Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kisah Hotifah, Merintis Bisnis Kentang Mustofa Bermodal Rp 500 Ribu Setelah Kena PHK

Kompas.com, 5 April 2024, 12:23 WIB
Ester Claudia Pricilia,
Bestari Kumala Dewi

Tim Redaksi

"Kami sudah mempunyai supplier tetap untuk stok kentangnya. Jadi setiap dua minggu, sebanyak 50 kg kentang akan dikirimkan," ungkap Hotifah.

Waktu pengerjaan produksi kentang mustofa menghabiskan waktu sekitar dua hari, hingga siap dijual.

Untuk memproduksi kentang mustofa, Hotifah memberdayakan dua orang tenaga kerja, di mana keduanya adalah ibu rumah tangga yang tinggal di sekitar rumah produksi Hotifah, yaitu di daerah Kembangan, Jakarta Barat.

Baca juga: Kisah Sepasang Collection, Merintis Bisnis Sepatu Saat Pandemi Covid-19

"Produksi sebagian besar masih menggunakan tangan (manual), satu-satunya yang menggunakan mesin adalah alat untuk potong atau serut kentang dan oven," paparnya.

"Jadi untuk mengupas, membumbui, dan lain sebagainya masih murni menggunakan tangan," lanjut Hotifah.

Selain dua orang pegawai, Hotifah juga turun tangan dalam proses produksi, marketing, dan penjualan.

"Dengan dioven, kentang mustofa Maipeh Food bisa tahan hingga 3 bulan. Kentangnya juga jauh lebih kriuk, karena dengan dioven, menghilangkan kandungan air dan minyak sisa goreng. Jadi kentang bisa awet tanpa pengawet," jelasnya.

Produk kentang mustofa yang minim minyak dan tahan hingga 3 bulan itu dibandrol dari harga Rp 25 hingga Rp 50 ribu.

Dengan varian original (kentang saja), kentang teri, kentang teri kacang, dan kentang kacang. Hingga saat ini, varian original masih menjadi produk yang paling laris.

Penjualan dan Omzet Naik di Bulan Ramadan

Memasuki bulan Ramadan, penjualan Maipeh Food meningkat tiga sampai empat kali lipat dari bulan biasanya.

"Omzet Maipeh Food bisa naik menjadi Rp 30-40 juta, sekitar 600-700 kaleng kentang mustofa bisa ludes hanya di bulan puasa," ungkap Hotifah.

Spesial di bulan Ramadan, Hotifah juga menyediakan versi hampers. Menurutnya hal itulah yang menjadikan penjualan Maipeh Food naik. Hal ini menjadi berkah bagi Hotifah, tetapi di sisi lain juga menjadi tantangan.

“Yang ngerjain sama permintaan yang masuk enggak seimbang. Permintaan tinggi tapi tenaga kerja enggak ada, apalagi alat produksinya juga kurang mumpuni karena memang masih manual. Jadi kayak kejar-kejaran,” jelas Wanita asli Tegal itu.

Selain itu, belum lagi ditambah dengan kenaikan harga bahan baku seperti minyak, cabai, dan terutama kentang. Maka dari itu, biasanya Hotifah akan menyiapkan stok kentang terlebih dahulu.

Namun, jika naiknya harga kentang sudah melebihi budget Hotifah, ia akan memutuskan untuk berhenti produksi sementara.

Baca juga: Cerita Nevia Merintis Bisnis Fesyen Muslim, Omzet Naik 75 Persen Saat Ramadan

Halaman:

Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau