlihat ramainya kendaraan-kendaraan dengan plat nomor polisi luar daerah yang memasuki Desa Sidomulyo.

Pembeli ada yang sengaja menyempatkan membeli tanaman hias usai bersilaturahmi ke saudara-saudaranya di Malang Raya, atau mampir karena sekaligus berlibur.

Bendahara BUMDes Mulyo Joyo Desa Sidomulyo, Sutrisno mengatakan, kecenderungan wisatawan saat ini bukan membeli tanaman hias, tetapi mencari jenis sayuran. Menurutnya, harga sayuran di pasaran yang relatif mahal menjadi alasannya.

"Yang lagi disenangi orang-orang (wisatawan) itu cari tanaman sayuran seperti cabai dan tomat untuk ditanam di halaman rumah. Kan sekarang agak mahal harga sayur itu. Untungnya, petani-petani tanaman hias di kita sudah mulai berinovasi, dan bisa melihat kondisi peluang itu," kata Sutrisno, Sabtu (13/4/2024).

Baca juga: Berawal dari Lapak Pinggir Jalan, Kini Kardila Sukses Buka Galeri Lansekap dan Tanaman Hias

Harga tanaman sayuran sekitar Rp 5.000 setiap ukuran polybag kecil. Sementara itu minat wisatawan untuk membeli tanaman hias dinilainya mulai berkurang, meskipun juga masih tetap menjadi yang utama diburu.

"Tanaman hias minat orang sudah berkurang, tidak untuk koleksi lagi seperti waktu pandemi (Covid-19). Sekarang orang cari tanaman hias untuk kebutuhan taman di rumahnya. Paling sekarang carinya tetap mawar harga Rp 3.000 - Rp 5.000, sama Bougenville yang terendah Rp Rp 15.000 sampai jutaan rupiah untuk yang bonsainya," katanya.

Meski begitu, petani tidak berani menurunkan harga tanaman hias karena menyeimbangkan dengan ongkos perawatan yang sedang naik. Kondisi tersebut menyebabkan keuntungan yang dirasakan para petani berkurang.

"Kalau kami turunkan harga, untuk naiknya lagi susah, sehingga tetap bertahan. Apalagi ongkos perawatan naik juga. Seperti petani mawar ongkos per polybag-nya itu yang sebelumnya Rp 1500, sekarang hampir Rp 2.000. Padahal, harga jual di petani Rp 2.500-Rp 3.000, tipis untungnya, belum mereka keluar tenaga juga," katanya.

Dikatakannya, para petani tanaman hias saat ini merasa susah dengan harga sekam padi untuk media tanam yang mahal. Penyebabnya, para supplier beralasan kesusahan mencari barang tersebut.

"Untuk saat ini kesulitan sekam padinya untuk media tanam, kata supplier-nya enggak ada panenan jemur padi, sepertinya ada permainan harga, karena yang dulunya per sak Rp 13.000, sekarang Rp 24.000," katanya. 

Pihaknya berharap adanya solusi dari Pemkot Batu terkait permasalahan tersebut.

"Harapan kami pemerintah bisa berkolaborasi menjalani hubungan dengan pemerintah daerah lainnya untuk mencarikan stok sekam dengan harga yang standar, karena di tengkulak harganya tinggi sekali, sehingga ongkos produksi petani membengkak," katanya.

Baca juga: 5 Tips Sukses Usaha Sayuran Segar bagi Pelaku UMKM

Lebih lanjut, setiap wisatawan rata-rata berbelanja menghabiskan uang sekitar Rp 200.000 sampai Rp 300.000. Menurutnya, kondisi ramainya wisatawan menjadi penyeimbang karena sepinya tengkulak yang membeli tanaman hias dengan jumlah besar.

"Karena ini libur lebaran, mungkin tengkulak-tengkulak itu tidak kirim (jualan), mungkin mulai kirim Senin (15/4/2024) lagi, biasanya satu tengkulak sekali beli di petani bisa sampai Rp 9 juta untuk dijual lagi," katanya.

Sebagai informasi, di Desa Sidomulyo terdapat 9 kelompok tani (poktan) yang mayoritas sekitar 80-90 persen bergelut di tanaman hias. Setiap poktan beranggotakan sekitar 30-40 petani.

Sementara itu, tempat-tempat penjualan tanaman hias di Desa Sidomulyo berada di Pasar Bunga Sekar Mulyo, Mall Bunga, kios-kios dan warga-warga yang menjual di depan rumahnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang


Terkini Lainnya
'TKTD' untuk Wirausaha Disabilitas
"TKTD" untuk Wirausaha Disabilitas
Program
Dapat Bantuan Alat Modern, Perajin Patung dan Miniatur di Kota Malang Kebanjiran Pesanan
Dapat Bantuan Alat Modern, Perajin Patung dan Miniatur di Kota Malang Kebanjiran Pesanan
Program
LPDB Salurkan Pembiayaan ke KDKMP Sidomulyo Jember untuk Dukung Ekspor Kopi
LPDB Salurkan Pembiayaan ke KDKMP Sidomulyo Jember untuk Dukung Ekspor Kopi
Program
Kisah Para Penjual Makanan di Kawasan Industri Nikel Weda, Sehari Bisa Raup Omzet Rp 10 Juta
Kisah Para Penjual Makanan di Kawasan Industri Nikel Weda, Sehari Bisa Raup Omzet Rp 10 Juta
Jagoan Lokal
Penyaluran Kredit di 7 Wilayah Jatim Tumbuh 8,41 Persen, Malang Raya Didominasi Pelaku UMKM
Penyaluran Kredit di 7 Wilayah Jatim Tumbuh 8,41 Persen, Malang Raya Didominasi Pelaku UMKM
Training
Kementerian UMKM Fasilitasi Legalitas dan Pembiayaan kepada 1.000 Usaha Mikro di NTT
Kementerian UMKM Fasilitasi Legalitas dan Pembiayaan kepada 1.000 Usaha Mikro di NTT
Program
Pertamina Boyong 45 UMKM Binaan ke Trade Expo Indonesia 2025
Pertamina Boyong 45 UMKM Binaan ke Trade Expo Indonesia 2025
Program
Penjualan Stagnan, Puluhan UMKM di Kota Malang Dibekali Jurus Pemasaran Digital
Penjualan Stagnan, Puluhan UMKM di Kota Malang Dibekali Jurus Pemasaran Digital
Training
Tanpa Dirigen, Orkestra UMKM Hanya Riuh Tanpa Irama
Tanpa Dirigen, Orkestra UMKM Hanya Riuh Tanpa Irama
Program
Pedagang Mengeluh Soal QRIS, Diskopindag Kota Malang Akui Tak Bisa Paksa
Pedagang Mengeluh Soal QRIS, Diskopindag Kota Malang Akui Tak Bisa Paksa
Program
Indonesia Eximbank Luncurkan Buku Strategi Ekspor Jawa Tengah
Indonesia Eximbank Luncurkan Buku Strategi Ekspor Jawa Tengah
Program
Produk Sambel Uleg Hingga Pot Tanaman dari Jawa Timur Tembus Pasar Global
Produk Sambel Uleg Hingga Pot Tanaman dari Jawa Timur Tembus Pasar Global
Program
BRI Rampungkan Pelatihan bagi Pengelola 100 Desa BRILiaN
BRI Rampungkan Pelatihan bagi Pengelola 100 Desa BRILiaN
Program
BRI Peduli Bantu UMKM Raih Sertifikasi Halal
BRI Peduli Bantu UMKM Raih Sertifikasi Halal
Program
Jelang Perayaan Hari Kemerdekaan RI, Perajin Lampion di Kota Malang Kebanjiran Order
Jelang Perayaan Hari Kemerdekaan RI, Perajin Lampion di Kota Malang Kebanjiran Order
Jagoan Lokal
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau