Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Bidik Segmen Penikmat Kopi, Putu Jaya Kembangkan Brand Sobat Rindu

Kompas.com, 19 Desember 2022, 16:24 WIB
Add on Google
Bambang P. Jatmiko

Editor

JEMBER, KOMPAS.com - Jember menjadi salah satu wilayah yang perekonomiannya ditopang oleh perkebunan. Selain tembakau, kopi menjadi komoditas perkebunan yang turut menggerakkan ekonomi di salah satu kabupaten di Jawa Timur ini.

Kopi jenis robusta menjadi komoditas andalan Jember. Ada banyak petani yang menggantungkan pendapatannya pada kopi jenis ini. Karena itu pula, ekosistem bisnis kopi cukup  berkembang di wilayah ini.

Tak hanya petani dan pedagang, coffee shop (kedai kopi), pengolahan, hingga coffee roastery (penyangrai kopi) banyak bermunculan. Hal ini lantas membuka kesempatan berbisnis bagi mereka yang tertarik pada kopi.

Baca juga: Cerita Bhakti Bantu Kedai Kopi Lokal Jember Hadapi Persaingan dengan Brand-brand Besar

Seperti yang ditekuni oleh Putu Jaya Abadi (58) pemilik brand kopi Sobat Rindu. Sebagai pecinta kopi, Putu sangat menikmati profesinya sebagai roaster setelah dia pensiun dari tempatnya bekerja.

"Saya membidik segmen pasar penikmat kopi, segmen pasar yang tidak besar namun mereka adalah orang-orang yang mengerti kopi," ujarnya saat berbincang dengan Kompas.com, Sabtu (17/12/2022).

Putu mengungkapkan, ekosistem kopi yang cukup besar di Jember memungkinkan dia belajar dan menekuni usaha baru. Di Jember, dia tak hanya bisa bertemu langsung dengan petani kopi dan penyedia bahan baku, namun juga bisa belajar dan mendapatkan peralatan untuk menunjang usahanya itu di Jember.

"Seperti alat sangrai ini, saya beli dari produsen di Jember. Cukup canggih karena ada sensor yang dihubungkan ke komputer untuk melihat level pemasakan kopinya," ungkapnya.

Layani hingga Luar Kota

Meski terbilang baru, konsumen Sobat Rindu milik Putu sudah sampai ke luar Jember. Dia memanfaatkan jaringan pertemanan dan grup WhatsApp untuk memasarkan kopinya.

Untuk memenuhi permintaan, dia juga memasarkan kopi-kopi yang berasal dari luar Jember seperti jenis kopi Kintamani, Bajawa, Mandailing, dan sebagainya.

"Karena segmen yang saya bidik adalah penikmat kopi, kopi yang saya olah benar-benar harus diperlakukan secara detail. Mulai dari ukuran kopi, kadar air, hingga level kematangan. Bagaimanapun, itu sangat berpengaruh terhadap rasa," ungkapnya.

Baca juga: Merintis Kedai Kopi dengan Modal Kecil, Tak Wajib Punya Mesin Kopi

Untuk menjaga kualitas kopi yang dipasarkan, Putu juga langsung berkunjung ke petani kopi guna melihat cara petiknya.

Sementara untuk kopi dari luar daerah, dia memastikan bahwa kopi tersebut berasal dari daerah penghasil kopi yang diharapkan. Di grup WA, dia memiliki jaringan pertemanan dengan para penyuplai kopi tersebut.

Sementara itu, Konsultan Pendamping Pusat Layanan Usaha Terpadu (PLUT) Kabupaten Jember Bhakti Dharmawan menuturkan, kopi dengan brand Sobat Rindu ini menjadi salah satu bagian dari ekosistem bisnis kopi yang mulai bergeliat di Jember.

"Setiap pelaku usaha memiliki segmen sendiri-sendiri, dan Pak Putu membidik segmen yang agak unik yakni penikmat kopi," ungkapnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang


Terkini Lainnya
Bangun Ekonomi Digital Asia, Cyberport Hong Kong Gandeng Sejumlah Institusi Indonesia
Bangun Ekonomi Digital Asia, Cyberport Hong Kong Gandeng Sejumlah Institusi Indonesia
Program
Menghindari Salah Arah Alokasi Dana Desa untuk KDMP
Menghindari Salah Arah Alokasi Dana Desa untuk KDMP
Program
'TKTD' untuk Wirausaha Disabilitas
"TKTD" untuk Wirausaha Disabilitas
Program
Dapat Bantuan Alat Modern, Perajin Patung dan Miniatur di Kota Malang Kebanjiran Pesanan
Dapat Bantuan Alat Modern, Perajin Patung dan Miniatur di Kota Malang Kebanjiran Pesanan
Program
LPDB Salurkan Pembiayaan ke KDKMP Sidomulyo Jember untuk Dukung Ekspor Kopi
LPDB Salurkan Pembiayaan ke KDKMP Sidomulyo Jember untuk Dukung Ekspor Kopi
Program
Kisah Para Penjual Makanan di Kawasan Industri Nikel Weda, Sehari Bisa Raup Omzet Rp 10 Juta
Kisah Para Penjual Makanan di Kawasan Industri Nikel Weda, Sehari Bisa Raup Omzet Rp 10 Juta
Jagoan Lokal
Penyaluran Kredit di 7 Wilayah Jatim Tumbuh 8,41 Persen, Malang Raya Didominasi Pelaku UMKM
Penyaluran Kredit di 7 Wilayah Jatim Tumbuh 8,41 Persen, Malang Raya Didominasi Pelaku UMKM
Training
Kementerian UMKM Fasilitasi Legalitas dan Pembiayaan kepada 1.000 Usaha Mikro di NTT
Kementerian UMKM Fasilitasi Legalitas dan Pembiayaan kepada 1.000 Usaha Mikro di NTT
Program
Pertamina Boyong 45 UMKM Binaan ke Trade Expo Indonesia 2025
Pertamina Boyong 45 UMKM Binaan ke Trade Expo Indonesia 2025
Program
Penjualan Stagnan, Puluhan UMKM di Kota Malang Dibekali Jurus Pemasaran Digital
Penjualan Stagnan, Puluhan UMKM di Kota Malang Dibekali Jurus Pemasaran Digital
Training
Tanpa Dirigen, Orkestra UMKM Hanya Riuh Tanpa Irama
Tanpa Dirigen, Orkestra UMKM Hanya Riuh Tanpa Irama
Program
Pedagang Mengeluh Soal QRIS, Diskopindag Kota Malang Akui Tak Bisa Paksa
Pedagang Mengeluh Soal QRIS, Diskopindag Kota Malang Akui Tak Bisa Paksa
Program
Indonesia Eximbank Luncurkan Buku Strategi Ekspor Jawa Tengah
Indonesia Eximbank Luncurkan Buku Strategi Ekspor Jawa Tengah
Program
Produk Sambel Uleg Hingga Pot Tanaman dari Jawa Timur Tembus Pasar Global
Produk Sambel Uleg Hingga Pot Tanaman dari Jawa Timur Tembus Pasar Global
Program
BRI Rampungkan Pelatihan bagi Pengelola 100 Desa BRILiaN
BRI Rampungkan Pelatihan bagi Pengelola 100 Desa BRILiaN
Program
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Terpopuler
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau