Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Gunakan Kapas Asli Lombok, Kerajinan Rajut Buatan Sri Wahyuni Laris di Pasaran

Kompas.com, 22 Juni 2022, 20:09 WIB
Bambang P. Jatmiko

Editor

KOMPAS.com - Bisnis apapun jika dilakukan dengan sepenuh hati dan sesuai passion, pasti hasilnya sesuai dengan yang diharapkan. Tak jarang, sebuah hobi yang awalnya hanya coba-coba, justru bisa mendatangkan cuan yang tak kecil ketika dikerjakan dengan serius.

Hal itu pula yang dialami oleh Sri Wahyuni (45) selaku owner Uniq Rajut Dan Fashion yang tinggal di Lombok Barat Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Sebagaimana nama brand yang dimiliki, Sri Wahyuni memproduksi kerajinan rajut yang diproses secara tradisional.

Sri Wahyuni tak sekedar merajut. Dia memanfaatkan bahan baku lokal berupa benang yang dipintal secara tradisional dengan memanfaatkan kapas yang tumbuh dari tanah Pulau Lombok. 

Baca juga: 4 Tips Membangun Branding yang Bisa Bikin Produk Jualan jadi Terkenal

"Prinsip kami, berusaha memulai usaha dari hal yang kecil untuk kemudian dapat dikembangkan menjadi usaha yang besar," kata Sri Wahyuni, Rabu (22/6/2022).

Penggunaan bahan baku lokal dan pembuatan secara tradisional, ternyata membuat produk-produk rajutan Sri Wahyuni punya daya tarik yang tinggi. Tak hanya diminati oleh wisatawan lokal, pembeli dari luar negeri juga banyak yang berminat membeli kerajinan rajutnya.

Keberhasilan Sri Wahyuni memproduksi dan memasarkan kerajinan rajutan yang berkwalitas tidak lepas dari perjalanan panjang yang dia lalui. 

Berawal Dari Hobi

Sri Wahyuni kesehariannya adalah ibu rumah tangga. Di sela-sela kesibukannya mengurus keluarga, dia rajin membuat tas rajut untuk di pakai sendiri dan keluarga sendiri. Ini dilakukan karena Yuni memang memiliki hobi merajut.

Lama-kelamaan, tas rajutan yang dibuat Yuni menarik perhatian teman-temannya. Model yang unik dan handmade membuat tas tersebut beda dari yang lain.

"Teman-teman mulai tertarik untuk di buatkan produk yang sama. Karena melihat adanya peluang di bisnis tersebut, maka saya mulai menjadikannya usaha," tutur Yuni.

Usaha rajutan yang dijalankan Yuni merupakan usaha yang dijalankan sendiri. Mulai dari menyiapkan bahan baku, membuat model untuk produk-produk ready stock, merajut sampai memasang furing dilakukannya sendiri.

Baca juga: Bulu Mata asal Purworejo Bisa Ekspor ke 20 Negara, Ini Tips Suksesnya

Usaha Berkembang dari Pesanan Teman

Yuni menuturkan bahwa bisnisnya berkembang lantaran pesanan teman-temannya. Namun seiring dengan itu, dia mulai berpikir untuk bisa membesarkan usahanya yang telah dirintis mulai 2014 tersebut.

Untuk itu, dia berinisiatif memanfaatkan sejumlah platform media sosial seperti Facebook, Instagram, serta Whatsapp untuk menjangkau pelanggan yang lebih jauh.

Dengan menggunakan platform medsos tersebut, Yuni yang tadinya hanya bisa menjangkau sekitar tempat tinggal, kemudian meluas sampai ke luar daerah antara lain Jawa, Bali, Kalimantan, Sumatera, hingga NTT.

Tak hanya itu, produk-produknya juga banyak dipesan konsumen dari luar negeri. 

"Dengan semakin berkembangnya usaha kami, sekarang kami memiliki dua orang karyawan yang membantu kami dalam mengerjakan pesanan-pesanan," jelas dia.

Halaman:

Terkini Lainnya
Bangun Ekonomi Digital Asia, Cyberport Hong Kong Gandeng Sejumlah Institusi Indonesia
Bangun Ekonomi Digital Asia, Cyberport Hong Kong Gandeng Sejumlah Institusi Indonesia
Program
Menghindari Salah Arah Alokasi Dana Desa untuk KDMP
Menghindari Salah Arah Alokasi Dana Desa untuk KDMP
Program
'TKTD' untuk Wirausaha Disabilitas
"TKTD" untuk Wirausaha Disabilitas
Program
Dapat Bantuan Alat Modern, Perajin Patung dan Miniatur di Kota Malang Kebanjiran Pesanan
Dapat Bantuan Alat Modern, Perajin Patung dan Miniatur di Kota Malang Kebanjiran Pesanan
Program
LPDB Salurkan Pembiayaan ke KDKMP Sidomulyo Jember untuk Dukung Ekspor Kopi
LPDB Salurkan Pembiayaan ke KDKMP Sidomulyo Jember untuk Dukung Ekspor Kopi
Program
Kisah Para Penjual Makanan di Kawasan Industri Nikel Weda, Sehari Bisa Raup Omzet Rp 10 Juta
Kisah Para Penjual Makanan di Kawasan Industri Nikel Weda, Sehari Bisa Raup Omzet Rp 10 Juta
Jagoan Lokal
Penyaluran Kredit di 7 Wilayah Jatim Tumbuh 8,41 Persen, Malang Raya Didominasi Pelaku UMKM
Penyaluran Kredit di 7 Wilayah Jatim Tumbuh 8,41 Persen, Malang Raya Didominasi Pelaku UMKM
Training
Kementerian UMKM Fasilitasi Legalitas dan Pembiayaan kepada 1.000 Usaha Mikro di NTT
Kementerian UMKM Fasilitasi Legalitas dan Pembiayaan kepada 1.000 Usaha Mikro di NTT
Program
Pertamina Boyong 45 UMKM Binaan ke Trade Expo Indonesia 2025
Pertamina Boyong 45 UMKM Binaan ke Trade Expo Indonesia 2025
Program
Penjualan Stagnan, Puluhan UMKM di Kota Malang Dibekali Jurus Pemasaran Digital
Penjualan Stagnan, Puluhan UMKM di Kota Malang Dibekali Jurus Pemasaran Digital
Training
Tanpa Dirigen, Orkestra UMKM Hanya Riuh Tanpa Irama
Tanpa Dirigen, Orkestra UMKM Hanya Riuh Tanpa Irama
Program
Pedagang Mengeluh Soal QRIS, Diskopindag Kota Malang Akui Tak Bisa Paksa
Pedagang Mengeluh Soal QRIS, Diskopindag Kota Malang Akui Tak Bisa Paksa
Program
Indonesia Eximbank Luncurkan Buku Strategi Ekspor Jawa Tengah
Indonesia Eximbank Luncurkan Buku Strategi Ekspor Jawa Tengah
Program
Produk Sambel Uleg Hingga Pot Tanaman dari Jawa Timur Tembus Pasar Global
Produk Sambel Uleg Hingga Pot Tanaman dari Jawa Timur Tembus Pasar Global
Program
BRI Rampungkan Pelatihan bagi Pengelola 100 Desa BRILiaN
BRI Rampungkan Pelatihan bagi Pengelola 100 Desa BRILiaN
Program
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Terpopuler
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau