Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Cerita Stefania Menjalankan Bisnis Moaci Gemini, Mochi Khas Semarang Sejak 1985

Kompas.com, 29 Juni 2024, 19:59 WIB
Ester Claudia Pricilia,
Bestari Kumala Dewi

Tim Redaksi

SEMARANG, KOMPAS.com – Bepergian ke kota Semarang, pasti tidak asing lagi dengan buah tangan khasnya, yaitu Moaci Gemini. Bisnis mochi tradisional ini telah ada hampir 40 tahun, yaitu sejak tahun 1985.

Mochi yang bertekstur kenyal, berisi kacang, dan diselimuti tepung itu diciptakan oleh Tjia Sien Nio, alias Sri Harsini dan sang putra tercinta Hantanto.

Saat ini Moaci Gemini dijalankan oleh generasi kedua, yakni anak Perempuan dari Hantanto, Stefania Catharine (33).

Baca juga: Perjalanan Bisnis Tahu Baxo Ibu Pudji, Oleh-oleh Legendaris Semarang

“Ayah saya dan Ibunya mulai bisnis mochi itu di daerah Pecinan, saat itu mereka memulai bisnis untuk mencari pendapatan,” jelas Stefania saat ditemui tim Kompas.com di Semarang beberapa waktu lalu.

Mencari Sumber Penghasilan

Stefani menjelaskan, sang Ayah sebelumnya telah memulai berbagai macam bisnis makanan untuk mendapat penghasilan, tetapi moaci-lah yang mendapatkan respons paling baik.

Awalnya moaci itu dipasarkan secara door to door. Sri dan Hartanto hanya memperkenalkannya ke tetangga-tetangga dan lingkungan pertemanan.

Seiring berjalannya waktu, respons yang mereka terima semakin baik. Mereka lalu mulai menjualnya ke toko-toko kue dan roti di daerah sekitar Pecinan hingga akhirnya berhasil membuka toko sendiri.

Bisnis yang makin berkembang membuat mereka mulai membutuhkan tenaga kerja. Hingga saat ini, Moaci Gemini telah mempekerjakan 70-an orang.

Moaci Gemini dengan Taste of Nostalgic

Di tengah gempuran mochi-mochi luar negeri yang masuk ke Indonesia, Stefania menekankan Moaci Gemini tidak akan mengikuti tren mochi-mochi lain.

“Mochi kami akan selalu memakai filling yang bukan pasta, teksturnya lebih chewy, dan akan selalu mengangkat rasa tradisional Indonesia,” katanya.

Baca juga: Kisah di Balik Toko Oleh-oleh Nyonya Pang, Legendaris Sejak 1912

Produk Moaci Gemini SemarangKompas.com - Ester Claudia Pricilia Produk Moaci Gemini Semarang

Selain itu, Stefania juga menambahkan kalau packaging Moaci Gemini selalu ada taste of nostalgic.

Di mana satu dus Moaci Gemini yang berisi banyak mochi, diperuntukkan untuk keluarga yang bisa dimakan bersama-sama, sehingga ada rasa kebersamaan.

“Jadi kalau mereka menikmati mochi kami, mereka akan selalu ingat kebersamaan-kebersamaan itu sampai selamanya,” ungkap Stefania.

Berkat keunikan rasa, packaging, dan nilai-nilai yang dimiliki, Moaci Gemini diundang untuk mengikuti pameran yang diadakan oleh Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif mewakili provinsi Jawa Tengah dan juga mendapatkan piagam.

Baca juga: Kisah Nasi Goreng Kambing Kebon Sirih, Kuliner Legendaris Sejak 1958

Melihat Pandemi Sebagai Kesempatan Baru

Namun demikian, layaknya bisnis pada umumnya. Stefania juga menghadapi tantangan dalam menjalankan Moaci Gemini.

Mochi ini adalah bisnis oleh-oleh yang sangat bersinggungan langsung dengan industri pariwisata, sehingga saat pandemi kemarin, Moaci Gemini pun ikut terkena dampak negatifnya.

Tak menyerah apalagi berpasrah dengan keadaan, Stefania justru melihat dampak negatif pandemi itu sebagai kesempatan baru.

“Sudah pasti omzet kami turun kalau industri pariwisata turun, tetapi kami justru mulai bisa kirim online semenjak pandemi, dan sudah mulai pakai mesin juga,” jelas perempuan asli Semarang ini.

Era pandemi mengharuskan semua produk berbentuk makanan dan minuman harus terjaga ke-higenisannya, maka Stefania memutuskan untuk mulai menggunakan mesin dan memasuki era semi otomasi.

“Hingga 80 persen proses produksi Moaci Gemini sudah pakai mesin, selain memastikan mochinya higenis, juga sekaligus meningkatkan kualitas produksinya,” katanya.

Produksi 10 Ribu Dus Per Hari 

Semakin berkembang dari tahun ke tahun, menjadikan Moaci Gemini populer dan memiliki lebih banyak pelanggan. Mereka pun kini sudah mempunyai empat cabang resmi di Semarang.

Toko Oleh-oleh Semarang Moaci GeminiKompas.com - Ester Claudia Pricilia Toko Oleh-oleh Semarang Moaci Gemini

Dalam sehari, mereka bisa memproduksi 10 ribu dus mochi dan jika musim high season (liburan Natal, Idul Fitri, dan lainnya), jumlah produksi meningkat 5-7 kali lipat.

Dalam sebulan, bisnis oleh-oleh seperti Moaci Gemini dapat menghasilkan omzet kurang lebih sebesar Rp 1 miliar.

Semakin banyaknya permintaan, Stefania mulai memiliki concern soal orang-orang yang memiliki alergi kacang.

Untuk itu, ia mengeluarkan rasa-rasa lain seperti cokelat, durian, keju, pandan stroberi, jeruk, hingga oreo, supaya dapat dikonsumsi siapa saja, termasuk orang yang mempunyai alergi kacang. Sekaligus bisa bersaing di pasaran.

Namun, mochi dengan rasa kacang yang dilapisi biji wijen masih menjadi maskot dan best seller Moaci Gemini.

Mochi itu dibandrol dari harga Rp 30 ribu hingga Rp 70 ribu, bervariasi dari isi 10, 16, dan 25.

Baca juga: Mengintip Perjalanan Bisnis Bakmi Gang Kelinci, Berdiri Sejak Tahun 1957

Menjadi Berkat bagi banyak UMKM di Semarang

Tak hanya menjual mochi di ke-empat cabang mereka, saat ini toko Moachi Gemini juga menjadi tempat bagi UMKM-UMKM lain untuk menitipkan produknya, dengan sistem konsinyasi.

“Kami ingin menjadi berkat bagi UMKM-UMKM di Semarang yang mempunyai potensi, kalau kita bisa bagi-bagi rezeki ya kenapa enggak, kan?” ujar Stefania.

Outlet Moaci Gemini Semarang MadukoroKompas.com - Ester Claudia Pricilia Outlet Moaci Gemini Semarang Madukoro

Namun, Stefania menjelaskan makanan yang masuk ke Moaci Gemini Semarang bukan berarti yang asal masuk. Mereka akan melakukan kurasi, mulai dari mencoba semuanya terlebih dahulu hingga memerhatikan kemasannya.

Baca juga: Kisah Bisnis Legendaris AGTL Ny. Nani S, Berdiri Sejak Tahun 1989

“Yang lolos pun kami coba jual di lapangan dulu, kalo bagus lanjut, kalau tidak kami take down,” lanjutnya.

Hal itu dilakukannya, karena target pasar mereka adalah semua orang yang sedang berlibur.

Stefania ingin memastikan apa yang mereka makan dan berikan ke orang-orang sebagai oleh-oleh sudah pasti enak.

Mendatang Stefania berharap, dalam 5-10 tahun lagi Moaci Gemini bisa menjadi ikon oleh-oleh di Jawa Tengah, tidak hanya di Semarang.

“Namun saya ingin masih tetap di kota Jawa Tengah, belum ke luar dulu, karena masih ingin menjadi ikon Jawa Tengah,” tutupnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang


Terkini Lainnya
'TKTD' untuk Wirausaha Disabilitas
"TKTD" untuk Wirausaha Disabilitas
Program
Dapat Bantuan Alat Modern, Perajin Patung dan Miniatur di Kota Malang Kebanjiran Pesanan
Dapat Bantuan Alat Modern, Perajin Patung dan Miniatur di Kota Malang Kebanjiran Pesanan
Program
LPDB Salurkan Pembiayaan ke KDKMP Sidomulyo Jember untuk Dukung Ekspor Kopi
LPDB Salurkan Pembiayaan ke KDKMP Sidomulyo Jember untuk Dukung Ekspor Kopi
Program
Kisah Para Penjual Makanan di Kawasan Industri Nikel Weda, Sehari Bisa Raup Omzet Rp 10 Juta
Kisah Para Penjual Makanan di Kawasan Industri Nikel Weda, Sehari Bisa Raup Omzet Rp 10 Juta
Jagoan Lokal
Penyaluran Kredit di 7 Wilayah Jatim Tumbuh 8,41 Persen, Malang Raya Didominasi Pelaku UMKM
Penyaluran Kredit di 7 Wilayah Jatim Tumbuh 8,41 Persen, Malang Raya Didominasi Pelaku UMKM
Training
Kementerian UMKM Fasilitasi Legalitas dan Pembiayaan kepada 1.000 Usaha Mikro di NTT
Kementerian UMKM Fasilitasi Legalitas dan Pembiayaan kepada 1.000 Usaha Mikro di NTT
Program
Pertamina Boyong 45 UMKM Binaan ke Trade Expo Indonesia 2025
Pertamina Boyong 45 UMKM Binaan ke Trade Expo Indonesia 2025
Program
Penjualan Stagnan, Puluhan UMKM di Kota Malang Dibekali Jurus Pemasaran Digital
Penjualan Stagnan, Puluhan UMKM di Kota Malang Dibekali Jurus Pemasaran Digital
Training
Tanpa Dirigen, Orkestra UMKM Hanya Riuh Tanpa Irama
Tanpa Dirigen, Orkestra UMKM Hanya Riuh Tanpa Irama
Program
Pedagang Mengeluh Soal QRIS, Diskopindag Kota Malang Akui Tak Bisa Paksa
Pedagang Mengeluh Soal QRIS, Diskopindag Kota Malang Akui Tak Bisa Paksa
Program
Indonesia Eximbank Luncurkan Buku Strategi Ekspor Jawa Tengah
Indonesia Eximbank Luncurkan Buku Strategi Ekspor Jawa Tengah
Program
Produk Sambel Uleg Hingga Pot Tanaman dari Jawa Timur Tembus Pasar Global
Produk Sambel Uleg Hingga Pot Tanaman dari Jawa Timur Tembus Pasar Global
Program
BRI Rampungkan Pelatihan bagi Pengelola 100 Desa BRILiaN
BRI Rampungkan Pelatihan bagi Pengelola 100 Desa BRILiaN
Program
BRI Peduli Bantu UMKM Raih Sertifikasi Halal
BRI Peduli Bantu UMKM Raih Sertifikasi Halal
Program
Jelang Perayaan Hari Kemerdekaan RI, Perajin Lampion di Kota Malang Kebanjiran Order
Jelang Perayaan Hari Kemerdekaan RI, Perajin Lampion di Kota Malang Kebanjiran Order
Jagoan Lokal
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau