Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Nurchaeti, Mantan TKI yang Kini jadi Pengusaha Keripik Beromzet Miliaran Rupiah

Kompas.com, 27 Oktober 2022, 09:00 WIB
Add on Google
Wahyu Adityo Prodjo

Editor

Nurchaeti awalnya melakoni bisnis laundry kiloannya tanpa ilmu bisnis dan pemasaran yang mumpuni. Ia tak patah arang hingga usaha laundry kiloannya berjalan mulus. Nurchaeti terus mengembangkan pengetahuan usaha laundy kiloannya dengan belajar kepada para pebisnis yang telah berhasil.

Setelah mengepakkan sayap bisnis laundry kiloannya di wilayah Jabodetabek hingga beromzet puluhan juta per bulannya, Nurchaeti ingin mengembangkan bisnisnya. Ia memutuskan terjun ke bisnis kuliner setelah sadar peluang dan untung yang cukup besar lewat pelatihan bisnis kuliner. Ia nekat berbisnis meski tak punya sejarah pebisnis di keluarganya.

"Sebenarnya keluarga kami adalah keluarga pekerja. Saya adalah salah satu keturunan yang broke the rules. Artinya satu-satunya pengusaha yang cari rejeki tanpa kerja dengan orang lain," kata Nurchaeti.

Ia pun mencoba usaha roti manis meskipun akhirnya karena gagal membuat adonan roti yang pas. Nurchaeti pun ingat keluarganya punya resep keripik pisang dari neneknya yang sudah turun temurun. Ia pun memanfaatkan resep tersebut menjadi peluang bisnis.

Nurchaeti pun melihat peluang keripik Indonesia di luar negeri. Saat bekerja di Singapura, ia melihat ada keripik olahan buah asal Filipina di sebuah toko yang menjual produk negara-negara Asia. Nurchaeti awalnya berpikir keripik tersebut buatan Indonesia.

"Dan situ mereka sudah pnya loyal customer. Artinya awareness orang-orang luar negeri untuk produk kesehatan sudah tinggi. Karena buah ini kan diproses dengan mesin vacuum frying. Itu prosesnya dengan tekanan uap tinggi saehingga seratnya masih utuh. Nah serat ini yang dibutuhkan," kata Nurchaeti.

Berbekal uang Rp100.000, Nurchaeti membeli pisang tanduk untuk diracik menjadi keripik pisang. Dengan dibantu tetangga rumahnya di kawasan Jagakarsa, keripik pisangnya pun "lahir". Ia pun memasarkan keripik pisang kepada para rekannya di kementerian dan lembaga.

Selama memasarkan keripik, Nurchaeti pun meminta saran dan masukan untuk pengembangan usahanya. Nurchaeti pun mendapatkan masukan soal kemasan, rasa, dan tingkat kegurihan keripik pisangnya. Saran dan masukan itu Nurchaeti terima untuk perbaikan kualitas produknya.

Nurchaeti pun akhirnya tancap gas untuk memasarkan produknya melalui media sosial dan Whatsapp. Pemasaran secara offline pun ia lakukan lewat pameran-pameran perdagangan. Sampai akhirnya di sebuah pameran perdagangan pada akhir tahun 2015, ia bertemu seorang distributor keripik asal Brunei Darussalam.

"Awal pertama kami ekspor, kami kirim ke Brunei Darussalam awal tahun 2016, setahun setelah berdiri. Dulu awalnya kami ekspor enggak banyak. Cuma 100 pax, 200 pax. Tapi lama kelamaan karena produk kita disukai jadi meningkat hingga dua kontainer," kata Nurchaeti sambil tersenyum saat mengingat cerita ekspornya.

Tim Kompas.com mewawancarai pemilik usaha keripik, Nurchaeti (42) di sela-sela acara Trade Expo Indonesia 2022 pada Minggu (23/10/2022).Dok. Pribadi Tim Kompas.com mewawancarai pemilik usaha keripik, Nurchaeti (42) di sela-sela acara Trade Expo Indonesia 2022 pada Minggu (23/10/2022).

Usaha yang berawal dari tabungannya kian membesar. Order keripik olahannya terus meningkat. Akhirnya ia pun butuh modal untuk mengembangkan usahanya.

Nurchaeti menjual keripik olahannya sekitar Rp20.000 per kilogram. Pesanan satu kontainer keripik, Nurchaeti bisa meraup omzet Rp500-800 juta. Rata-rata omzet per bulannya bisa mencapai Rp2 miliar.

Ia berhasil mengembangkan berbagai olahan keripik berbahan buah nangka, pisang, nanas, apel, dan sukun. Nurchaeti pun mengolah jengkol dan tempe menjadi keripik. Olahan-olahan keripiknya pun menjadi camilan-camilan masyarakat dunia. 

"Berjalannya waktu, karena perlu biaya banyak akhirnya kami bermitra dengan Pertamina. Pertamina itu salah satunya menyediakan pembiayaan untuk UMKM. Nah di situlah kami berani investasi untuk membeli mesin yang lebih besar sehingga kapasitas produksinya meningkat. Kami bermitra dengan Pertamina sejak tahun 2019," tambah Nurchaeti.

Kini, Nurchaeti pun bisa memberdayakan para ibu rumah tangga di wilayah di bawah naungan Srikandi Jagakarsa. Selain itu, ada pula penyandang disabilitas yang turut membantunya.

Usaha Nurchaeti pun dibantu ratusan orang di luar tempatnya tinggal. Nurchaeti menggunakan jasa mantan TKI yang sudah lanjut usia. Ia pun bekerja sama dengan para petani buah untuk mendapatkan bahan baku yang berkualitas.

Nurchaeti terus menggeluti bisnis keripiknya ke pasar dalam negeri. Ia mengemas keripik buatannya dengan merek Best Fried Forever (BFF). Nurchaeti melakukan strategi tersebut demi bertahan di masa pandemi Covid-19.

"Kami mempromosikan produk kami dengan produk kesehatan karena produk kami tak mengggunakan pewarna, pengawet dan perasa tambahan. Untuk saat ini kami gunakan brand bernama BFF yaitu Best Friend Forever. Diharapkan brand ini bisa dicintai oleh anak-anak, sehingga anak-anak Indonesia bisa sehat lagi karena konsumsi cemilan yang sehat," tambah Nurchaeti.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:

Terkini Lainnya
Bangun Ekonomi Digital Asia, Cyberport Hong Kong Gandeng Sejumlah Institusi Indonesia
Bangun Ekonomi Digital Asia, Cyberport Hong Kong Gandeng Sejumlah Institusi Indonesia
Program
Menghindari Salah Arah Alokasi Dana Desa untuk KDMP
Menghindari Salah Arah Alokasi Dana Desa untuk KDMP
Program
'TKTD' untuk Wirausaha Disabilitas
"TKTD" untuk Wirausaha Disabilitas
Program
Dapat Bantuan Alat Modern, Perajin Patung dan Miniatur di Kota Malang Kebanjiran Pesanan
Dapat Bantuan Alat Modern, Perajin Patung dan Miniatur di Kota Malang Kebanjiran Pesanan
Program
LPDB Salurkan Pembiayaan ke KDKMP Sidomulyo Jember untuk Dukung Ekspor Kopi
LPDB Salurkan Pembiayaan ke KDKMP Sidomulyo Jember untuk Dukung Ekspor Kopi
Program
Kisah Para Penjual Makanan di Kawasan Industri Nikel Weda, Sehari Bisa Raup Omzet Rp 10 Juta
Kisah Para Penjual Makanan di Kawasan Industri Nikel Weda, Sehari Bisa Raup Omzet Rp 10 Juta
Jagoan Lokal
Penyaluran Kredit di 7 Wilayah Jatim Tumbuh 8,41 Persen, Malang Raya Didominasi Pelaku UMKM
Penyaluran Kredit di 7 Wilayah Jatim Tumbuh 8,41 Persen, Malang Raya Didominasi Pelaku UMKM
Training
Kementerian UMKM Fasilitasi Legalitas dan Pembiayaan kepada 1.000 Usaha Mikro di NTT
Kementerian UMKM Fasilitasi Legalitas dan Pembiayaan kepada 1.000 Usaha Mikro di NTT
Program
Pertamina Boyong 45 UMKM Binaan ke Trade Expo Indonesia 2025
Pertamina Boyong 45 UMKM Binaan ke Trade Expo Indonesia 2025
Program
Penjualan Stagnan, Puluhan UMKM di Kota Malang Dibekali Jurus Pemasaran Digital
Penjualan Stagnan, Puluhan UMKM di Kota Malang Dibekali Jurus Pemasaran Digital
Training
Tanpa Dirigen, Orkestra UMKM Hanya Riuh Tanpa Irama
Tanpa Dirigen, Orkestra UMKM Hanya Riuh Tanpa Irama
Program
Pedagang Mengeluh Soal QRIS, Diskopindag Kota Malang Akui Tak Bisa Paksa
Pedagang Mengeluh Soal QRIS, Diskopindag Kota Malang Akui Tak Bisa Paksa
Program
Indonesia Eximbank Luncurkan Buku Strategi Ekspor Jawa Tengah
Indonesia Eximbank Luncurkan Buku Strategi Ekspor Jawa Tengah
Program
Produk Sambel Uleg Hingga Pot Tanaman dari Jawa Timur Tembus Pasar Global
Produk Sambel Uleg Hingga Pot Tanaman dari Jawa Timur Tembus Pasar Global
Program
BRI Rampungkan Pelatihan bagi Pengelola 100 Desa BRILiaN
BRI Rampungkan Pelatihan bagi Pengelola 100 Desa BRILiaN
Program
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Terpopuler
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau