Editor
HALMAHERA TENGAH, KOMPAS.com- Pertumbuhan ekonomi Maluku Utara menunjukkan perkembangan pesat dalam beberapa tahun terakhir.
Data Bank Indonesia (BI) menunjukkan ekonomi Maluku Utara tumbuh sebesar 32,09 persen (year-on-year) pada triwulan II 2025, menjadikannya provinsi dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di Indonesia.
Pesatnya pertumbuhan ekonomi tersebut tidak hanya tercermin dari skala industri besar, tetapi juga ke level ekonomi masyarakat.
Baca juga: Pemilik Warung Ingin Gabung Program Bahan Pangan Murah? Simak Syaratnya
Di Halmahera Tengah, denyut pertumbuhan ekonomi itu terasa hingga ke usaha-usaha kecil yang tumbuh di sekitar kawasan industri.
Kehadiran ribuan pekerja dan masifnya aktivitas produksi telah memunculkan peluang ekonomi baru. Termasuk bagi para pelaku UMKM yang kini menikmati omzet harian yang cukup besar.
Seperti halnya yang dialami oleh Mahfud Ansar, seorang pemilik kantin yang berjualan di kawasan industri PT Indonesia Weda Industrial Park (IWIP).
Mahfud yang punya satu lapak warung, setiap hari pendapatannya bisa mencapai Rp 10 juta dari hasil jualan gorengan dan nasi.
"Pagi sampai sore, omzet bisa sampai Rp 7 juta-Rp 8 juta, sedangkan malam hari sekitar Rp 2 juta sampai Rp 3 juta. Selain gorengan, saya juga berjualan nasi ayam geprek dan minuman," kata dia Jumat (14/11/2025).
Untuk mendukung operasional warungnya, Anshar mempekerjakan delapan karyawan yang terbagi ke dalam dua shift yakni lima karyawan bertugas pagi sampai sore serta tiga orang bekerja sore sampai pagi keesokan hari.
"Di kawasan industri ini, kebutuhan makan karyawan sangat besar. Mereka keluar ketika istirahat dan selesai bekerja," lanjut Anshar.
Hal serupa juga diungkapkan oleh Nia, seorang karyawan warung makan yang menjadi kepercayaan pemilik.
Baca juga: Agar Bisnis Kuliner Tetap dalam Kendali Pemilik, Intip Strategi Warung Soto Ini
Dalam sehari, warung yang dikelolanya bisa menghasilkan Rp 8 juta untuk jadwal jualan pada siang hari. Sementara di shift malam, omzet sekitar Rp 1,5 juta ingga Rp 2 juta. Nia memperoleh pendapatan itu dari jualan gorengan dan nasi, serta snack.
"Bahkan dulu bisa lebih banyak lagi karena yang berjualan masih sedikit," kata Nia.
General Manager External Relations IWIP, Yudhi Santoso mengungkapkan hingga akhir tahun 2024, perusahaan juga telah bermitra dengan 323 pemasok lokal. Sehingga aktivitas ekonomi daerah tidak hanya tumbuh dari sisi ketenagakerjaan, tetapi juga dari sisi rantai pasok dan usaha lokal.
Hal ini turut menciptakan multiplier effect yang memperkuat sirkulasi ekonomi di Halmahera Tengah dan wilayah sekitarnya.
“IWIP dan WBN akan terus mendukung pembangunan berkelanjutan Maluku Utara, tidak hanya melalui kontribusi terhadap ekonomi daerah, tetapi juga dengan menyediakan peluang kerja bagi masyarakat," jelas Yudi.
Nia (kanan) seorang pengelola warung makan di kawasan IWIPSelain memfasilitasi para penjual makanan, IWIP dan PT Weda Bay Nickel juga menjalankan berbagai program pengembangan sosial yang mendukung kemandirian ekonomi masyarakat.
Salah satunya adalah program budidaya ikan air tawar di Desa Kulo Jaya, yang kini mengelola 31 kolam aktif dan melibatkan 30 anggota kelompok pembudidaya lokal.
Program ini tidak hanya membuka lapangan kerja baru, tetapi juga melahirkan peluang usaha turunan di sektor pangan yang mampu berkembang secara mandiri.
“Kami percaya pertumbuhan kawasan industri harus beriringan dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Itu sebabnya program sosial kami tidak hanya berfokus pada pemberian bantuan, tetapi juga membangun kapasitas dan peluang ekonomi jangka panjang bagi komunitas sekitar,” ujar Yudhi.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang