Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Inovasi dalam Industri Batik, CV. Astoetik Buat Kompor Batik Listrik

Kompas.com - 02/12/2024, 13:43 WIB
Anagatha Kilan Sashikirana,
Wahyu Adityo Prodjo

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com – Zaman boleh berubah, tetapi tradisi Indonesia jangan sampai hilang termakan zaman. Kehadiran teknologi justru bisa dimanfaatkan untuk semakin mendorong modernisasi di berbagai sektor industri, termasuk dalam membatik.

Saat ini, membatik tidak harus melulu sulit dan menggunakan alat tradisional. Warisan Indonesia ini juga bisa dipelajari dan dilestarikan dengan alat-alat yang canggih dan mudah digunakan.

Seperti inovasi alat-alat keperluan membatik yang dibuat oleh Astoetik Indonesia.
Berproduksi di sudut Bantul, Yogyakarta, Astoetik Indonesia mampu membuat tradisi dan teknologi bertemu.

Baca juga: Peluang Bisnis Batik Ramah Lingkungan dari Limbah Kertas

Membuat Kompor Batik Listrik karena Keterbatasan BBM

Direktur CV. Astoetik Indonesia, Aris Stiyawan berinovasi di industri batik dengan pendekatan modern. Sebagai seorang lulusan Teknik Elektro, Aris Stiyawan (34), awalnya tidak pernah menyangka bahwa dirinya akan mendalami dunia batik.

Aris memulai perjalanan inovasinya di industri batik ini justru saat Indonesia tengah mengalami kesulitan karena pembatasan penjualan minyak tanah pada saat itu.

Melihat kondisi yang cukup sulit ini, Aris tergerak untuk menciptakan kompor batik listrik pada tahun 2013 sebagai solusi atas kenaikan harga bahan bakar minyak tanah.

Dengan kompor elektrik, para pembatik tidak perlu lagi menggunakan kompor tradisional yang membutuhkan minyak tanah untuk membatik.

Baca juga: Kisah Perajin Batik Kujur Tanjung Enim Angkat Warisan, Inovasi, dan Keberlanjutan

"Saya juga awalnya enggak kepikiran, karena saya orang elektro. Tapi saat itu pemerintah menghentikan subsidi BBM, dan para pembatik kesulitan karena tadinya kan mereka menggunakan kompor minyak tanah, tapi karena enggak ada minyak tanah jadi pusing kan. Dari situ, saya mulai menciptakan sebuah kompor listrik, dan ternyata pasarnya luar biasa," kenang Aris saat berbincang dengan Kompas.com, (21/11/2024).

Perjalanan Aris Mengembangkan Astoetik

Direktur CV. Astoetik Indonesia, Aris Stiyawan berinovasi di industri batik dengan pendekatan modern. Sebagai seorang lulusan Teknik Elektro, Aris Stiyawan (34), awalnya tidak pernah menyangka bahwa dirinya akan mendalami dunia batik.KOMPAS.com/ANAGATHA KILAN SASHIKIRANA Direktur CV. Astoetik Indonesia, Aris Stiyawan berinovasi di industri batik dengan pendekatan modern. Sebagai seorang lulusan Teknik Elektro, Aris Stiyawan (34), awalnya tidak pernah menyangka bahwa dirinya akan mendalami dunia batik.

Kompor batik listrik tersebut tidak hanya diterima dengan baik, tetapi juga menjadi cikal bakal berdirinya Astoetik. Nama Astoetik sendiri merupakan singkatan dari Auto Electric Stove for Batik, yang juga produk inovatif pertama mereka.

Aris juga bercerita sedikit tentang perjalanan dan rebranding Astoetik. Mulanya pada tahun 2013 Aris mulai melakukan riset dan membuat kompor batik listrik. Sehingga pada tahun 2014 ia mendirikan PT dengan nama lain terlebih dahulu yang kemudian resmi di-rebranding dengan nama CV. Astoetik Indonesia pada tahun 2019.

Baca juga: Kisah Batik Aromaterapi dari Madura, Berhasil Ekspor ke Amerika Serikat

Bahkan usut punya usut, pada saat awal-awal Aris merintis bisnis alat membatiknya ini, ia masih bekerja di BUMN. Bekerja sambil menjalankan bisnis ternyata tak bisa membuat Aris bisa memaksimalkan keduanya, sehingga ia harus memilih salah satu.

Setelah melihat adanya peluang yang semakin menjanjikan dari inovasinya tersebut, Aris memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya dan melanjutkan berbisnis. Ternyata, menurut Aris langkah yang ia ambil tersebut terbukti benar, bisnisnya justru semakin berkembang pesat.

“Justru saya sebenarnya awal merintis batik itu masih bekerja di salah satu BUMN ya. Tapi ketika saya bekerja dan berbisnis itu dua-duanya di sambi jadi nggak maksimal. Akhirnya saya fokus untuk di dunia bisnis dan alhamdulillah itu terbukti ya. Ketika saya resign, ternyata memang bisnisnya jadi lumayan scale up,” pungkasnya.

Baca juga: Para Pelaku Usaha Ini Membuat Inovasi Produk yang Unik dengan Batik

Inovasi Alat Membatik, Padukan Teknlogi dan Tradisi

Astoetik menjadi pelopor alat-alat canggih untuk industri batik yang tidak hanya diminati di Indonesia, tetapi juga mancanegara. Seiring waktu, Astoetik berkembang pesat dan kini menawarkan lebih dari 200 produk yang mencakup alat dan bahan untuk batik.

Astoetik menawarkan alat-alat membatik yang lebih canggih dan modern, menyediakan workshop dan pelatihan membatik, hingga menjual batik sesuai dengan pesanan. Intinya, semua hal yang berkaitan dengan industri batik bisa ditemui di Astoetik.

Menariknya, selain kompor batik listrik yang ikonik dan sudah terjual lebih dari 20.000 buah, ada salah satu produk lain yang juga menjadi unggulan mereka yaitu canting listrik portable yang praktis digunakan.

Bahkan, Aris mengklaim bahwa inovasi canting listriknya ini mungkin satu-satunya bukan hanya di Indonesia tapi juga di dunia.

Baca juga: Pemkab Serang Siapkan Sentra 12 Motif Batik Kabupaten Serang

"Jadi semuanya tentang batik ada di Astoetik, tentang batik. Teknologinya juga termasuk kami inovatif ya. Canting listrik ini baru kami inovasikan sekitar 2-3 tahun yang lalu. Mungkin ini satu-satunya di dunia. Praktis dan memudahkan siapa saja untuk membatik," ujar Aris dengan penuh antusiasme.

Selain itu, Astoetik juga memiliki mesin batik bernama SGD-4133 yang mampu mencanting secara otomatis menggunakan malam, tentunya untuk mempermudah proses produksi tanpa menghilangkan esensi batik sebagai seni tradisional.

“Ini harganya Rp 355 juta, mesin batik SGD-4133. Jadi mesin ini cukup dikasih gambar saja kemudian di-print. Disini nge-print-nya pakai malam, jadi dia nyanting sendiri pakai malam. Tinggal mewarnai saja. Tapi ini tetap dinamakan batik walaupun menggunakan mesin, karena prosesnya menggunakan malam,” katanya.

Baca juga: Sandiaga Uno Nilai Batik Gonggong Tanjungpinang Adaptif ke Nuansa Kekinian

Batik itu Proses

Saat ini, membatik tidak harus melulu sulit dan menggunakan alat tradisional. Warisan Indonesia ini juga bisa dipelajari dan dilestarikan dengan alat-alat yang canggih dan mudah digunakan.KOMPAS.com/ANAGATHA KILAN SASHIKIRANA Saat ini, membatik tidak harus melulu sulit dan menggunakan alat tradisional. Warisan Indonesia ini juga bisa dipelajari dan dilestarikan dengan alat-alat yang canggih dan mudah digunakan.

Sehubungan dengan ini, lebih lanjut Aris menekankan bahwa batik itu bukan sekadar motif, tetapi sebuah proses dengan nilai budaya tinggi. Sehingga ia ingin meluruskan pandangan salah kaprah tentang batik, terutama di kalangan generasi muda.

"Itu yang perlu ditekankan khususnya ke para pemuda, agar mereka tahu sebenarnya batik itu adalah proses. Proses yang perlu diketahui, effortnya luar biasa. Makanya effortnya itu yang harus dihargai," tegasnya.

Di tengah perkembangan era digital, Astoetik juga tidak mau ketinggalan. Mereka sedang mengembangkan aplikasi bernama SIIAP (Sistem Informasi Inventory dan Aplikasi Penjualan), yang memungkinkan pengrajin batik memasarkan produk mereka secara online.

"Aplikasi ini membantu siapa saja untuk melihat dan membeli produk kami secara mudah. Sekarang sudah ada 202 produk yang kami unggah, dan akan terus bertambah. Dengan aplikasi itu saya cukup mencari pengrajin sebanyak mungkin, tinggal ditampilkan di e-commerce itu. Orang-orang akan tinggal check out disitu," jelas Aris.

Baca juga: Rumah Batik Fractal Fasilitasi Pemberdayaan UMKM Batik

Aris juga mengaku ingin semakin banyak bekerja sama dengan pengrajin batik lokal untuk memasarkan karya mereka, menciptakan ekosistem yang saling mendukung antara teknologi dan tradisi.

Dengan inovasi yang konsisten, produk-produk Astoetik kini telah tersebar di seluruh provinsi di Indonesia hingga ke mancanegara seperti Malaysia dan Cina.

"Jadi ya salah satu acuan warga luar juga ke Astoetik karena ingin lihat alat batik yang lengkap. Mereka datang hanya untuk melihat kompor batik listrik kami, mereka penasaran, mereka beli dan dibawa ke negara mereka untuk mencoba. Artinya mereka sebenarnya penasaran,” ungkap Aris.

Ingin Meningkatkan Kesadaran Masyarakat

Kapasitas produksi dan penjualan dari Astoetik juga luar biasa. Aris mengatakan, dalam sebulan untuk kompor batik listriknya saja bisa terjual hingga 300 buah. Sementara produk di Astoetik terdapat sekitar 200 produk berbeda.

Baca juga: Lewat Photoshoot, Cara Helwa Branding Batik jadi Tak Kuno

Terkait pemasukan dari Astoetik juga fluktuatif menurut Aris. Rata-ratanya sekitar Rp 200 juta dalam sebulan. Namun, penjualan biasanya melonjak pada saat memasuki akhir tahun.

Di akhir pembicaraan, Aris berharap bahwa inovasi Astoetik dapat meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap batik. Mengedukasi masyarakat terhadap batik ternyata merupakan niat awal Aris untuk semakin mendorong minat masyarakat.

“Sebenarnya niat saya pertama edukasi. Ketika alatnya mudah digunakan, mereka akan tertarik belajar dan akhirnya mereka bikin kain batik sendiri. Karena kepuasannya akan beda, ketika kita beli batik dari pengrajin sama kita bikin sendiri, pasti beda. Jadi pada akhirnya ada kepekaan terhadap batik,” harap Aris.

Baca juga: Tips Jualan Daster Batik di TikTok, Bisa Dapat Omzet Selangit

Selain itu, Aris juga berkomitmen untuk mendukung keberlanjutan industri ini, termasuk dalam pengelolaan limbah batik.

"Harapan saya, khususnya karena saya sebagai supplier peralatan batik, ingin agar mereka juga lebih aware terhadap limbah batik. Kebetulan kami sedang mengembangkan alat pengolah limbah untuk membantu pengrajin menjaga lingkungan," tambahnya.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.


Terkini Lainnya

LPEI Salurkan Pembiayaan Rp 524 Miliar untuk Perkuat Ekspor Alat Kesehatan RI

LPEI Salurkan Pembiayaan Rp 524 Miliar untuk Perkuat Ekspor Alat Kesehatan RI

Program
25 Penyandang Disabilitas di Malang Raya Rajut Asa dengan Jalankan Bisnis

25 Penyandang Disabilitas di Malang Raya Rajut Asa dengan Jalankan Bisnis

Jagoan Lokal
Tinggalkan Gaji 40 Juta Per Bulan, Kini Doni Sukses Berbisnis Madu Berkat Pemasaran Daring

Tinggalkan Gaji 40 Juta Per Bulan, Kini Doni Sukses Berbisnis Madu Berkat Pemasaran Daring

Jagoan Lokal
Jatuh Bangun Bayu Rintis Bisnis, Hingga Tembus Pasar Ekspor Berkat Digitalisasi

Jatuh Bangun Bayu Rintis Bisnis, Hingga Tembus Pasar Ekspor Berkat Digitalisasi

Jagoan Lokal
Pesanan Pembuatan Parsel di Kota Malang Meningkat Selama Ramadhan

Pesanan Pembuatan Parsel di Kota Malang Meningkat Selama Ramadhan

Training
Kata Oma, Telur Gabus Olahan Ibu yang Kini Mendunia

Kata Oma, Telur Gabus Olahan Ibu yang Kini Mendunia

Jagoan Lokal
Kisah Dua Mantan Pengikut Kelompok Radikal yang Memilih Belajar Beternak Kambing

Kisah Dua Mantan Pengikut Kelompok Radikal yang Memilih Belajar Beternak Kambing

Jagoan Lokal
UKM Bisa Kelola Tambang, Kadin: Kalau Berhasil Manfaatnya Dirasakan Semua

UKM Bisa Kelola Tambang, Kadin: Kalau Berhasil Manfaatnya Dirasakan Semua

Program
Astra Dorong Perekonomian NTT Lewat Pemberdayaan UMKM Kopi dan Kakao

Astra Dorong Perekonomian NTT Lewat Pemberdayaan UMKM Kopi dan Kakao

Program
Si Emas Hijau dari Desa Loha, Kecamatan Macang Pacar, Kabupaten Manggarai Barat

Si Emas Hijau dari Desa Loha, Kecamatan Macang Pacar, Kabupaten Manggarai Barat

Jagoan Lokal
Menteri Ekraf Tinjau 300 Emak-Emak di Kota Malang Belajar E-Commerce

Menteri Ekraf Tinjau 300 Emak-Emak di Kota Malang Belajar E-Commerce

Program
Kembangkan Potensi Ekonomi NTT, YDBA Beri Pendampingan bagi Petani Vanili dan Mete

Kembangkan Potensi Ekonomi NTT, YDBA Beri Pendampingan bagi Petani Vanili dan Mete

Program
BNI Jejak Kopi Khatulistiwa Dukung Kopi Garut Swasembada Pangan dan Go Global

BNI Jejak Kopi Khatulistiwa Dukung Kopi Garut Swasembada Pangan dan Go Global

Program
TikTok Latih 600 UMKM Indonesia untuk Hasilkan Konten menarik

TikTok Latih 600 UMKM Indonesia untuk Hasilkan Konten menarik

Program
DPMA IPB Gali Potensi Ekonomi di Desa Sejahtera Astra Tegal dan Pemalang

DPMA IPB Gali Potensi Ekonomi di Desa Sejahtera Astra Tegal dan Pemalang

Program
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Terpopuler

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau