Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Perjuangan Erna Rintis Bisnis Kerajinan Kain Jahit, Sempat Hancur karena Gempa Yogyakarta

Kompas.com, 14 Oktober 2024, 17:00 WIB
Anagatha Kilan Sashikirana,
Wahyu Adityo Prodjo

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Erna Zurnimawati (51), founder Nena Collection bercerita perjalanannya berbisnis kerajinan kain jahit mulai dari baju, dekorasi rumah, kerajinan tas, dompet, hingga aksesoris.sejak tahun 2000.

Erna telah mengalami pasang surut bisnis, tetapi kini ia merasakan buah manis dari hasil jerih payahnya. Nena Collection sukses mempekerjakan ibu-ibu rumah tangga hingga mengekspor ke Jepang kerajinan kain jahit.

Bantul, Yogjakarta menjadi saksi perjuangannya membangun Nena Collection. Pertama kali usaha ini dibentuk karena ada tetangga Erna yang pandai menjahit. Meskipun pada saat itu Erna masih bekerja di tempat lain, tetapi ia melihat ada potensi dari hobi menjahit para tetangganya ini.

Baca juga: Cerita Syarif Bisnis Kerajinan Kerang dan Menjadi Agregator Ekspor

Awal Mula Nena Collection

Menurut Erna, menjahit sarung bantal adalah langkah awal yang mudah untuk dijadikan peluang bisnis, karena sarung bantal hanya berbetntuk kotak. Akhirnya, Erna memutuskan untuk mengajak tetangganya untuk bekerja bersama berbisnis produk kerajinan kain, dimulai dari sarung bantal dengan bordiran.

"Kebetulan tetangga pintar bordir, tapi selama ini hanya mengerjakan itu-itu saja. Terus kami bergabung untuk produksi bersama-bareng yang mudah saja seperti sarung bantal, tetangga-tetangga itulah yang jadi tenaga kerja. Waktu itu saya masih bekerja, jadi bisnis jahitan ini kerja sambilan,” ujar Erna.

Setelah itu, Erna mulai memasukkan produk-produknya ke toko suvenir. Tak disangka-sangka, Erna mengaku di toko suvenir tersebut ternyata produknya laris manis. Berbagai permintaan untuk jenis produk lain seperti gorden, ada tutup kulkas, tudung saji dan lain sebagainya kemudian mulai berdatangan.

Baca juga: Ini Alasan Mengapa Kamu Perlu Mencoba Bisnis Kerajinan, Hobi Jadi Cuan

Namun, pada awal berkembangnya bisnis ini justru ada sedikit kendala. Erna mengatakan awal-awal kondisinya masih kacau karena para ibu rumah tangga ini masih belum terbiasa menyesuaikan kegiatan mereka.

Seperti realita ibu-ibu rumah tangga pada umumnya yang memiliki banyak agenda, ada saja pekerja yang menngajukan libur karena ingin arisan, kondangan, atau ada hajatan. Sementara di sisi lain, pesanan yang masuk membutuhkan tenaga penjahit untuk dikerjakan.

"Pertama kacau ada pesanan banyak, tahu-tahu ibu-ibunya pada libur. Tapi seiring berjalannya waktu, dengan saya banyak menerima pendampingan pola pikir-nya mulai diubah. Jadi mindset-nya sekarang justru memberdayakan mereka, diperbanyak orangnya yang diajak. Jadi pada saat ada pesanan banyak, yang bergerak itu juga banyak,” cerita Erna.

Memasuki tahun 2002, Nena Collection mulai berkembang dan banyak orderan yang masuk. Melalui permintaan toko, mereka membuat model-model baru. Jadi sampai hari ini produk yang di supply bukan berdasarkan penawaran Nena Collection, tapi berdasarkan permintaan toko yang bersangkutan.

Produk kerajinan kain Nena CollectionKompas.com - Anagatha Kilan Sashikirana Produk kerajinan kain Nena Collection

Baca juga: Cerita Heiriyah Merintis Bisnis Kerajinan Trois Art, Bermula dari Hobi

Sempat Hancur Karena Gempa Yogyakarta 2006

Tak ada yang tahu kapan datangnya musibah. Begitupun Erna. Tahun 2006 mungkin menjadi trauma besar bagi masyarakat Yogyakarta karena gempa bumi yang berpusat di Bantul. Banyak korban jiwa berjatuhan dan meruntuhkan bangunan sekitar. Kehancuran besar terjadi pada tahun tersebut.

Erna yang juga berasal dari Bantul tentu terdampak dengan peristiwa ini. Rumahnya habis rata dengan tanah, dana yang ia miliki terpaksa dikuras habis-habisan untuk membangun rumah. Erna kembali memulai semuanya dari titik nol.

Meskipun demikian, harapan masih terlihat begitu Erna menyadari bahwa ia tidak sendiri membangun semua ini dari awal. Syukurnya, Erna memiliki karyawan yang setia. Meskipun rumah mereka pun ambruk, namun tak butuh waktu lama mereka berusaha mengembalikan keadaan.

Dalam waktu dua minggu saja, Nena Collection kembali mulai berproduksi. Dengan keterbatasan modal dan mengumpulkan sisa-sisa kain yang ada, mereka mulai membuat produk jahitan baru yaitu perca.

"Saya mulai dari nol lagi. Kebetulan karyawannya itu setia semua jadi tim kami masih ada. Dari sisa-sisa kain perca yang ada, kami justru menciptakan produk-produk baru dengan bahan-bahan sisa itu. Yang penting bisa bergerak lagi," paparnya.

Baca juga: Bosan Kerja di Jakarta, Astaria Rintis Bisnis Kerajinan Eceng Gondok

Halaman:

Terkini Lainnya
Dapat Bantuan Alat Modern, Perajin Patung dan Miniatur di Kota Malang Kebanjiran Pesanan
Dapat Bantuan Alat Modern, Perajin Patung dan Miniatur di Kota Malang Kebanjiran Pesanan
Program
LPDB Salurkan Pembiayaan ke KDKMP Sidomulyo Jember untuk Dukung Ekspor Kopi
LPDB Salurkan Pembiayaan ke KDKMP Sidomulyo Jember untuk Dukung Ekspor Kopi
Program
Kisah Para Penjual Makanan di Kawasan Industri Nikel Weda, Sehari Bisa Raup Omzet Rp 10 Juta
Kisah Para Penjual Makanan di Kawasan Industri Nikel Weda, Sehari Bisa Raup Omzet Rp 10 Juta
Jagoan Lokal
Penyaluran Kredit di 7 Wilayah Jatim Tumbuh 8,41 Persen, Malang Raya Didominasi Pelaku UMKM
Penyaluran Kredit di 7 Wilayah Jatim Tumbuh 8,41 Persen, Malang Raya Didominasi Pelaku UMKM
Training
Kementerian UMKM Fasilitasi Legalitas dan Pembiayaan kepada 1.000 Usaha Mikro di NTT
Kementerian UMKM Fasilitasi Legalitas dan Pembiayaan kepada 1.000 Usaha Mikro di NTT
Program
Pertamina Boyong 45 UMKM Binaan ke Trade Expo Indonesia 2025
Pertamina Boyong 45 UMKM Binaan ke Trade Expo Indonesia 2025
Program
Penjualan Stagnan, Puluhan UMKM di Kota Malang Dibekali Jurus Pemasaran Digital
Penjualan Stagnan, Puluhan UMKM di Kota Malang Dibekali Jurus Pemasaran Digital
Training
Tanpa Dirigen, Orkestra UMKM Hanya Riuh Tanpa Irama
Tanpa Dirigen, Orkestra UMKM Hanya Riuh Tanpa Irama
Program
Pedagang Mengeluh Soal QRIS, Diskopindag Kota Malang Akui Tak Bisa Paksa
Pedagang Mengeluh Soal QRIS, Diskopindag Kota Malang Akui Tak Bisa Paksa
Program
Indonesia Eximbank Luncurkan Buku Strategi Ekspor Jawa Tengah
Indonesia Eximbank Luncurkan Buku Strategi Ekspor Jawa Tengah
Program
Produk Sambel Uleg Hingga Pot Tanaman dari Jawa Timur Tembus Pasar Global
Produk Sambel Uleg Hingga Pot Tanaman dari Jawa Timur Tembus Pasar Global
Program
BRI Rampungkan Pelatihan bagi Pengelola 100 Desa BRILiaN
BRI Rampungkan Pelatihan bagi Pengelola 100 Desa BRILiaN
Program
BRI Peduli Bantu UMKM Raih Sertifikasi Halal
BRI Peduli Bantu UMKM Raih Sertifikasi Halal
Program
Jelang Perayaan Hari Kemerdekaan RI, Perajin Lampion di Kota Malang Kebanjiran Order
Jelang Perayaan Hari Kemerdekaan RI, Perajin Lampion di Kota Malang Kebanjiran Order
Jagoan Lokal
Indonesia Eximbank Salurkan Fasilitas Pembiayaan dan Penjaminan Ekspor ke Petro Oxo
Indonesia Eximbank Salurkan Fasilitas Pembiayaan dan Penjaminan Ekspor ke Petro Oxo
Program
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Terpopuler
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau