Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.
Tidak hanya sekadar CSR atau pelatihan singkat, tapi Co-Creation, berbagi rantai pasok, bahkan bersama membangun usaha yang punya potensi bertumbuh.
Tanpa adanya uluran tangan, kesenjangan kualitas akan terus terjadi, pasar akan terus memilih produk yang mapan.
Kalau melihat praktik baik di luar negeri, banyak negara yang sudah sadar. Amerika dan Eropa, usaha milik penyandang disabilitas mendapatkan akses pengadaan afirmatif, insentif dan kemitraan strategis.
Jepang dan Korea Selatan juga memberikan insentif nyata bagi perusahaan yang melibatkan penyandang disabilitas.
Mereka tidak menunggu kualitas untuk bertumbuh sendiri di kalangan wirausaha disabilitas, tapi hadir nyata menciptakan ekosistem agar kualitas bisa hadir dengan segera.
Di Indonesia sebenarnya tidak asing dengan alur pemikiran kebijakan semacam ini. Kita mengenal TKDN – Tingkat Komponen Dalam Negeri sebagai instrumen untuk melindungi industri dan produk nasional.
TKDN ada karena industri kita tidak mampu bersaing jika dilepas begitu saja. Negara hadir menetapkan ambang batas dan memberikan insentif.
Melihat pemikiran Bung Karno dulu, keadilan ekonomi tidak lahir dari persaingan bebas yang timpang. Negara harus hadir berpihak secara strategis, bukan bermaksud memanjakan, tapi untuk memberikan fondasi kuat agar semua bisa berdiri secara sejajar.
Gagasan TKTD (Tingkat Komponen Teman Disabilitas) kini menjadi relevan. Pastinya ini bukan karena belas kalihan, tapi instrumen kebijakan yang afirmatif, sejalan dengan semangat Indonesia yang sepakat melahirkan wirausaha inklusif dan berkelanjutan.
Jika usaha atau produk memiliki tingkat keterlibatan wirausaha disabilitas sebagai pemilik, tenaga kerja atau bagian dari rantai pasok, maka baru bisa dilihat negara hadir dengan insentif yang nyata.
Setelah itu, pastinya insentif disesuaikan untuk kemudahan pendanaan, prioritas pengadaan, insentif pajak, serta akses ruang usaha.
TKTD akan menjadi dorongan untuk kolaborasi dan kemitraan strategis bukan hanya bantuan yang dirasakan sesaat.
Pendekatan ini akan mengubah perilaku pembelian produk wirausaha disabilitas dari “Kasihan Based” menjadi “Quality Based”. Kualitas tetap menjadi yang utama.
Filosofi gotong royong baru terasa untuk memberikan jalan agar semua bisa berjalan bersama.
Seringkali bertemu dengan wirausaha disabilitas yang selalu mengatakan tidak meminta dikasihani. Namun, saya melihat mereka layak dibela melalui kebijakan yang adil dan jangka panjang.
Memang TKTD hanya angan-angan yang belum tahu kapan ada. Namun, kalau untuk manfaat bersama, TKTD layak untuk diperjuangkan agar wirausaha disabilitas tidak berjalan sendirian.
Inklusif benar-benar ada dan hadir dalam jalannya pertumbuhan ekonomi Indonesia. Semoga!
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com. Download sekarang