Pemasukan dari usaha kelor kini omzetnya mencapai ratusan juta rupiah.
Dari rumah bebak, rumah tradisional berukuran 5x7 meter kini Eduardus sudah bangun rumah permanen ukuran 7x9 meter dan rumah produksi kelor berukuran 16x4 meter.
"Puji Tuhan, beberapa waktu kemarin saya baru beli mobil Toyota Rush. Itu semua hasil dari kelor," kata Eduardus.
Eduardus mengaku tak pernah membayangkan bisa berada pada titik ini. Dari kegagalan demi kegagalannya, Tuhan telah mempertemukan Eduardus dan kelor.
Tanaman yang dulu dipersepsikan sebagai sayuran biasa dan pagar pembatas kebun, kini telah mengantarkan Eduardus sebagai orang sukses.
Ia mengatakan tak hanya pengentasan stunting, transformasi hidup yang miskin menjadi sukses, melainkan kelor juga mengubah hidup kelompok tani di sekitarnya.
Ada kelompok tani yang memiliki omzet hingga Rp8 juta per bulan dari tanaman kelor. Bahkan bisa membuka lapangan pekerjaan buat pengangguran dalam ekosistem budidaya dan pengelohan kelor.
"Saya juga bentuk tim pencari kelor liar yang singkat PKl. Jadi kelor di seputaran kota habis saya buat. Tambah lagi Koramil 05 di Kota Waingapu jadi tambah ramai sudah orang berburu kelor dan budidaya kelor. Di tempat saya ada lima tim yang membantu produksi kelor dan jaringan pemasaran saya adalah desa desa yang sudah saya presentasi tadi," jelas Eduardus.
Ia pun mengucapkan terimakasih kepada Viktor Bungtilu Laiskodat dan Julie Sutrisno Laiskodat yang meretas jalan baginya untuk mendulang sukses dari tanaman kelor.
"Tanpa mereka (Viktor dan istrinya) saat ini mungkin saya masih tukang ojek. Dan Pak Dedy sebagai bapak yang sudah membimbing saya di jalan ini. Kalau bukan karena channel YouTube nya saya masih ojek juga," ujarnya terharu.
Direktur PT Moringa Wira Nusa sekaligus Founder Dapur Kelor, Dedi Krisnadi mengatakan, kisah sukses Eduardus juga sudah dialami oleh beberapa UMKM yang bergerak di bidang kelor.
Dedi menjelaskan lebih lanjut banyak UMKM yang sudah membuka pasar ke luar NTT bahkan keluar negeri dan memiliki omzet hingga ratusan juta rupiah.
"Mereka yang mendapat manfaat dari tanaman kelor adalah mereka yang sejak awal ikut arahan Gubernur NTT, Bapak Viktor Bungtilu Laiskodat. Saat ini produksi Kelor dari 3,2 ton per bulan sudah naik ke 7,2 ton per September ini," ujar Dedi.
PT Kelor Marada yang digawangi oleh Eduardus merupakan binaan Dapur Kelor bersama 36 sentra Pengelolaan kelor lainnya di bawah Korem Wirasakti 161 Kupang dan 14 UMKM di bawah binaan Dekranasda NTT.
"Jadi Dapur Kelor ini sebenarnya Binaan Dekranasda NTT dan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi NTT. Kami diamanatkan untuk membina UMKM-UMKM lainnya. Kami melatih lagi. Sehingga tidak disadari bahwa ketika kami dibina oleh Dekranasda NTT dan Disperindag, kami membina lagi UMKM lainnya,"kata Dedi.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.