Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Berawal dari Keresahan, Komunitas Ini Sulap Sampah Organik Jadi Briket

Kompas.com - 30/05/2024, 10:00 WIB
Ester Claudia Pricilia,
Wahyu Adityo Prodjo

Tim Redaksi

Proses Produksi Arang Briket Sehat

Setelah mendapatkan kayu atau ranting-ranting, langkah selanjutnya adalah dengan membakarnya dengan menggunakan metode pirolisis, yaitu di dalam tabung yang hampa akan udara. Semua pembakaran menimbulkan asap, begitu juga dengan produksi arang briket ini.

“Asapnya tentu tidak kami lepas begitu saja, karena akan merusak lingkungan. Kami mengubah asap itu menjadi asap cair, karena metode pirolisis yang kami lakukan,” jelas Rena.

Hasil pembakaran sampah yang telah menjadi arang kemudian ditumbuk menggunakan lumpung batu, kemudian diayak menggunakan saringan. Setelah menemukan bubuk yang halus dicampur dengan tepung kanji untuk proses perekatan.

“Setelah keras dipress dan dicetak, baru langkah terakhir dijemur di bawah terik matahari,” jelas Rena.

Sampah Jadi Emas dapat Apresiasi dari Menteri dan Walikota Medan

Seperti jargon Komunitas Briket Medan ‘Sampah Kita Menjadi Emas’, briket itu dapat dijual dan menghasilkan cuan tambahan bagi para ibu-ibu rumah tangga itu.

Mereka tidak perlu membeli bahan baku untuk menghasilkan briket yang layak jual dan bersaing di pasaran.

“Buang sampah itu bayar, tapi kalau kita bisa mengolahnya justru kita bisa dapat uang dari situ,” ujar Rena yang juga menjabat sebagi dosen.

Briket yang Rena ciptakan juga sudah terbukti aman dan sehat karena sudah diuji di laboratorium. Rena menyatakan, asap mengandung karsinogenik atau racun.

Namun, saat telah terjadi pembakaran dengan suhu panas sebesar 385 derajat celcius atau lebih, racun, bakteri, atau kotoran dari sampah sudah mati. Ditambah racun dari asap yang dihasilkan telah diubah menjadi uap cair. Jadi semua racun sudah dipastikan tidak ada lagi.

Aksi komunitas Gang Macan ini telah diapresiasi oleh Plt Wali Kota Medan, Akhyar Nasution; dan Wakil Ketua TP PKK Kota Medan, Nurul Khairani Lubis. Bahkan Menteri Koperasi dan UKM, Teten Masduki pernah mengunjungi langsung Rumah Briket Medan.

Peningkatan Produksi Menjadi Pabrik

Berkat inovasi dan kreatifitas komunitas Gang Macan, Dinas Koperasi Kota Medan pun membantu komunitas itu dengan memberikan alat serta teknologi yang mumpuni.

Jadi saat ini komunitas itu telah berkembang menjadi pabrik yang dinamai Rumah Briket Medan. Mengungsung title pabrik, lonjakan produksi per harinya pun terjadi.

Rena menjelaskan, sebelumnya komunitas Gang Macan hanya menggunakan peralatan manual, sehingga briket arang yang dihasilkan hanya 10 kilogram. Itu pun tidak pasti karena masih tergantung dengan cuaca.

Baca juga: Argopandoyo dan Vera Tjahyani, Pasutri yang Rintis Bisnis Homedecor dari Sampah Tak Terpakai

“Kalau matahari cukup terik, briket arang akan cepat kering. Berarti proses akan lancar dan cepat selesai,” tambah Rena

Proses manual itu dalam dua jam hanya akan menghasilkan satu buah briket arang. Namun setelah hadir mesin pengolahan briket pada pabrik Rumah Briket Medan, satu harinya mereka dapat menghasilkan 250 kilogram briket arang.

“Jadi saat ini, komunitas Gang Macan hanya membantu dalam mem-packing briketnya,” pungkas Rena.

Akhir kata, Rena berharap agar kita semua dapat sadar akan isu sampah. Baginya, permasalahan sampah berdampak bagi semua orang.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Halaman:

Terkini Lainnya

LPEI Salurkan Pembiayaan Rp 524 Miliar untuk Perkuat Ekspor Alat Kesehatan RI

LPEI Salurkan Pembiayaan Rp 524 Miliar untuk Perkuat Ekspor Alat Kesehatan RI

Program
25 Penyandang Disabilitas di Malang Raya Rajut Asa dengan Jalankan Bisnis

25 Penyandang Disabilitas di Malang Raya Rajut Asa dengan Jalankan Bisnis

Jagoan Lokal
Tinggalkan Gaji 40 Juta Per Bulan, Kini Doni Sukses Berbisnis Madu Berkat Pemasaran Daring

Tinggalkan Gaji 40 Juta Per Bulan, Kini Doni Sukses Berbisnis Madu Berkat Pemasaran Daring

Jagoan Lokal
Jatuh Bangun Bayu Rintis Bisnis, Hingga Tembus Pasar Ekspor Berkat Digitalisasi

Jatuh Bangun Bayu Rintis Bisnis, Hingga Tembus Pasar Ekspor Berkat Digitalisasi

Jagoan Lokal
Pesanan Pembuatan Parsel di Kota Malang Meningkat Selama Ramadhan

Pesanan Pembuatan Parsel di Kota Malang Meningkat Selama Ramadhan

Training
Kata Oma, Telur Gabus Olahan Ibu yang Kini Mendunia

Kata Oma, Telur Gabus Olahan Ibu yang Kini Mendunia

Jagoan Lokal
Kisah Dua Mantan Pengikut Kelompok Radikal yang Memilih Belajar Beternak Kambing

Kisah Dua Mantan Pengikut Kelompok Radikal yang Memilih Belajar Beternak Kambing

Jagoan Lokal
UKM Bisa Kelola Tambang, Kadin: Kalau Berhasil Manfaatnya Dirasakan Semua

UKM Bisa Kelola Tambang, Kadin: Kalau Berhasil Manfaatnya Dirasakan Semua

Program
Astra Dorong Perekonomian NTT Lewat Pemberdayaan UMKM Kopi dan Kakao

Astra Dorong Perekonomian NTT Lewat Pemberdayaan UMKM Kopi dan Kakao

Program
Si Emas Hijau dari Desa Loha, Kecamatan Macang Pacar, Kabupaten Manggarai Barat

Si Emas Hijau dari Desa Loha, Kecamatan Macang Pacar, Kabupaten Manggarai Barat

Jagoan Lokal
Menteri Ekraf Tinjau 300 Emak-Emak di Kota Malang Belajar E-Commerce

Menteri Ekraf Tinjau 300 Emak-Emak di Kota Malang Belajar E-Commerce

Program
Kembangkan Potensi Ekonomi NTT, YDBA Beri Pendampingan bagi Petani Vanili dan Mete

Kembangkan Potensi Ekonomi NTT, YDBA Beri Pendampingan bagi Petani Vanili dan Mete

Program
BNI Jejak Kopi Khatulistiwa Dukung Kopi Garut Swasembada Pangan dan Go Global

BNI Jejak Kopi Khatulistiwa Dukung Kopi Garut Swasembada Pangan dan Go Global

Program
TikTok Latih 600 UMKM Indonesia untuk Hasilkan Konten menarik

TikTok Latih 600 UMKM Indonesia untuk Hasilkan Konten menarik

Program
DPMA IPB Gali Potensi Ekonomi di Desa Sejahtera Astra Tegal dan Pemalang

DPMA IPB Gali Potensi Ekonomi di Desa Sejahtera Astra Tegal dan Pemalang

Program
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Terpopuler

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau