Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Cerita Hendrik Jual Pakaian Anak di Little Bangkok, Omzet hingga Belasan Juta Sehari

Kompas.com, 19 Maret 2024, 13:09 WIB
Ester Claudia Pricilia,
Bestari Kumala Dewi

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Bisnis fesyen tampaknya menjadi salah satu bisnis yang tak pernah mati dan justru akan terus berkembang.

Apalagi, semua orang dari bayi hingga lanjut usia memang membutuhkan pakaian.

Menggabungkan antara kebutuhan pakaian dengan tren fesyen, menjadi peluang usaha yang menghasilkan cuan.

Hendrik, salah satu pelaku usaha pakaian yang memanfaatkan peluang tersebut, dengan merintis usaha kids clothing bernama Grow Up sejak 2014.

Baca juga: Kenali Bisnis Sustainable Fashion yang Punya Peluang Jangka Panjang

Asal Nama Grow Up

Hendrik mengatakan, bisnis kids clothing sama menjanjikannya dengan fesyen orang dewasa. Dikarenakan, pertumbuhan dan perkembangan anak-anak umur 3 – 10 tahun sangat cepat, sehingga ukuran pakaian juga akan terus berganti.

Hal itulah yang membuat Hendrik memilih nama Grow Up, yang berarti bertumbuh -- untuk nama usahanya.

“Kita pilih nama Grow Up, karena anak-anak kecil itu cepat bertumbuh dan berkembang. Selain itu, dengan nama Grow Up, kita berharap agar usahanya juga terus berkembang,” kata Hendrik saat ditemui Kompas.com, Senin (18/03/2024).

Pakaian anak menjadi pilihan Hendrik, karena menurutnya di Indonesia masih jarang pelaku usaha yang menjual baju-baju anak impor. Jika ada pun, sedikit yang menggunakan bahan dan kualitas yang bagus.

“Bahan pakaian untuk anak-anak tidak boleh asal-asalan, karena kulit mereka masih sensitif. Biasanya lokal bikin pakai bahan yang kurang bagus. Jadi saya hadirkan yang impornya dengan kualitas dan harga yang bagus,” paparnya.

Dari Pakaian hingga Aksesoris

Ada berbagai produk untuk anak-anak yang dijual Grow Up, mulai dari kaus, celana, sweater, jaket, dress, hingga aksesoris anak-anak seperti jam tangan dan kacamata.

Hendrik mengungkap, semua produk Grow Up diimpor langsung dari China dan Thailand.

Produk-produk itu dibanderol mulai dari harga Rp 5 ribu hingga yang termahal Rp 200 ribu.

Dengan harga terjangkau tersebut, konsumen bisa mendapatkan baju anak-anak dengan kualitas impor, dan bisa dibeli secara grosir maupun eceran.

“Saya hadirkan baju-baju impor selain karena kualitasnya, ya agar orang-orang yang mau beli baju anak enggak harus ke luar negeri. Di sini bisa pilih sendiri, langsung liat bahannya, dan bisa dicoba. Kalau (beli) online kan enggak tahu,” ujar Hendrik

Hal itu juga yang menjadi alasan Hendrik hanya memasarkan produknya secara offline, yaitu di Tanah Abang, Jakarta Pusat, tanpa menggunakan e-commerce seperti kebanyakan bisnis fesyen lainnya.

Halaman:

Terkini Lainnya
Bangun Ekonomi Digital Asia, Cyberport Hong Kong Gandeng Sejumlah Institusi Indonesia
Bangun Ekonomi Digital Asia, Cyberport Hong Kong Gandeng Sejumlah Institusi Indonesia
Program
Menghindari Salah Arah Alokasi Dana Desa untuk KDMP
Menghindari Salah Arah Alokasi Dana Desa untuk KDMP
Program
'TKTD' untuk Wirausaha Disabilitas
"TKTD" untuk Wirausaha Disabilitas
Program
Dapat Bantuan Alat Modern, Perajin Patung dan Miniatur di Kota Malang Kebanjiran Pesanan
Dapat Bantuan Alat Modern, Perajin Patung dan Miniatur di Kota Malang Kebanjiran Pesanan
Program
LPDB Salurkan Pembiayaan ke KDKMP Sidomulyo Jember untuk Dukung Ekspor Kopi
LPDB Salurkan Pembiayaan ke KDKMP Sidomulyo Jember untuk Dukung Ekspor Kopi
Program
Kisah Para Penjual Makanan di Kawasan Industri Nikel Weda, Sehari Bisa Raup Omzet Rp 10 Juta
Kisah Para Penjual Makanan di Kawasan Industri Nikel Weda, Sehari Bisa Raup Omzet Rp 10 Juta
Jagoan Lokal
Penyaluran Kredit di 7 Wilayah Jatim Tumbuh 8,41 Persen, Malang Raya Didominasi Pelaku UMKM
Penyaluran Kredit di 7 Wilayah Jatim Tumbuh 8,41 Persen, Malang Raya Didominasi Pelaku UMKM
Training
Kementerian UMKM Fasilitasi Legalitas dan Pembiayaan kepada 1.000 Usaha Mikro di NTT
Kementerian UMKM Fasilitasi Legalitas dan Pembiayaan kepada 1.000 Usaha Mikro di NTT
Program
Pertamina Boyong 45 UMKM Binaan ke Trade Expo Indonesia 2025
Pertamina Boyong 45 UMKM Binaan ke Trade Expo Indonesia 2025
Program
Penjualan Stagnan, Puluhan UMKM di Kota Malang Dibekali Jurus Pemasaran Digital
Penjualan Stagnan, Puluhan UMKM di Kota Malang Dibekali Jurus Pemasaran Digital
Training
Tanpa Dirigen, Orkestra UMKM Hanya Riuh Tanpa Irama
Tanpa Dirigen, Orkestra UMKM Hanya Riuh Tanpa Irama
Program
Pedagang Mengeluh Soal QRIS, Diskopindag Kota Malang Akui Tak Bisa Paksa
Pedagang Mengeluh Soal QRIS, Diskopindag Kota Malang Akui Tak Bisa Paksa
Program
Indonesia Eximbank Luncurkan Buku Strategi Ekspor Jawa Tengah
Indonesia Eximbank Luncurkan Buku Strategi Ekspor Jawa Tengah
Program
Produk Sambel Uleg Hingga Pot Tanaman dari Jawa Timur Tembus Pasar Global
Produk Sambel Uleg Hingga Pot Tanaman dari Jawa Timur Tembus Pasar Global
Program
BRI Rampungkan Pelatihan bagi Pengelola 100 Desa BRILiaN
BRI Rampungkan Pelatihan bagi Pengelola 100 Desa BRILiaN
Program
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Terpopuler
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau