Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kisah Mantan TKW yang Sukses Ekspor Kerajinan ke 17 Negara

Kompas.com, 6 Juni 2022, 10:00 WIB
Bambang P. Jatmiko

Editor

JAKARTA, KOMPAS.com - Bekerja di luar negeri membuka peluang bagi para pekerja migran untuk banyak belajar, dan tak sekedar mencari uang. Jika kesempatan tersebut dimanfaatkan, hal itu bisa membawa kesuksesan.

Hal itu pula yang dilakukan oleh Holisa, mantan Tenaga Kerja Wanita (TKW) asal Jember Jawa Timur. Mengutip kanal Reginal Kompas.com, tujuh tahun bekerja di Malaysia membuat Holisa belajar banyak hal.

Tak hanya pengalaman pahit di tanah rantau, namun juga belajar keterampilan mengembangkan kerajinan.

Baca juga: Berkat WFH, Uus Sukses Bisnis Tanaman Hias

Perempuan asal Desa Sumberlesung, Kecamatan Ledokombo, itu terpaksa merantau karena desakan ekonomi sejak 1995 hingga 2002. Ia berangkat hanya mengandalkan satu lembar ijazah sekolah dasar (SD).

Dia bekerja semata-mata ingin mengubah nasib ekonominya menjadi lebih baik. Sebab, di desa, sulit menemukan pekerjaan. Terpaksa, ia harus meninggalkan keluarga menjadi Pembantu Rumah Tangga (PRT) di Negeri Jiran.

Kerja Tak Digaji hingga Kerja di Pabrik Garmen

Holisa bercerita tentang kisahnya bekerja sebagai TKW. Saat itu, dia bekerja sebagai pembantu di salah satu rumah warga Malaysia. Namun, setahun setelah bekerja, ia tidak digaji. Akhirnya, dia terpaksa melarikan diri dari rumah majikan tanpa tujuan yang jelas.

Dalam pelarian itu, Holisa ditolong oleh seorang sopir di tengah jalan. Sang sopir menawari Holisa bekerja di restoran. Namun, pemilik restoran menolak karena Elisa merupakan seorang pelarian.

“Akhirnya saya datang ke kantor polisi di sana,” kata dia, pada Kompas.com saat dihubungi, Kamis (4/3/2021).

Setelah itu, polisi mengantarnya ke kantor imigrasi. Di sanalah ia mendapat tawaran untuk bekerja di pabrik garmen di Perlis Malaysia. Lisa menerima tawaran pekerjaan itu dan mulai bekerja kembali.

Selama bekerja di perusahaan garmen, Lisa mendapat kepercayaan dari majikannya untuk hadir ke berbagai kegiatan mewakili perusahaan. Bahkan, tak hanya di Malaysia, namum hingga keluar negeri.

Baca juga: UMKM NTT Berpeluang jadi Eksportir Kopi

Selain sibuk bekerja, Lisa juga menyisihkan gajinya untuk kursus bahasa Inggris. Sebab, ketika bertemu dengan pengusaha di Malaysia, ada yang menggunakan bahasa Inggris. Sisa penghasilannya juga ditabung sebagai bekal modal usaha ketika pulang kampung.

Karena pengeluaran itu, ia tidak bisa mengirim uang pada keluarganya di Jember selama dua tahun. Perempuan kelahiran 12 Agustus 1975 ini terus mengasah keterampilannya, belajar cara berbisnis. Mulai dari cara berkomunikasi hingga mendesain kerajinan.

Ia tak ingin menjadi pekerja migran selamanya. Namun, tetap ingin kembali ke kampung halaman berkumpul bersama keluarga.

Suami Menikah Lagi

Setelah cukup lama di Malaysia, Lisa pulang ke tanah kelahirannya pada tahun 2002. Tiba di kampung halaman, dia menemukan sang suami sudah menikah lagi dengan orang lain.

Namun, ia tak putus asa dan menyerah. Lisa mencoba memulai usaha dengan membuat kerajinan kalung, gelang, anting dan berbagai aksesoris lainnya. Kerajinan itu diberi nama Elisa Rainbow.

Ia mengajak tetangga sekitar untuk ikut membantunya. Setelah itu, Kerajinan dijual ke Bali. Bahkan, modal uang yang dibawa dari Malaysia digunakan untuk menyewa ruko di Bali guna memasarkan produknya.

Dari situ, produk kerajinan miliknya dikenal banyak orang. Sebab, banyak turis asing yang tertarik untuk membeli. Beruntung, Lisa menguasai bahasa Inggris karena ikut kursus ketika di Malaysia. Dia menggunakan kemampuannya itu untuk berkomunikasi dengan turis.

Berhubungan dengan Pembeli Luar Negeri

“Dari sana produk saya semakin dikenal pembeli turis asing,” ucap dia.

Persoalan keluarga sempat membuat bisnis miliknya bangkrut pada tahun 2009. Tapi, Lisa tak menyerah, dia tetap bangkit. Beruntung, ada sahabat dan rekan bisnisnya asal Australia yang menolongnya. Yakni memberikan pinjaman uang agar membangun kembali usahanya.

Kerajinan yang dibuat oleh Holisa terus berkembang sampai sekarang. Bahkan, sudah ada 300 karyawan yang bekerja padanya. Di antara mereka, banyak pekerja mantan TKW. Sebab, Kecamatan Ledokombo merupakan daerah yang warganya menjadi pekerja migran.

Kerajinan gelang, kalung miliki mantan TKW Holisa di rumahnya, di Desa Sumberlesung Kecamatan Ledokombo Kabupaten Jember BAGUS SUPRIADI/KOMPAS.COM Kerajinan gelang, kalung miliki mantan TKW Holisa di rumahnya, di Desa Sumberlesung Kecamatan Ledokombo Kabupaten Jember

“Ada TKW yang baru pulang tahun 2020 kemarin, saya ajak bergabung,” tutur dia.

Sebab, TKW tersebut tidak berhasil bekerja di tanah rantau lalu kembali. Akhirnya Lisa memberikan semangat agar tidak menyerah mencari uang dan mengajaknya bergabung.

Selain TKW, ada juga warga sekitar yang membutuhkan pekerjaan. Awalnya banyak mengakomodir kalangan perempuan. Namun, karena pandemi Covid-19, juga mengakomodir para lelaki.

“Karena mereka biasanya kerja kuli bangunan ke Bali, sekarang berkurang,” tambah dia.

Pekerjaan membuat kalung, gelang serta aksesoris lainnya itu bisa dibuat di rumah masing-masing, yakni merangkai kalung hingga gelang.

Dalam sehari, para pekerja mampu membuat masing-masing 1.000 potong kalung dan gelang, 500 anting. Bahan kerajinan diambil dari rumah Lisa, lalu dibawa pulang untuk dikerjakan di rumah para pekerja.

Mereka bisa bekerja bersama keluarganya. Tanpa harus merantau ke negara lain meninggalkan keluarga. Penghasilan mereka beragam, tergantung jumlah produksinya. Ada yang seminggu mendapat Rp 600.000.

Dijual ke 17 negara

Kerajinan yang dibuat oleh Holisa sudah diekspor ke ke 17 negara. Mulai dari China, Prancis, USA, Kostarika, Swedia, Inggris, Selandia Baru, Jepang, Australia, Spanyol, Dubai, Jerman, Malaysia, SIngapura, Thailand, Korea hinga Italia. “Senin kemarin saya kirim ke Amerika dan China,” kata dia.

Ia mengirim sebanyak enam boks atau sekitar 100 kilogram kerajinan berupa jepit rambut. Di 17 negara itu, produk kerajinan miliknya sudah memiliki pembeli tetap. Untuk itu, pengiriman dilakukan ketika stok di negara yang bersangkutan sudah habis.

Baca juga: Persaingan Bisnis, Positif atau Negatif?

Misal, pengiriman ke Perancis dikirim selama tiga bulan sekali. Bahkan, kadang Holisa mengirim sendiri barangnya ke China sambil membeli tambahan bahan kerajinan.

“Awal Covid-19 sempat terganggu, namun sekarang sudah normal lagi,” kata dia.

Lisa juga sudah memiliki tempat produksi di Rogojampi Banyuwangi. Dia terus mengembangkan usahanya agar bisa membantu banyak orang dalam mencari pekerjaan.

Untuk itu, dia terus mempromosikan kerajinan miliknya via online. Ia mengajak tetangganya yang menjadi TKW agar pulang kampung, ikut mengembangkan kerajinan miliknya. Sebab, pengalaman pahit menjadi TKW cukup dirinya yang merasakan.

Dia ingin membantu sesama meringankan beban ekonomi warga. Lisa berharap warga desa tak lagi bekerja menjadi buruh migran. Namun, bekerja di tanah kelahiran agar bisa berkumpul bersama keluarga. (Kontributor Jember, Bagus Supriadi | Editor Robertus Belarminus)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul: Kisah Sukses Mantan TKW, Jadi Eksportir Kerajinan hingga ke-17 Negara

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang


Terkini Lainnya
Hujan Deras, Ini Panduan Cuci Sepatu Putih Bahan Kanvas dan Kulit
Hujan Deras, Ini Panduan Cuci Sepatu Putih Bahan Kanvas dan Kulit
Training
Menelaah Pajak UMKM Versi Baru
Menelaah Pajak UMKM Versi Baru
Program
Indonesia Eximbank Bukukan Laba Bersih Rp77 Miliar pada Triwulan I 2026
Indonesia Eximbank Bukukan Laba Bersih Rp77 Miliar pada Triwulan I 2026
Program
Perusahaan AI Indonesia Tembus Pasar AS melalui Kolaborasi dengan Crawford Software
Perusahaan AI Indonesia Tembus Pasar AS melalui Kolaborasi dengan Crawford Software
Jagoan Lokal
Fabriku Hadirkan Kain Berkualitas untuk Brand Lokal
Fabriku Hadirkan Kain Berkualitas untuk Brand Lokal
Jagoan Lokal
Bangun Ekonomi Digital Asia, Cyberport Hong Kong Gandeng Sejumlah Institusi Indonesia
Bangun Ekonomi Digital Asia, Cyberport Hong Kong Gandeng Sejumlah Institusi Indonesia
Program
Menghindari Salah Arah Alokasi Dana Desa untuk KDMP
Menghindari Salah Arah Alokasi Dana Desa untuk KDMP
Program
'TKTD' untuk Wirausaha Disabilitas
"TKTD" untuk Wirausaha Disabilitas
Program
Dapat Bantuan Alat Modern, Perajin Patung dan Miniatur di Kota Malang Kebanjiran Pesanan
Dapat Bantuan Alat Modern, Perajin Patung dan Miniatur di Kota Malang Kebanjiran Pesanan
Program
LPDB Salurkan Pembiayaan ke KDKMP Sidomulyo Jember untuk Dukung Ekspor Kopi
LPDB Salurkan Pembiayaan ke KDKMP Sidomulyo Jember untuk Dukung Ekspor Kopi
Program
Kisah Para Penjual Makanan di Kawasan Industri Nikel Weda, Sehari Bisa Raup Omzet Rp 10 Juta
Kisah Para Penjual Makanan di Kawasan Industri Nikel Weda, Sehari Bisa Raup Omzet Rp 10 Juta
Jagoan Lokal
Penyaluran Kredit di 7 Wilayah Jatim Tumbuh 8,41 Persen, Malang Raya Didominasi Pelaku UMKM
Penyaluran Kredit di 7 Wilayah Jatim Tumbuh 8,41 Persen, Malang Raya Didominasi Pelaku UMKM
Training
Kementerian UMKM Fasilitasi Legalitas dan Pembiayaan kepada 1.000 Usaha Mikro di NTT
Kementerian UMKM Fasilitasi Legalitas dan Pembiayaan kepada 1.000 Usaha Mikro di NTT
Program
Pertamina Boyong 45 UMKM Binaan ke Trade Expo Indonesia 2025
Pertamina Boyong 45 UMKM Binaan ke Trade Expo Indonesia 2025
Program
Penjualan Stagnan, Puluhan UMKM di Kota Malang Dibekali Jurus Pemasaran Digital
Penjualan Stagnan, Puluhan UMKM di Kota Malang Dibekali Jurus Pemasaran Digital
Training
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau