Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Cerita Yohanes Bangun Uncle Jo Coffee, Berawal karena Sering Meeting di Kedai Kopi

Kompas.com, 21 April 2024, 16:00 WIB
Anagatha Kilan Sashikirana,
Wahyu Adityo Prodjo

Tim Redaksi

BOGOR, KOMPAS.com - Sebuah kedai kopi di tengah Kota Bogor terlihat ramai pengunjung sore itu. Uncle Jo Coffee Shop memang salah satu tempat nongkrong di Bogor yang cukup hits di kalangan Gen Z dan Milenial.

Owner Uncle Jo Coffee Shop, Yohanes Handoyo menghampiri dan menyambut kedatangan Kompas.com. Pria yang akrab disapa Jo itu mulai bercerita awal mulanya membangun kedai kopi ini. Jo mengatakan bahwa awalnya dia sering meeting di cafe, kemudian muncul ide untuk membuat kedai kopi sendiri.

"Background pendidikan saya ekonomi manajemen. Kemudian saya jadi kontraktor sejak tahun 2012. Awlnya bikin kedai kopi itu karena sering meeting dengan klien di kedai kopi. Saya berpikir, kenapa enggak bikin kedai kopi sendiri, ya? Mendingan meeting di kedai kopi sendiri deh," kata Jo saat diwawancarai Kompas.com pada Kamis (18/4/2024).

Baca juga: Cerita Adi Sernovian Merintis Usaha Warung Kopi Kekinian di Pasar

Perjalanan Jo Membangun Uncle Jo Coffee

Pada tahun 2018 akhirnya Uncle Jo Coffee mulai berjalan. Berlokasi di Jalan Gedong Sawah, Kota Bogor, awalnya bangunan ini merupakan kantor kontraktor. Kini menjadi Uncle Jo Coffee Shop, outlet pertama dan pusatnya.

Sebelum membangun Uncle Jo Coffee, Jo sempat pergi ke Yogyakarta untuk mencari ide dan konsep kedai kopinya. Dari sana Jo melihat banyak warung kopi yang harganya murah dan tempatnya sederhana, tetapi warung kopi itu bisa ramai pengunjung.

Berhubung Jo juga ingin membangun kedai kopi dengan modal yang tidak terlalu besar, perjalanannya ke Yogyakarta membuat Jo semakin yakin bahwa tidak perlu mengeluarkan modal secara berlebihan untuk memulai bisnis kedai kopi.

"Jadi dulu saya inginnya low budget, kami lihat di Yogyakarta banyak warung kopi yang tempatnya sederhana tapi ramai pengunjung. Akhirnya saya pikir, ah kenapa harus investasi mahal? Toh, ini bisnisnya juga masih fifty-fifty. Bisnis utama kami di kontraktor, kedai kopi ini untuk mendampingi bisnis kontraktornya," pikir Jo.

Uncle Jo Coffee ShopDok. Uncle Jo Coffee Uncle Jo Coffee Shop
Budget awal Jo untuk memulai bisnis kedai kopi berkisar Rp 120 juta. Dari modal tersebut, untuk bahan baku dia menghabiskan sekitar Rp 6 juta sudah bisa memulai bisnis kedai kopi.

Bahkan saat itu Jo belum menggunakan mesin kopi sehingga masih mengerjakan secara manual. Namun, pengeluaran terbesar adalah untuk renovasi tempat. Jo memilih konsep cafe yang homey ala suasana rumah.

Pria asal Bogor ini juga belajar secara otodidak mengenai kopi sembari menjalankan bisnisnya. Ia mengaku memiliki rekan yang cukup memiliki passion terhadap kopi, Jo mulai belajar dari rekannya tersebut. Selain itu, tentunya dengan merekrut barista bisa membantu Jo dalam mendalami industri kopi ini.

Baca juga: Cerita Azka Pebisnis Muda Bangun Kuku Riku House, Cafe Ala Film Ghibli

Cabang Uncle Jo X Bar, Kolaborasi Dengan Barista

Fakta menariknya, Uncle Jo Coffee yang sudah memiliki beberapa cabang ini ternyata memiliki dua kategori, yaitu Uncle Jo Coffee Shop sebagai pusat dan sisanya adalah Uncle Jo X Bar sebagai cabang.

Pasalnya, ini salah satu misi Jo untuk berkolaborasi dengan barista untuk memiliki bisnis bersama. Oleh karena itu dia membuat Uncle Jo X Bar (Barista).

"Sebenarnya ini lebih ke misi. Jadi kalau saya sendiri sudah cukup hidup dengan satu outlet Uncle Jo Coffee ini. Tapi saya ingin membantu para barista untuk punya income yang lebih. Tujuannya dibuka Uncle Jo X Bar ini kami menyiapkan share saham untuk mereka. Jadi barista-baristanya itu mendapatkan share, ada yang dapat share omzet dan share dividen. Dana yang kami hasilkan dari X Bar juga tujuannya untuk menyejahterakan karyawan kami misalnya dengan training-training, " ungkap Jo.

Untuk penjualan, harga yang ada di Uncle Jo X Bar lebih murah jika dibandingkan dengan Uncle Jo Coffee. Meskipun demikian, semua bahan baku dan material tetap sama dengan pusatnya, yaitu Uncle Jo Coffee. Selain itu, untuk menu di Uncle Jo X Bar tidak ada makanan berat seperti di Uncle Jo Coffee.

Uncle Jo X Bar SKIDok. Uncle Jo Uncle Jo X Bar SKI

"Jadi bedanya itu, untuk di Uncle Jo X Bar kami memangkas fix cost hingga 30 persen. Jadi harganya lebih murah di X Bar walaupun bahan baku semuanya sama tidak ada yang kami kurangin. Menu juga secara prinsip sama, tapi di X Bar itu tidak ada makanan beratnya," jelas Jo.

Baca juga: Sejarah Tan Ek Tjoan, Roti Legendaris asal Bogor Sejak 1920

Halaman:

Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau