Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.
INDONESIA sering sekali membanggakan gotong royong. Sayangnya dalam praktiknya tidak semua berjalan seperti yang diharapkan.
Bagi banyak wirausaha disabilitas, jalan usahanya terasa lebih sulit, tidak semudah kebanyakan wirausaha lain.
Bersama Kementerian UMKM, saya berkesempatan melakukan perjalanan ke beberapa daerah bertemu langsung teman-teman wirausaha disabilitas.
Di Lombok, Koperasi Samara menjadi tempat bertahan dan menguatkan. Di Tanggerang, RBKI atau Rumah Bina Kreatif Indonesia menghadirkan tempat aman untuk berkarya dan belajar usaha.
Bersama komunitas Difapreneur, saya melihat pola yang sama, semangat mandiri yang kuat, tapi ekosistem yang menopang masih rentan jatuh.
Masalah utama wirausaha disabilitas di Indonesia bukan terletak pada kemauan dan kegigihan. Bahkan sebaliknya, banyak wirausaha disabilitas memiliki daya juang tinggi. Masalah sesungguhnya ada pada ekosistem yang belum sepenuhnya ramah.
Indonesia memiliki UU Nomor 8 tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas yang menjamin hak atas pekerjaan dan kewirausahaan.
Namun, sampai saat ini belum terasa implementasi secara spesifik untuk wirausaha disabilitas yang juga merupakan pelaku ekonomi strategis.
Banyak wirausaha disabilitas ada di area abu-abu. Mereka diedukasi, dibantu dengan pameran, tapi jarang yang benar-benar terintegrasi dengan sistem ekonomi yang bertumbuh dan berkelanjutan.
Sering ada bantuan, lalu pasar hadir, setelah kegiatan selesai, pasarnya lalu pergi.
Begitu juga dalam hal kualitas, ini merupakan hal yang sangat penting. Bukannya ingin menyalahkan, tapi melihat tantangan yang ada, kualitas produk sering menjadi kendala.
Termasuk di dalamnya desain, konsistensi produksi, kemasan hingga standar layanan. Kendala ini utamanya bukan karena keterbatasan individu semata, melainkan akses ke pasar, permodalan, teknologi, bahan baku serta mentor bisnis.
Mereka dituntut untuk meningkatkan kualitas, tapi dengan sumber daya terbatas. Tidak sedikit yang berhenti, bukan karena gagal, tapi karena mereka lelah.
Gotong royong atau kolaborasi saat ini menjadi kunci. Wirausaha disabilitas tidak bisa dibiarkan jalan sendiri, mereka butuh teman.
Kemitraan yang nyata dengan wirausaha yang lebih maju, baik dalam bentuk pendampingan produksi, peningkatan kualitas, hingga kolaborasi usaha.