Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Cerita Nurjannah Rintis Bisnis Kecap Oishii, Berhasil Ekspor ke Jepang hingga Mesir

Kompas.com, 17 Juni 2024, 20:13 WIB
Ester Claudia Pricilia,
Bestari Kumala Dewi

Tim Redaksi

“Orang Indonesia kebanyakan sudah terbiasa dengan rasa yang mengandung MSG, kecap Oishii kan enggak pakai, makanya mereka kurang suka,” jelas Nur.

Tak mendapat respons bagus di negeri sendiri, membuat Nur juga tak pernah terpikir untuk melakukan ekspor.

Baca juga: Luncurkan Platform Digital, LPEI Mudahkan UKM Lakukan Ekspor

Namun tak disangka, kecap Oishii yang terbuat dari bahan alami justru lebih diminati oleh orang-orang luar negeri.

Perbedaan respons itu, ia ketahui saat diajak temannya mengikuti pameran ekspor internasional. Ia mendapatkan respon yang luar biasa dari para buyer luar negeri.

“Buyer dari Australia sama Canada suka banget sama kecap Oishii soalnya gluten free dan enggak pakai MSG,” bebernya.

Melihat peluang itu, Nur mulai berpikir untuk melakukan ekspor. Pada awal 2019 pun ia mengikuti program CPNE (Coaching Program for New Exporter) yang diadakan oleh LPEI (Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia).

Ia mengikuti berbagai pelatihan dan bimbingan dari LPEI selama setahun dan kemudian lolos kurasi.

“Kami lolos kurasi dan dapat tampil di booth LPEI, di pameran yang sama, yaitu TEI 2019,” katanya.

Dari situlah Nur mulai mendapatkan buyer luar negeri, hingga mulai resmi mengeskpor kecap Oishii ke Jepang pada tahun 2020, dan selanjutnya juga mengekspor ke Arab Saudi, Malaysia, serta Mesir.

“Orang Indonesia banyak yang ke Arab Saudi untuk Ibadah Haji atau Umroh, jadi pasarnya cukup besar di sana. Bahkan, sekarang sudah ada di beberapa hotel di sana,” papar Nur.

Peningkatan Drastis Produksi Kecap Ketika Ekspor

Nur mengatakan, setelah melakukan ekspor, ia mulai mendapatkan pesanan dari luar negeri dalam jumlah banyak. Hal ini sempat membuatnya kewalahan dalam proses produksinya.

Apalagi saat itu, permintaan untuk eskpor kecap Oishii meningkat sangat naik drastis. Produksi kecap Oishii yang sebelumnya 10 ribu per bulan, menjadi 130 ribu kecap per dua minggu.

Sementara CV Ikapeksi Agro Industri hanya mempunyai 10 orang tenaga kerja tetap, sehingga jika ada pesanan dari luar negeri dalam jumlah banyak, Nur harus merekrut tambahan anak-anak muda untuk membantu produksi kecap Oishii.

“Kami pakai tenaga borongan kalo orderan banyak. Anak-anak muda itu baru belajar saat itu juga, yang penting mereka bisa diarahkan dengan baik dan amanah,” pungkasnya.

Baca juga: Desa Devisa Batik Aromaterapi Binaan LPEI Berhasil Ekspor ke Amerika

Selain ekspor, untuk penjualan dalam negeri, kecap Oishii juga bisa dipesan di e-commerce Indonesia seperti Tokopedia dan Shopee. Nur juga mempromosikannya melalui media sosal Instagram (@kecapkuoishii).

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:

Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Terpopuler
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau