Pendekatan ini berhasil menciptakan keseimbangan antara memanfaatkan potensi ekonomi dan menjaga identitas budaya setempat.
“Adat tetap dipertahankan, ekonominya juga tetap jalan. Gimana nih caranya? Jangan sampai ekonominya jalan, tapi melanggar adat dan nilai agama,” tegas Yuliza.
Selain itu, homestay di Kubu Gadang juga tidak dibuka untuk kunjungan harian tanpa reservasi. Sebaliknya, sistem pemesanan berbasis grup diterapkan untuk memaksimalkan pengalaman wisata.
Baca juga: Strategi Bisnis Oleh-oleh di Lokasi Objek Wisata
Dalam satu bulan, Kubu Gadang menerima rata-rata 15 grup tamu yang telah memesan sebelumnya. Sistem ini juga memberikan waktu bagi pengelola untuk mempersiapkan segala kebutuhan tamu, termasuk memastikan pelayanan yang optimal.
“Tiap bulan kunjungannya. Bukan yang tiap hari kita buka kunjungan, jadi sistemnya itu melalui booking, tiap bulan itu udah ada list-nya siapa yang akan mau datang gitu. Kita di-booking, jadi sekitar 15 grup lah per bulan,” jelasnya.
Dari cerita Desa Wisata Kubu Gadang ini, dapat dilihat bahwa dengan strategi pengelolaan homestay yang tepat, pariwisata dapat menjadi penggerak ekonomi dan pemberdayaan masyarakat tanpa harus mengorbankan nilai budaya.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang