Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kisah Emanuel Serodi, Berdaya Lewat Madu Hutan Kampung Leworok

Kompas.com, 3 Desember 2022, 09:00 WIB
Wahyu Adityo Prodjo

Editor

KUPANG, KOMPAS.com - Potensi madu tergolong melimpah di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, mendorong Emanuel Serodi Kelen (49) membuka ladang usaha madu hutan.

Warga Kampung Leworok, Desa Leraboleng, Kecamatan Titehena, itu tak menyangka usahanya kian melejit ke pasar nasional, bahkan tembus pasar internasional setelah tergabung dalam perhimpunan Madu Hutan Indonesia.

Usaha lelaki yang biasa disapa Pak Eman yang berlokasi di rumah produksi wilayah Kelurahan Weri, Kota Larantuka, itu kini terus berkembang.

Baginya, menjadi petani madu adalah mata pencaharian yang menyenangkan karena merawat warisan leluhur sejak turun temurun.

"Orang Leworok memang diakui sebagai petani madu. Ini warisan leluhur kami sejak jaman dahulu kala," kata Pak Eman seperti dikutip dari Antara.

Dahulu, hutan di sekitar Kampung Leworok, Desa Leraboleng, Kecamatan Titehena, Kabupaten Flores Timur, itu kaya dengan madu hutan.

Oleh karena itu banyak warga yang bermata pencaharian sebagai petani madu hutan.

Sebelumnya beberapa tahun lalu petani-petani madu di kampung itu sempat bermitra bersama Yayasan Sahabat Cipta, sebuah yayasan yang menjembatani produksi madu dari Leraboleng menuju salah satu perusahaan kosmetik di Surabaya.

Namun ketika diterpa pandemi COVID-19, hubungan saling menguntungkan itu berakhir.

Lantaran terjebak dalam badai COVID-19, para petani madu harus memutar otak agar keluar dari zona keterpurukan.

Madu yang didistribusikan kala itu hanya mencakup beberapa wilayah di Kabupaten Flores Timur dalam kemasan botol kecil, botol sedang, juga jeriken dari berbagai ukuran, tergantung pesanan pelanggan.

Sementara Eman sendiri sudah merasakan keterpurukan sejak tahun 2014, ketika pertama kali membuka usaha. Eman mendapat banyak kendala, salah satu yang mendesak adalah modal serba terbatas. Meski begitu, pria kelahiran 25 Desember 1973 itu tak patah semangat mencari jalan keluar.

Lima tahun terkatung-katung mengembangkan usaha, pada awal 2020 Eman mendapat informasi bahwa Pertamina melalui Subholding Commercial dan Trading PT Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara (Jatimbalinus) membuka pinjaman tanpa bunga bagi pelaku usaha dengan jasa administrasi rendah.

Waktu itu dia mendapatkan informasi dan ternyata benar bahwa jasa administrasinya hanya tiga persen per tahun. Dengan itu, tak memberatkan dan sangat membantu pelaku usaha kecil seperti dirinya.

Eman kemudian mencoba untuk mengajukan pinjaman dan pada akhirnya disetujui oleh Pertamina.

Halaman:

Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Terpopuler
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau