Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Apa yang Penyebab Merek China Bisa Dominasi Pasar Lokal Saat Ini?

Kompas.com, 1 Desember 2024, 14:48 WIB
Add on Google
Anagatha Kilan Sashikirana,
Wahyu Adityo Prodjo

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com — Persaingan di pasar ritel saat ini semakin ketat dengan kehadiran merek-merek asal China yang dinilai semakin agresif memperluas pangsa pasar mereka di Indonesia.

Hypefast, sebagai perusahaan ritel berbasis teknologi yang menaungi sejumlah merek lokal di Asia Tenggara, menyoroti bahwa merek lokal tengah menghadapi tantangan besar, terutama dari kompetisi dengan merek asing seperti merek asal China. Hal ini seperti yang dipaparkan oleh CEO Hypefast, Achmad Alkatiri.

Baca juga: Tantangan dan Strategi Tarunira Mendorong Digitalisasi Petani Lontar

Dalam pemaparannya di acara disuksi bertajuk “Key Growth Driver for Local Brands in 2025”, Achmad memiliki beberapa penjelasan yang mungkin menjadi alasan mengapa saat ini merek lokal menghadapi tantangan atas dominasi merek China.

1. Harga Lebih Murah

Salah satu keunggulan utama merek China adalah kemampuan mereka menawarkan harga yang lebih rendah dibandingkan merek lokal, bahkan mencapai 20-30 persen lebih murah.

Tak bisa, dipungkiri beberapa konsumen cenderung membeli produk dari luar karena harganya yang jauh lebih murah dibandingkan produk lokal.

Hal ini dimungkinkan berkat skala ekonomi yang besar dan efisiensi produksi yang tinggi. Merek-merek ini memiliki rantai pasok yang kuat, sumber bahan baku yang murah, dan proses produksi yang bisa memangkas biaya.

Baca juga: Tantangan Menggunakan Konsinyor dalam Bisnis dengan Sistem Konsinyasi

“Kalau merek China di compare dengan teman-teman merek lokal, di segmentasi produk yang sama, rata-rata harga merek China itu 20-30 persen lebih murah. Dengan produksi dan ekosistem yang memungkinkan mereka untuk bersaing pada harga yang jauh lebih murah,” ungkap Achmad.

2. Anggaran Pemasaran yang Lebih Besar

Achmad menyebutkan, merek China mengalokasikan anggaran yang cenderung lebih besar untuk pemasaran, mencapai hingga 35 persen dari pendapatan mereka. Kemudian Achmad membandingkan, jika dilihat merek lokal biasanya hanya mengalokasikan sekitar 7-10 persen.

Investasi ini mereka gunakan untuk berbagai saluran pemasaran, seperti iklan di media digital, billboard, promosi di platform e-commerce, hingga kolaborasi dengan influencer.

Dampak dari strategi ini adalah merek China yang semakin dominan di berbagai platform pemasaran, sehingga memperkuat mereka untuk membangun brand awareness.

Baca juga: Tantangan UMKM dalam Melakukan Ekspansi dan Cara Mengatasinya

Which is lead to our next findings, merek China di Indonesia itu spending sampai dengan 35 persen untuk marketing. Sementara untuk merek lokal secara keseluruhan, itu 7-10 persen. Mereka memiliki cost ratio marketing yang sangat berbeda, hingga tiga kali lipat dari rata-rata merek lokal. Ini menjadikan mereka jauh lebih terlihat oleh konsumen,” katanya.

3. Kecepatan dalam Mengembangkan dan Meluncurkan Produk

Kecepatan menjadi salah satu faktor utama keberhasilan merek China. Dengan kemampuan untuk mempelajari tren pasar dan memproduksi produk dalam waktu singkat, mereka dapat menyesuaikan diri dengan kebutuhan konsumen lebih cepat dibandingkan dengan merek lokal.

Pasalnya, merek China cenderung dapat memanfaatkan data dari pasar untuk mengidentifikasi produk populer, lalu mengadaptasi produk tersebut dalam waktu dua hingga tiga bulan. Proses yang cepat ini memberikan mereka keunggulan besar dalam merespons perubahan permintaan pasar.

Baca juga: Tantangan Menjual Produk Tunggal dan Strategi untuk Mengatasinya

The next insight yang kita punya adalah, secara kecepatan rata-rata merek China itu cuman membutuhkan waktu setengah dari waktu average yang teman-teman merek lokal untuk melakukan perubahan,” tambah CEO Hypefast tersebut.

4. Strategi Penyebaran yang Luas hingga ke Daerah

Bahkan kini merek China secara agresif mulai memasuki pasar daerah dengan jaringan distribusi yang luas. Hal ini memberikan mereka keunggulan dalam menjangkau konsumen di seluruh Indonesia, termasuk di wilayah yang selama ini kurang atau belum dimaksimalkan oleh merek lokal.

Trust me, tujuh dari sepuluh toko di daerah sekarang itu sudah pasti ada produk dari merek China. Jadi mereka juga sudah masuk ke daerah-daerah,” tambahnya.

Baca juga: Ketahui 3 Tantangan Utama Menyusun Strategi Market Positioning

Masih berhubungan dengan hal ini, Achmad juga menyebutkan sebanyak 6 dari 10 konsumen Indonesia kemungkinan tidak dapat membedakan apakah produk yang mereka beli adalah merek lokal atau merek China.

“Berdasarkan asumsi dari kami, 6 dari 10 orang Indonesia itu tidak bisa membedakan mana merek lokal, atau mana merek China. Mereka masih mengira China Brand itu local brand. Satu hal yang bisa kita lakukan untuk bisa terus mendorong lokal brand, adalah dengan cara pendekatan emotional marketing,” pungkas Achmad.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang


Terkini Lainnya
Bangun Ekonomi Digital Asia, Cyberport Hong Kong Gandeng Sejumlah Institusi Indonesia
Bangun Ekonomi Digital Asia, Cyberport Hong Kong Gandeng Sejumlah Institusi Indonesia
Program
Menghindari Salah Arah Alokasi Dana Desa untuk KDMP
Menghindari Salah Arah Alokasi Dana Desa untuk KDMP
Program
'TKTD' untuk Wirausaha Disabilitas
"TKTD" untuk Wirausaha Disabilitas
Program
Dapat Bantuan Alat Modern, Perajin Patung dan Miniatur di Kota Malang Kebanjiran Pesanan
Dapat Bantuan Alat Modern, Perajin Patung dan Miniatur di Kota Malang Kebanjiran Pesanan
Program
LPDB Salurkan Pembiayaan ke KDKMP Sidomulyo Jember untuk Dukung Ekspor Kopi
LPDB Salurkan Pembiayaan ke KDKMP Sidomulyo Jember untuk Dukung Ekspor Kopi
Program
Kisah Para Penjual Makanan di Kawasan Industri Nikel Weda, Sehari Bisa Raup Omzet Rp 10 Juta
Kisah Para Penjual Makanan di Kawasan Industri Nikel Weda, Sehari Bisa Raup Omzet Rp 10 Juta
Jagoan Lokal
Penyaluran Kredit di 7 Wilayah Jatim Tumbuh 8,41 Persen, Malang Raya Didominasi Pelaku UMKM
Penyaluran Kredit di 7 Wilayah Jatim Tumbuh 8,41 Persen, Malang Raya Didominasi Pelaku UMKM
Training
Kementerian UMKM Fasilitasi Legalitas dan Pembiayaan kepada 1.000 Usaha Mikro di NTT
Kementerian UMKM Fasilitasi Legalitas dan Pembiayaan kepada 1.000 Usaha Mikro di NTT
Program
Pertamina Boyong 45 UMKM Binaan ke Trade Expo Indonesia 2025
Pertamina Boyong 45 UMKM Binaan ke Trade Expo Indonesia 2025
Program
Penjualan Stagnan, Puluhan UMKM di Kota Malang Dibekali Jurus Pemasaran Digital
Penjualan Stagnan, Puluhan UMKM di Kota Malang Dibekali Jurus Pemasaran Digital
Training
Tanpa Dirigen, Orkestra UMKM Hanya Riuh Tanpa Irama
Tanpa Dirigen, Orkestra UMKM Hanya Riuh Tanpa Irama
Program
Pedagang Mengeluh Soal QRIS, Diskopindag Kota Malang Akui Tak Bisa Paksa
Pedagang Mengeluh Soal QRIS, Diskopindag Kota Malang Akui Tak Bisa Paksa
Program
Indonesia Eximbank Luncurkan Buku Strategi Ekspor Jawa Tengah
Indonesia Eximbank Luncurkan Buku Strategi Ekspor Jawa Tengah
Program
Produk Sambel Uleg Hingga Pot Tanaman dari Jawa Timur Tembus Pasar Global
Produk Sambel Uleg Hingga Pot Tanaman dari Jawa Timur Tembus Pasar Global
Program
BRI Rampungkan Pelatihan bagi Pengelola 100 Desa BRILiaN
BRI Rampungkan Pelatihan bagi Pengelola 100 Desa BRILiaN
Program
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Terpopuler
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau