MALANG, KOMPAS.com - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Malang mencatat kinerja penyaluran kredit atau pembiayaan di tujuh wilayah kerjanya tumbuh positif sebesar 8,41 persen secara year-on-year (YoY) per September 2025. Pertumbuhan ini melampaui angka kredit nasional yang tercatat sebesar 7,7 persen
Sebagai informasi, tujuh wilayah kerja OJK Malang meliputi Kabupaten Malang, Kota Malang, Kota Batu, Kabupaten Pasuruan, Kota Pasuruan, Kabupaten Probolinggo, dan Kota Probolinggo.
Kepala OJK Malang, Farid Faletehan, mengatakan bahwa data ini menunjukkan kondisi dan pergerakan ekonomi di wilayah OJK Malang masih relatif bagus.
Baca juga: 22 Fintech P2P Lending Catat Kredit Macet di Atas 5 Persen per September 2025
"Pertumbuhan kinerja khususnya terkait dengan kredit atau pembiayaan di wilayah OJK Malang itu tumbuh 8,41 persen. Itu masih di atas pertumbuhan kredit nasional yang sebesar 7,7 persen," ujar Farid saat ditemui pada Rabu (12/11/2025).
Secara nominal, total penyaluran kredit meningkat dari Rp 101,14 triliun pada September 2024 menjadi Rp 109,64 triliun pada September 2025.
"Jadi berarti naik sekitar Rp 8,5 triliun ya," rinci Farid.
Farid memaparkan, dari total Rp 109,64 triliun kredit yang tersalurkan, sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) memberikan kontribusi signifikan.
"UMKM 33,6 persen atau sekitar Rp 36,88 triliun, sisanya itu non UMKM. Jadi ini udah termasuk tinggi ya di atas 30 persen," ungkapnya.
Dari tujuh kota/ kabupaten di wilayah kerja OJK Malang, penyaluran kredit untuk UMKM didominasi oleh penyaluran di kawasan Malang Raya.
"Yang paling tinggi penyalurannya untuk UMKM itu Kota Batu sampai 51,87 persen. Kemudian posisi kedua tertinggi itu Kabupaten Malang angkanya 39,52 persen dan Kota Malang 37,38 persen," papar Farid.
Tingginya angka di Malang Raya ini, lanjutnya, tidak lepas dari karakteristik daerah sebagai pusat pendidikan dan pariwisata. Hal ini menumbuhkan banyak UMKM di sektor kuliner, akomodasi, transportasi, kerajinan tangan dan lainnya.
"Dengan begitu para pelaku UMKM mengambil kredit berarti ada keberanian sehingga inklusi keuangan di masyarakat juga semakin terus meningkat," ujarnya.
Baca juga: Sasar UMKM, BTN (BBTN) Salurkan Kredit Program Perumahan di Yogyakarta
Di tengah pertumbuhan kredit, OJK juga mengimbau agar para pelaku usaha diimbangi dengan literasi keuangan yang baik. Farid secara khusus meminta nasabah tidak usah khawatir ketika usahanya lesu atau mengalami kesulitan membayar pinjaman untuk bisa segera mengajukan restrukturisasi utang.
"Kami himbau, kalau misalnya usahanya turun atau kemampuan bayarnya turun, datanglah ke lembaga keuangan bersangkutan untuk diajukan restrukturisasi," tegasnya.
Farid menekankan agar nasabah datang langsung dan tidak menggunakan perantara, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), atau sekadar mengirim surat. Menurutnya, laporan melalui surat tidak akan banyak memberi manfaat.
"Banyak laporan yang datang ke OJK Malang ada surat tahu-tahu minta agar pinjaman saya hanya membayar pokok saja atau dengan berbagai alasan tidak mau membayar bunga," keluhnya.
Ia menjelaskan bahwa proses restrukturisasi wajib melibatkan pertemuan langsung antara pihak bank dan nasabah untuk verifikasi kondisi usaha.
"Proses restrukturisasi harus ketemu dengan nasabah langsung. Harus dicek, harus dilihat usahanya. Kalau cuma surat saja ya sama lembaga keuangan tidak ada artinya banyak. Nanti bank akan ngecek dulu. Misalnya angsurannya Rp 500.000 menjadi Rp 200.000, atau jangka diperpanjang, itu bisa. Tapi setelah banknya melihat langsung kondisinya memang usahanya turun," ungkapnya.
Farid juga menjelaskan, tingginya penyaluran kredit dari total Rp 109,64 triliun ini didominasi oleh kredit modal kerja. Hal ini, menurutnya, menjadi sinyal positif bahwa banyak masyarakat mengakses perbankan untuk meningkatkan usaha mereka.
"Sebagian besar itu kredit modal kerja. Jadi akan membantu pertumbuhan ekonomi lah di wilayah kerja OJK Malang," tambahnya.
Mengenai tren pertumbuhan penyaluran kredit, Farid menilai angkanya relatif stabil.
"Kalau saya melihatnya itu relatif stabil ya. Kalaupun turun ya turun dikit gitu loh, nol koma sekian persen lah. Enggak sampai terlalu signifikan," jelasnya.
Baca juga: Soroti Perpres Ojol, Maxim Dorong Pengemudi Diakui sebagai Pelaku UMKM
"Intinya kalau pertumbuhan kreditnya masih bagus, berarti kan pengembangan ekonomi di masyarakat terus tumbuh," lanjutnya.
Sementara itu, saat disinggung mengenai kaitan pertumbuhan kredit dengan gelontoran dana Rp 200 miliar yang telah diupayakan Menteri Keuangan, Purbaya beberapa waktu lalu kepada Himpunan Bank Milik Negara (Himbara), Farid menyebut ada kemungkinan dampak positif.
"Secara tidak langsung iya ya, kemungkinan akan ada. Karena itu kan diberikan ke Himbara (pusat), nanti akan sebagian disalurkan ke kantor wilayah. Sebagian mungkin juga ada yang di wilayah kantor OJK Malang, cuman angkanya berapa kita tidak bisa ketahuan," katanya.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarangArtikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya