Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Bisnis Olahan Kurma Rakuma, Berawal Ingin Menghadirkan Makanan Sehat Saat Pandemi

Kompas.com, 14 Desember 2023, 18:39 WIB
Fransisca Mega Rosa Mustika,
Bestari Kumala Dewi

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Kurma merupakan buah yang kaya nutrisi dan memiliki sejarah panjang sebagai makanan pokok di berbagai budaya. Selain menyimpan segudang manfaat, kurma memiliki keunikan rasa di balik setiap gigitannya.

Buah yang berasal dari pohon kurma ini dikenal sebagai sumber energi alami yang tinggi, kaya akan serat, serta berbagai vitamin dan mineral yang mendukung kesehatan tubuh.

Terinspirasi dari hal itu, seorang pria asal Yogyakarta membuat inovasi dari buah kurma, sehingga menjadi produk yang berbeda dari olahan kurma pada umumnya.

Dia adalah Muhammad Abrar, CEO dan founder dari Rakuma atau rajanya olahan kurma. Olahan kurma yang dikreasikan oleh Abrar berupa selai kurma, susu kurma, cookies kurma, cokelat kurma, sambal kurma, hingga kopi biji kurma.

Baca juga: Cerita Budijanto Merintis Semaya Clay, Rajin Ikut Bazar di Dalam dan Luar Negeri

Kenapa Buah Kurma?

Kata Abrar, buah kurma adalah salah satu jenis buah superfood yang kaya akan manfaat bagi tubuh, dan menurutnya, peluang menjual produk olahan kurma terbilang sangat menjanjikan, karena masih jarang yang punya usaha seperti ini.

“Yang namanya superfood, berarti dia punya kelebihan dibandingkan buah lainnya. Walau kurma memiliki kadar karbohidrat yang tinggi, kadar glikemiknya rendah, sehingga ini bagus dikonsumsi untuk penderita diabetes,” ujar Abrar kepada Kompas.com.

Abrar sebenarnya juga memiliki latar belakang sebagai seorang konsultan gizi, maka dengan membangun usaha olahan kurma ini, dia bisa memberikan rekomendasi dan manfaat buah kurma dengan cara penyajian yang beragam.

Baca juga: Jokowi Sebut BRILIANPRENEUR 2023 Jadi Ajang Pertemuan Buyers dan Pelaku UMKM

Menghasilkan Makanan Sehat Saat Pandemi

Pandemi Covid-19 membuat Abrar yang seorang ahli gizi tergerak untuk menghasilkan makanan sehat.

“Usaha ini kami rintis sejak mas pandemi Covid-19, di mana saat itu banyak masyarakat yang mencari kebutuhan makanan sehat untuk meningkatkan imunitas tubuh,” kata Abrar.

Sejak awal hingga saat ini, Abrar masih mengolah produk Rakuma di rumah kediamannya di Yogyakarta.

“Kami memang masih home industry, skala kami saat ini masih belum terlalu besar, tapi kami sudah mencoba penetrasi untuk melihat marketnya,” sambungnya.

Impor Buah Kurma dari Arab

Untuk memproduksi produk-produk Rakuma, Abrar mengimpor kurma langsung dari Arab.

“Tentu kami memperoleh kurma dari Arab. Sebab, setahu kami di Indonesia belum dapat menghasilkan buah kurma sendiri,” sebutnya.

Meski harus mengimpor buah kurma dari Arab, Abrar mengaku memulai bisnis ini dengan modal yang relatif kecil.

“Kalau untuk awal, kami pasti ada tahapan research and development-nya dulu. Kami mulainya juga dengan modal yang sangat minim dulu sih,” ungkap Abrar.

Baca juga: Di Tangan Muhamad Nuhin, Biji Kurma Berhasil Diolah Jadi Minuman Kesehatan

Halaman:

Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Terpopuler
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau