Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Ubah Ladang Tebu jadi Homestay, Desa Ini Raup Pendapatan hingga Rp867 Juta

Kompas.com, 4 Agustus 2023, 19:30 WIB
Wahyu Adityo Prodjo

Editor

MAGELANG, KOMPAS.com - "Dulu orang enggak kenal Wringinputih. Cuma tahunya desa aja. Dulu enggak ada yang datang untuk wisata secara khusus," kata Direktur Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Wringinputih, Rizal Arif Windriatmoko.

Rizal ingat betul bahwa banyak wisatawan yang tak mengenal desanya. Boro-boro mau wisata. Padahal, Desa Wringinputih hanya berjarak sekitar delapan kilometer di sisi utara Candi Borobudur di Kecamatan Borobudur, Magelang, Jawa Tengah.

Baca juga: Pertamina Gelar UMK Academy 2023 untuk Dorong UMKM Naik Kelas

Kini, Wringinputih banyak dikunjungi wisatawan baik dari Magelang maupun dari luar Magelang. Banyaknya wisatawan berdampak signifikan kepada perputaran ekonomi di Desa Wringinputih. Penduduk punya pilihan alternatif untuk bekerja dan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) bisa bergeliat.

Data dari Pemerintah Kabupaten Magelang, ada sekitar 2018 Kepala Keluarga (KK) atau 6.285 orang yang menghuni Desa Wringinputih. Rizal mengatakan, mayoritas penduduk Desa Wringinputih merupakan petani, pedagang di Candi Borobudur, buruh pabrik, dan buruh lepas. 

Instalasi panel surya di kawasan Balai Perekonomian Desa (Balkondes) Wringinputih, Kecamatan Borobudur, Magelang, Jawa Tengah pada Selasa (25/8/2023) sore. Panel surya tersebut menghasilkan dan mengalirkan listrik untuk kebutuhan lampu penerangan di kawasan.KOMPAS.com/WAHYU ADITYO PRODJO Instalasi panel surya di kawasan Balai Perekonomian Desa (Balkondes) Wringinputih, Kecamatan Borobudur, Magelang, Jawa Tengah pada Selasa (25/8/2023) sore. Panel surya tersebut menghasilkan dan mengalirkan listrik untuk kebutuhan lampu penerangan di kawasan.

Masyarakat Desa Wringinputih kini punya ikon baru sebagai destinasi wisata. Desa Wringinputih menawarkan lanskap desa yang alami; kuliner yang khas seperti nasi jagung, kluban (urap sayur), minum bandeg (nira kelapa); dan aktivitas wisata seperti paintball dan panahan.

Baca juga: Pertamina Kembangkan Program Desa Mandiri Energi untuk Dukung Transisi Energi

Atraksi wisata di Desa Wringinputih melengkapi pesona Candi Borobudur di mata wisatawan. Selain atraksi wisata tersebut, ada pilihan akomodasi yang lengkap dan mumpuni untuk dikunjungi yaitu Balai Ekonomi Desa (Balkondes) Omah Guyub Wringinputih. Balkondes Wringinputih dikelola oleh BUMDes Wringinputih dan diprakarsai oleh PT. Pertamina.

"Hadirnya Pertamina di Wringinputih ini ibarat oase di gurun pasir. Jadi memang masyarakat jadi banyak berubah sekarang. Dampaknya sangat besar. Desa kami ini paling utara Candi otomatis kurang merasakan dampaknya Candi Borobudur," ujar Rizal.

Dari ladang jadi obyek wisata

Balai Perekonomian Desa (Balkondes) Wringinputih di Kecamatan Borodubur, Magelang, Jawa Tengah berdiri di lahan seluas 1,5 hektar. Dulunya, Balkondes Wringinputih merupakan ladang tebu, singkong, dan pepaya.Dok. Balkondes Wringinputih Balai Perekonomian Desa (Balkondes) Wringinputih di Kecamatan Borodubur, Magelang, Jawa Tengah berdiri di lahan seluas 1,5 hektar. Dulunya, Balkondes Wringinputih merupakan ladang tebu, singkong, dan pepaya.

Balkondes Wringinputih berdiri di atas lahan seluas 1,5 hektar. Rizal menyebutkan, dulunya lahan balkondes merupakan ladang tebu, pepaya, dan singkong. Ladang tersebut dulunya belum bermanfaat untuk masyarakat desa.

Rizal mengatakan, Pertamina memberikan bantuan untuk Desa Wringinputih dalam segi pembangunan infrastruktur penginapan dan pembinaan terkait manajemen kawasan wisata.  Rizal menyebutkan, Pertamina secara konsisten membina BUMDes dalam menjalankan usaha pariwisata.

Baca juga: Pertamina Fasilitasi 50 UMKM Binaan untuk Dapat Sertifikat Halal

Kini, Balkondes Wringinputih memiliki 19 kamar berkapasitas total 60 orang di homestay-homestay yang tersedia. Ada ruangan rapat, restoran, galeri UMKM, Taman Kelinci, dan lapangan untuk paintball. Konsep homestay Balkondes Wringinputih kini berarsitektur rumah jengki dari sebelumnya berkonsep natural berbahan kayu. 

"Balkondes ini jadi nafas kehidupan parisiwata Desa Wringinputih. Terakhir pendapatan kami dari tahun 2022 kemarin pendapatan kami di angka Rp 867 juta. Itu dari pendapatan dari penginapan, event seperti wedding, restoran. Ada juga pesanan-pesana makanan," ujar Rizal.

Kegiatan di kawasan Balai Perekonomian Desa (Balkondes) Wringinputih. Sebelum berubah konsep, bangunan di Balkondes Wringinputih dibangun dengan paduan bahan-bahan kayu dan bambu.Dok. Balkondes Wringinputih Kegiatan di kawasan Balai Perekonomian Desa (Balkondes) Wringinputih. Sebelum berubah konsep, bangunan di Balkondes Wringinputih dibangun dengan paduan bahan-bahan kayu dan bambu.

Rizal mengatakan, pendapatan yang masuk ke kas desa cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Pendapatan sempat turun ketika pandemi Covid-19 yang diketahui berdampak ke semua sektor termasuk pariwisata.

"Kami tahun 2020 itu pas Covid-19 itu pendapatannya Rp256 juta. Di tahun 2021 naik jadi Rp602 juta. Di tahun 2022 sampai bulan Agustus, bisa sampai Rp867 juta," kata Rizal.

Baca juga: Bangkitkan Ekonomi Desa, PGN akan Tambah Jumlah Balkondes yang Dibina

Ketika pandemi Covid-19, tenaga kerja pun tak ada yang dirumahkan. Mereka yang bekerja dan dibantu warga lainnya, lanjut Rizal, membantu proses pembangunan Balkondes Wringinputih yang berkonsep baru jelang akhir tahun 2022.

Halaman:

Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau