Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kopi Khas Dayak, Sajian Kopi Rempah yang Mulai Digemari di Kalimantan

Kompas.com, 18 April 2022, 10:32 WIB
Bambang P. Jatmiko

Editor

Sumber Antara

KOMPAS.com - Harum biji kopi menebar aroma khas di salah satu sudut ruang rumah milik Erika di Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah.

Tampak Erika sedang menyangrai biji kopi pilihan yang ia dapatkan dari para warga di sejumlah desa di Kabupaten Pulang Pisau dan sekitarnya.

Erika adalah seorang pelaku usaha skala mikro di Palangkaraya dengan produk olahan berupa kopi khas daerah.

Baca juga: 6 Tips Jualan Online saat Ramadan, Dijamin Luber Cuan

Kopi merupakan salah satu komoditi potensial di Kalteng dan kini mulai dilirik untuk diolah, serta dipasarkan di berbagai tempat.

Kopi khas Kalimantan Tengah, atau yang biasa disebut khas Dayak, dinilai memiliki cita rasa tersendiri saat disajikan.

Sajian kopi yang diolah dan dipadukan dengan ragam rempah, memberi kenikmatan berbeda dari kopi yang berasal dari daerah lain.

"Saat menyeruput kopi ini, memberikan cita rasa berbeda yang seakan membawa kita ke masa lalu," ucap Erika.

Komoditi kopi asal Kalteng memang belum begitu dikenal jika dibandingkan kopi daerah lain di Indonesia, seperti halnya kopi Gayo dari Aceh, kopi Toraja, maupun kopi Sidikalang.

Namun nyatanya, kopi khas Kalteng ini selain memiliki aroma harum yang memikat, juga memberi kenangan manis dari nikmatnya rasa pahit yang disajikan.

Awal Mula Usaha

Erika mengaku usaha kopi yang ia geluti saat ini berawal dari ketidaksengajaan, yakni kerinduan menikmati kopi olahan sang nenek di masa kecilnya.

Bermodalkan rindu yang mendalam, ia memutuskan mencoba mengolah kopi sendiri seperti yang pernah disajikan sang nenek.

Erika pun mulai melangkah, mengumpulkan berbagai bahan yang diperlukan, utamanya kopi pilihan dengan mencari ke berbagai kenalannya hingga beberapa pasar di wilayah setempat.

Saat terkumpul, ia pun mencoba mengolah sendiri biji kopi jenis liberika yang didapat secara tradisional, di antaranya mulai dari menyortir, mencuci, menyangrai, menggiling, dan kemudian menjadi bubuk kopi hitam yang siap diseduh dengan air panas.

Hingga pada akhirnya cita rasa di masa lalu pun berhasil ia dapati dan mengobati hasrat kerinduan yang dimiliki.

Baca juga: Doni Sukses Berbisnis Madu setelah Tinggalkan Zona Nyaman sebagai Pegawai Bank

"Setelah puas menikmati kopi dan bernostalgia, saya pun berinisiatif juga memberikannya kepada para kerabat," tuturnya.

Nyatanya, inisiatif darinya ini mendapat respon positif dari para kerabat. Setelah selesai menikmati kopi, mereka kemudian mendorong dirinya untuk memulai usaha membuat kopi.

Apalagi tren usaha kopi dalam beberapa waktu terakhir terus mengalami peningkatan, sehingga usaha ini dinilai menjadi salah satu peluang yang sayang untuk dilewatkan.

"Saya juga tertarik, dan akhirnya memantapkan diri untuk memulai usaha kopi ini," tegasnya.

Di luar Kalteng

Bak gayung bersambut, masyarakat atau konsumen juga memberi respon positif dari penjualan kopi milik Erika yang memiliki merk dagang Kopi Khas Dayak Palangka Raya Erikano.

Namun yang cukup mengagetkan, kopi olahan milik Erika ini lebih dahulu dikenal oleh masyarakat di beberapa daerah di luar Kalteng, seperti Jakarta, Bandung hingga Semarang.

Lantaran dia lebih gencar memasarkan produknya ke luar daerah memanfaatkan para kerabat dan sahabat yang bermukim di sejumlah daerah tersebut.

Peluang ini pun ia manfaatkan dan terus jaga, hingga kopi miliknya semakin dikenal oleh masyarakat dari berbagai kalangan dan daerah. Sembari promosi dagang terus ia optimalkan.

Perlahan namun pasti, berkat upaya yang Erika lakukan, kopi olahannya mulai dikenal di Palangka Raya maupun berbagai daerah di Kalteng, serta semakin memiliki banyak pelanggan.

Kini Erika mengaku lebih banyak pelanggan yang menghubungi atau pun mendatanginya langsung, jika ingin membeli kopi tersebut.

Rata-rata dalam satu bulan, pihaknya menggiling antara 10-15 kilogram biji kopi yang menghasilkan sampai 100 bungkus. Dan biasanya semua produk yang dihasilkan terjual habis.

Saat ini kopi milik Erika tersedia dalam dua kemasan, yakni 50 gram dengan harga Rp10 ribu serta kemasan 150 gram dengan harga Rp25 ribu.

Hebatnya, dari usahanya ini sudah mampu turut menyediakan lapangan kerja. Setidaknya dalam setiap kegiatan produksi, Erika melibatkan sekitar tiga orang selain dirinya untuk mengolah biji kopi menjadi sebuah produk yang siap dipasarkan.

Terkendala Pandemi Covid-19

Sektor usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) selama masa pandemi Covid-19 merupakan salah satu yang paling terdampak, akibat menurunnya daya beli masyarakat atau pun lesunya perekonomian.

Bahkan ada sebagian UMKM terpaksa beristirahat sementara, sehingga tidak melakukan produksi maupun menjual produk yang dimiliki. Ada pula UMKM yang memilih alih produksi menyesuaikan kebutuhan pasar.

Baca juga: Kopi Asal Indonesia Diminati di Amerika Serikat, Berpotensi Raup Transaksi Hingga Rp283 Miliar

Dan dalam kondisi ini, ternyata Erika juga harus merasakan dampak dari pandemi. Ia mengaku usaha yang dijalankannya sempat terdampak di awal pandemi.

Hal itu diakibatkan pembatasan aktivitas maupun arus transportasi, sehingga dirinya mengalami kesulitan memasarkan produk kopinya.

"Awal masa pandemi saya sempat berhenti berproduksi, hampir dua bulan lamanya," jelasnya.

Hanya saja Erika tak patah semangat dan tetap bersabar menghadapi kondisi tersebut. Ia tetap bertahan meski memutuskan tidak melakukan produksi sementara waktu, sembari memantau perkembangan yang terjadi.

Kondisi yang sulit mampu dihadapi dengan penuh kesabaran. Hingga akhirnya selepas hampir dua bulan, Erika memutuskan kembali berproduksi dan membuat kopi olahan miliknya untuk dipasarkan kembali.

"Saat kondisinya sudah lebih memungkinkan waktu itu, akhirnya saya memutuskan kembali melakukan produksi," terangnya.

Nyatanya, Erika mengaku, produk kopi olahan miliknya tampak memiliki ruang yang cukup baik di kalangan masyarakat pecinta kopi khususnya para pelanggan.

Jika dalam satu bulan sebelum masa pandemi rata-rata ia mampu menjual hingga 100 bungkus lebih, saat pandemi ia pernah menjual hingga 120 bungkus.

Capaian itu membuktikan kopi olahan Erika mampu bertahan, bisa terus dipasarkan dan berkembang meski di tengah pandemi sekalipun.

Namun semua itu tak bisa ia capai hanya dengan berdiam diri saja. Erika mengaku giat memasarkan produknya menggunakan media sosial, serta berpartisipasi dalam berbagai kegiatan yang memberi peluang memasarkan kopi olahannya.

"Saya aktif dalam berbagai kegiatan untuk memasarkan Kopi Erikano. Semakin maksimal upaya pemasarannya, maka peluang semakin dikenalnya produk saya juga semakin besar," paparnya.

Erika pun optimis ke depan produk kopi olahannya akan semakin maju dan berkembang, serta lebih dikenal luas oleh masyarakat. Ia menilai komoditi kopi dari Kalteng jika dikembangkan secara optimal, tak akan kalah bersaing dengan kopi-kopi dari daerah lainnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang


Terkini Lainnya
Bangun Ekonomi Digital Asia, Cyberport Hong Kong Gandeng Sejumlah Institusi Indonesia
Bangun Ekonomi Digital Asia, Cyberport Hong Kong Gandeng Sejumlah Institusi Indonesia
Program
Menghindari Salah Arah Alokasi Dana Desa untuk KDMP
Menghindari Salah Arah Alokasi Dana Desa untuk KDMP
Program
'TKTD' untuk Wirausaha Disabilitas
"TKTD" untuk Wirausaha Disabilitas
Program
Dapat Bantuan Alat Modern, Perajin Patung dan Miniatur di Kota Malang Kebanjiran Pesanan
Dapat Bantuan Alat Modern, Perajin Patung dan Miniatur di Kota Malang Kebanjiran Pesanan
Program
LPDB Salurkan Pembiayaan ke KDKMP Sidomulyo Jember untuk Dukung Ekspor Kopi
LPDB Salurkan Pembiayaan ke KDKMP Sidomulyo Jember untuk Dukung Ekspor Kopi
Program
Kisah Para Penjual Makanan di Kawasan Industri Nikel Weda, Sehari Bisa Raup Omzet Rp 10 Juta
Kisah Para Penjual Makanan di Kawasan Industri Nikel Weda, Sehari Bisa Raup Omzet Rp 10 Juta
Jagoan Lokal
Penyaluran Kredit di 7 Wilayah Jatim Tumbuh 8,41 Persen, Malang Raya Didominasi Pelaku UMKM
Penyaluran Kredit di 7 Wilayah Jatim Tumbuh 8,41 Persen, Malang Raya Didominasi Pelaku UMKM
Training
Kementerian UMKM Fasilitasi Legalitas dan Pembiayaan kepada 1.000 Usaha Mikro di NTT
Kementerian UMKM Fasilitasi Legalitas dan Pembiayaan kepada 1.000 Usaha Mikro di NTT
Program
Pertamina Boyong 45 UMKM Binaan ke Trade Expo Indonesia 2025
Pertamina Boyong 45 UMKM Binaan ke Trade Expo Indonesia 2025
Program
Penjualan Stagnan, Puluhan UMKM di Kota Malang Dibekali Jurus Pemasaran Digital
Penjualan Stagnan, Puluhan UMKM di Kota Malang Dibekali Jurus Pemasaran Digital
Training
Tanpa Dirigen, Orkestra UMKM Hanya Riuh Tanpa Irama
Tanpa Dirigen, Orkestra UMKM Hanya Riuh Tanpa Irama
Program
Pedagang Mengeluh Soal QRIS, Diskopindag Kota Malang Akui Tak Bisa Paksa
Pedagang Mengeluh Soal QRIS, Diskopindag Kota Malang Akui Tak Bisa Paksa
Program
Indonesia Eximbank Luncurkan Buku Strategi Ekspor Jawa Tengah
Indonesia Eximbank Luncurkan Buku Strategi Ekspor Jawa Tengah
Program
Produk Sambel Uleg Hingga Pot Tanaman dari Jawa Timur Tembus Pasar Global
Produk Sambel Uleg Hingga Pot Tanaman dari Jawa Timur Tembus Pasar Global
Program
BRI Rampungkan Pelatihan bagi Pengelola 100 Desa BRILiaN
BRI Rampungkan Pelatihan bagi Pengelola 100 Desa BRILiaN
Program
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Terpopuler
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau